-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Paulinus Dugis, Pemuda Manggarai yang Membangun Jejaring Laba-Laba di Tanah Rantau

Senin, 17 Februari 2020 | 16:48 WIB Last Updated 2020-02-17T09:57:09Z
Paulinus Dugis, Pemuda Manggarai yang Membangun Jejaring Laba-Kaba di Tanah Rantau
Paulinus Dugis, Pemuda Manggarai

Paul berasal dari sebuah kampung eksotik. Namanya Kampung Masing, di Kec. Kuwus, Kab. Manggarai Barat. Kampung itu terletak dekat "air terjun "Sunsa Horong".

Waktu kecil, di kampung itu, ia dipanggil Linus. Ia sekolah di SD St. Fransiskus Xaverius, Wetik, 3 tahun di atas penulis. SD ini walaupun terletak di lembah yang diapit oleh pegunungan, tetapi justru memantik mimpi anak-anak "latung kora" untuk menaklukan puncak pegunungan dan menempatkan Terang di atas puncak gunung itu, sehingga cahayanya bersinar. Seperti tertulis dalam kitab Suci "Hendaklah dianmu bernyala-nyala menerangi sesama".

Untuk sedikit menyombongkan diri, salah satu lulusan dari SD wetik adalah wakil Redaksi Kompas, Pak Rikar Bagun yang sekarang menjadi salah satu anggota penasihat Presiden Jokowi. Saya tidak menyebut yang lainnya. Haha....

Setelah tamat SD, Paulinus merantau ke Kalimantan Timur dan membentuk intelektualnya dalam konteks Kalimantan Timur. Meskipun demikian, filosofi hidup sebagai orang Manggarai mengendap dan membentuk kawah api energi dalam setiap kiprahnya.

"Lalong Tana"

Lalong atau ayam jantan adalah simbol orang Manggarai. Setiap orang Manggarai yang pergi keluar dari daerahnya ia diberi bekal moral dan kekuatan dalam upacara wu'at wai. Ayam putih sebagai kurban dan lambang sebuat niat. Ayam jantan memberi makna dalam kehidupan orang Manggarai bahwa hidup ini adalah pertarungan. Warna putih menunjukan kepolosan, ketulusan dan kesucian.

Orang-orang yang merantau diibaratkan para pencari kebijaksanaan dan mengisi kehidupan mereka baik fisiologis maupun spiritualitasnya. Maka posisi yang paling tepat adalah membiarkan hati polos dan tulus serta murni untuk diisi oleh berbagai pengalaman, relasi dan sebagainya di tanah rantau.

Ketika sang perantau kembali ke Manggarai, membawa kisah gembira, kesuksesan hidup, ia diterima oleh keluarga dengan acara syukur. Dalam acara ini, penggambarannya bukan lagi ayam jantan berbulu putih, tetapi ayam berbulu warna warni yang bertaji atau dalam bahasa Manggarainya "Lalong Rombeng".

Usia Kraeng Paul masih muda, tetapi penulis menggarisbawahi kiparahnya di Kalimantan Timur. Berasal dari keluarga sederhana, kemudian menghayati filosofi "Jejaring laba-laba" dari orang Manggarai, Kraeng Paul mampu membangun relasi yang bagus dengan beberapa tokoh penting di Kaltim.

Sebagai pengacara, ia terlibat dalam berbagai advokasi kepada mereka yang lemah dan tak berdaya menghadapi proses hukum yang kadang kala nakal dan tidak adil. Di beberapa kesempatan saya mendengar sharing dari Kraeng Paulinus dalam perjuangannya dan mimpinya untuk memperjuangkan hak politik dan hak-hak lainnya baik bagi masyarakat Dayak maupun untuk orang-orang lain yang mengharapkan bantuannya. Ia pun membangun kantor advokasinya sendiri.

Paulinus adalah seorang pemuda sekaligus pengacara. Anak kampung yang berjiwa "lalong tana". Pejantan yang berkokok di mana saja ia pergi. Ia mencakar kakinya di tanah membiarkan dirinya bersentuhan dengan pengalaman-pengalaman hidup yang makin membesarkannya.

Membangun Jejaring

Banyak orang mengeluh, memimpin orang Manggarai di tanah rantau itu sulit. Orang Manggarai juga sulit bersatu, keluh mereka. Antara lain misalnya, dengan adanya pemisahan 3 kabupaten di Manggarai maka orang Manggarai di tanah rantau membentuk paguyuban berdasarkan kabupaten. Dalam paguyuban kabupaten ada paguyuban antara kecamatan, antara paroki, antara trah dan sebagainya.

Saya sendiri tidak kaget. Sebab itulah model jejaring laba-laba yang berbentuk parabola. Orang Manggarai di perantauan persis seperti jejaring laba-laba ini. Pusat persatuan orang Manggarai bukanlah politik, tetapi kulturnya. 

Kultur seperti pesta sekola, kumpul waktu susah, dan sebagainya. Tetapi jika temanya politik, semua menjadi lain. Tidak ada soliditas dan persatuan yang militan. Semua kepala memiliki refrensi dan perspektif tersendiri mengenai politik.

Di tanah Kalimantan Timur, jumlah orang Manggarai puluhan ribu, tetapi sampai saat ini belum ada orang Manggarai yang terlibat dalam pengambilan keputusan publik yang mempengaruhi dan menentukan hak-hak mereka.

Kegelisahan penulis ialah sistem politik di Indonesia masih subjektif, belum obyektif. Semangat primordialis masih kental dan kuat sehingga mempengaruhi pada perlakuan dan kebijakan yang berbeda. Begitu juga sangat berpengaruh pada orang NTT.

Orang NTT seringkali menjadi "orang asing di negeri sendiri". Hak-hak sebagai tenaga kerja seringkali diabaikan. Padahal tenaga merekalah yang membesarkan perusahan-perusahan perkebunan Sawit. Orang NTT diasosiasikan dengan Pekerja Sawit, tapi sawit kadang memperlakukan orang NTT tanpa hormat. Cerita orang NTT di PHK lalu kemudian terlantar seringkali terjadi. Tentu saja pahit.

Perlu Diorbit

Dalam konteks persoalan seperti itu dan melihat kiprahnya, Kraeng Paulinus perlu didukung. Saya tidak sedang mempromosi krabat sendiri tetapi lebih tepat menyodorkan tokoh muda di tengah silang sengkurat persoalan orang NTT, khususnya orang Manggarai di Kaltim.

Baru-baru ini ia dilantik menjadi ketua IKAMBA. Ia menjadi jembatan penghubung antara masyarakat Manggarai Barat dengan Pemkot dan membangun kerjasama. Ia juga mempromosikan budaya dan filosofi orang Manggarai. Sebab jati diri tidak bisa disangkal.

Namun kekayaan kultural perlu menjadi sumbangan bagi pembangunan suatu daerah. Kehadiran orang Manggarai dan kebudayaannya mesti memberi warna dan kontribusi untuk Bumi Etam agar semakin maju.

Selain itu, untuk internal orang Manggarai, bentuk solidaritas seperti itulah yang perlu. Kecerdasan membangun jejaring karena identitas orang Manggarai adalah Jaringan. Jaring laba-laba. Dari kebun sampai rumah semua mengikuti model jejaring ini. Jejaring dalam berbagai segi kehidupan, ekonomi, politik dan sebagainya, tentu jauh berpengaruh bagi para "ayam jantan perantau".

Sebagai pemuda dengan kemampuan membangun jejaring laba-laba, Kraeng Paulinus perlu dukungan lebih kuat lagi untuk memperjuangkan hak-hak sesamanya di daerah kaltim agar ikut menentu arah pembangunan di daerah. Sebab kontribusi kekayaan budaya, pikiran dan cara kerja membangun sebuah daerah semakin maju.

Orang lain melihat potensi orang NTT, tetapi mereka sendiri menguburkannya. Sekarang belajarlah seperti "ayam jantan" yang berkokok di manapun ia pergi. Belajarlah dari jaring laba-laba, filsafat leluhur untuk mampu hidup bersama dan berkontribusi bagi daerah Kaltim.

Kraeng Paulinus sudah mulai menenun jejaring laba-laba untuk orang Manggarai di Kaltim. Ia seorang lawer muda, pengurus partai Nasdem dan sekarang ketua IKAMBA. Sesuatu yang baik harus di dukung!

Oleh: Pater Tarsy Asmat, MSF
×
Berita Terbaru Update