-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Persoalan KDRT di Tengah Kekayaan Spiritualitas Marial

Kamis, 20 Februari 2020 | 05:56 WIB Last Updated 2020-04-01T06:42:03Z
Persoalan KDRT di Tengah Kekayaan Spiritualitas Marial
Gambar instimewah (Ilustrasi; liputan6)

“Pasangan suami-istri tidak akan pernah bahagia bila keduanya tidak mampu mengubah diri masing-masing dengan bercermin pada Cermin Sejati” (Nasarius Fidin)

     Konflik rumah tangga selalu aktual terjadi. Banyak faktor penyebab terjadinya keretakan relasi cinta dalam kehidupan keluarga. Menyadari hal tersebut, penulis coba mengaitkannya dengan kekayaan spiritualitas Marial yang ditulis oleh St. Louis Marie Grignion De Montfort. 

Sebagai sumbangannya, pasangan suami-istri (pasutri) diajak untuk belajar/bercermin pada Keluarga Kudus Nasaret. Harapannya, Pasutri semakin mewujudkan makna cinta dan kesetiaan dalam hubungan keluarga yang berbuah pada kebahagiaan sejati. 

Untuk membicarakan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) tersebut, penulis memulainya dengan pembahasan tentang Maria dalam tata dan rencana keselamatan Allah.

Gambaran tentang Maria selalu memunculkan pelbagai polemik baik di kalangan umat Katolik sendiri maupun saudara-saudari yang tidak seiman. 

Pertanyaan-pertanyaan yang selalu terungkap yakni siapakah Maria dalam rencana dan tata keselamatan Allah? Bagaimana realitas persoalan KDRT di tengah kekayaan spiritualitas Marial? Bagaimana relevansinya dalam romantika kehidupan keluarga?

 Dalam buku Bakti sejati yang ditulis oleh St. Montfort dikatakan Perawan suci Maria sangat tidak dikenal. Oleh karena kesederhanaan, kebijaksanaan dan kerendahan hatinya, dia nampak tersembunyi bagi kebanyakan orang. 

Pada zamannya, mata batin orang-orang tidak mampu menatap pesona keindahannya. Sebab gaya hidupnya nampak biasa-biasa saja. Tidak ada yang luar biasa. 

Gaya hidupnya yang biasa saja ini bagaikan bingkai tua yang tidak memikat hati. Namun, sesungguhnya kualitas dirinya memancar ke setiap pelosok dunia, meskipun tersembunyi bagi orang-orang yang memiliki mata tetapi tidak mampu melihatnya.

Tatkala manusia mengenal Maria, manusia tersebut sedang mengenal Allah. Maria merupakan bagian dari rencana dan karya keselamatan Allah. 

Dia dihujani berkat berlimpah. Segala keindahan, keelokan, kualitas hidup, dan segala rahmat, diberikan kepadanya. Dan Roh Kudus pun bekerja sama dengan dirinya dalam rencana keselamatan Allah. 

Hal ini terungkap nyata dalam kata-kata indah dan perwujudannya, “Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku (Bdk. Luk 1: 49). Namun hati semua orang sangat tertutup untuk melihat hal-hal besar tersebut dalam dirinya.

Maria merupakan manusia biasa yang tidak berbeda jauh dengan manusia-manusia lainnya. Namun dia sangat istimewah di mata Allah. 

Dia merupakan karya ciptaan Allah yang paling unggul dari semua mahluk. Melalui dia, Allah mewujudkan karya terindah-Nya. Allah mengutus Sang Emanuel ke dunia melalui dia. 

Sungguh, dia sangat pantas untuk mengandung Sang Putra sesuai dengan jawaban ya-nya, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataan-Mu (Luk 1:38)”.

Di mata manusia, perwujudan karya Allah melalui Maria ini sangat tidak mungkin. Cara berpikir manusia sangat berbeda jauh dengan cara berpikir Allah sendiri. 

Manusia berpikir dari keterbatasannya. Sedangkan Allah berpikir dari ke-Allahan-Nya. Sehingga apa yang tidak mungkin bagi manusia, sangat mungkin bagi Allah. 

Cara Kerja Allah ini sungguh mengagumkan dan sulit dipahami secara logika. Inilah cara Allah membuktikan kemuliaan-Nya yang tak terhingga. Allah mewujudkan karya keselamatan dan kemuliaan-Nya dalam diri orang kecil dan sederhana. 

Dalam buku Bakti Sejati juga dikatakan melalui Maria penyelamatan dunia telah mulai, melalui Maria pula karya ini harus diselesaikan (BS no. 49). 

Maria merupakan karya seni terindah dan memesona dari Allah. Oleh karena pribadinya yang sangat rendah hati dan bijaksana tersebut, dia dipakai Allah untuk mewujudkan rencana dan kehendak-Nya. 

Dia mengandung Yesus yang disebut Mesias. Bukan hanya mengandung, melainkan dia melahirkan, memelihara dan membesarkannya dengan kasih-setia. 

Dia memiliki ketotalitasan dalam cintakasih dan kesetiaannya kepada putra-Nya. Kasih setia dan ketotalitasannya terwujud hingga di bawah kayu salib tatkala Yesus menyerahkan Yohanes yang merupakan keterwakilan umat manusia, “ibu ini anakmu”. Dan Yesus juga menyerahkan ibu-Nya kepada Yohanes, “inilah ibu-mu” (Bdk. Yoh 19: 26-27).

Konflik KDRT Jaman Now

Sesuatu yang sangat ironi; Gereja katolik memiliki kekayaan Spiritualitas tetapi justru di tengah kekayaan nilai-nilai rohani tersbut terjadi persoalan kekerasan dalam rumah tangga. 

Seperti diberitakan di pelbagai media sosial, masalah KDRT bukan masalah sederhana. Namun realitas persoalan ini disepelekan para suami dan istri sehingga berujung pada perceraian.

Konflik KDRT terungkap dalam bentuk kekerasan fisik, mental, seksual, sosial dan kultural. Kekerasan fisik terjadi seperti tindakan memukul, mutilasi, pembunuhan dan sebagainya. 

Kekerasan sosial terungkap ketika suami membatasi relasi dan komunikasi istrinya dalam aktualisasi dan ekspresi diri di lingkungan sosial. 

Seperti terungkap dalam buku yang berjudul Ketertindasan Perempuan Dalam Tradisi Kawin Anom: Subaltern Perempuan Pada Suku Banjar Dalam Perspektif Poskolonial, yang ditulis Dr. Rosramadhana Nasution, bahwa praktek penindasan terhadap perempuan terungkap tatkala perempuan tersebut tidak diberi hak dan ruang untuk berbicara dan memeroleh kebebasan melakukan eksplorasi diri. 

Pengekangan terhadap perempuan (istri) dipengaruhi kecemburuan sosial dan system budaya patriarki.

Kekerasan psikologis dapat melukai mental salah satu pihak dalam relasi pasutri. Salah satu pihak, misalnya suami mengancam, mengeluarkan kata kasar, menghina dan sebagainya dapat berdampak negatif terhadap keadaan psikis sang istri. 

Selain itu, kekerasan seksual rentan terjadi dalam rumah tangga. Bahwa, suami melakukan hubungan intim tanpa pesetujuan istrinya. 

Pemaksaan tersebut merupakan kekerasan seksual yang tidak diinginkan sang istri. Pemaksaan tidak menimbulkan gairah dan orgasme yang membahagiakan keduanya. Persoalannya, mengapa pasutri sering mengalami KDRT?

Banyak faktor terjadinya KDRT  seperti masalah psikologis, keadaan ekonomi, pendidikan SDM yang rendah, kecemburuan sosial, romantika yang hambar dan hampa, kekerasan seksual, selingkuh, dan kemandulan dalam keturunan. 

Cara pandang dan kesadaran sempit pasutri mengenai situasi dan kondisi keluarga juga menjadi penyebab utama keretakan relasi mesra dalam keluarga. 

Keterbatasan cara berpikir dan minimnya kesadaran pasutri ini menjadi budaya negatif yang memicu persoalan di atas persoalan dalam hubungan keluarga. 

Dampaknya sangat jelas yakni adanya sikap inklusif, ego, arogan,  kekerasan, diskriminasi, kebencian, ketidaksetiaan, dan perceraian. 

Bercermin Pada Keluarga Kudus Nazaret

Bercermin!!! Kata kerja bercermin memiliki makna melihat cermin. Melihat cermin berarti seseorang melihat pantulan dirinya pada cermin. Untuk mengenal bentuk tubuh, cantik/ganteng atau jelek, berparas manis atau masam, tinggi atau pendek, dan sebagainya, biasanya seseorang melihat dan mengetahuinya pada cermin. 

Selain itu, cermin memiliki makna konotasi untuk menerangkan subjektivitas. Boleh dikatakan, cermin merupakan subjek. Makna cermin bukan hanya benda mati seperti cermin yang sering digunakan tetapi juga manusia. 

Manusia merupakan cermin. Manusia dijadikan salah satu tolak ukur untuk melihat dan mengenal diri sesamanya. Sebab kita tidak dapat melihat keseluruhan tubuh dan keberadaan diri. Oleh karena itu, cermin sangat penting digunakan untuk melihat bentuk fisik dan ekspresi lahiriah serta eksistensi diri.  

Demikian penulis menganalogikan Keluarga Kudus Nasaret sebagai cermin sejati. Keluarga Kudus nasaret menjadi ukuran/dasar gereja Katolik untuk mengenal kualitas kehidupan dalam rumah tangga. 

Bercermin pada keluarga Kudus Nasaret berarti pasutri mampu melihat sejauh mana makna dan perwujudan cinta dan kesetian dalam perkawinan. 

Agar mudah bercermin pada keluarga Kudus Nasaret ini, penulis mengajak pasutri untuk berhenti sejenak dari segala kesibukan dunia. Kita bersama-sama bercermin pada spiritualitas Keluarga Kudus Nasaret.

Sejauh pemahaman penulis, gambaran tentang keluarga kudus Nasaret (Maria, Yosef dan Yesus) merupakan model keluarga sejati. 

Model keluarga ini sangat dikenal dengan keutuhan cinta. Ketotalitas cinta mereka berbuah pada kesetiaan dan kebahagiaan. Dari keluarga Kudus Nasaret ini terpancar butiran keyakinan dan harapan masa depan kehidupan sejati.

Seperti diuraikan dalam katolisitas.com, Paus Leo XIII mengungkapkan tokoh Yosef sebagai teladan bijaksana, setia, dan terbaik bagi peranan kebapaan dalam melindungi dan memelihara keluarga. 

Dalam diri perawan suci, Bunda Maria diungkapkan nilai-nilai spiritual yang sangat istimewah seperti kesetiaannya yang total, kasihnya yang bergelora, kebijaksanaan hidupnya, doa terus-menerus, sikap mendengarkan, kelembutan hatinya, kesederhanaannya, kerendahan hati, imannya yang teguh, dan keteladanan hidupnya seperti tertera dalam buku bakti sejati. 

Dan dalam diri Yesus, kita melihat ketaatan-Nya kepada kedua orang tua-Nya meskipun Dia adalah Sang Mesias. 

Menyadari kehidupan keluarga Kudus Nasaret, pasutri diajak untuk mendalami kembali makna panggilan suci yang termeterai dalam sakramen perkawinan. 

Sakramen perkawinan bermaksud untuk menyatukan pasutri dalam keutuhan cinta-setia. Perbedaan keduanya bukan untuk semakin membeda-bedakan melainkan semakin menemukan hakekat dari hubungan tersebut.

Pasutri bercermin pada cermin sejati (Keluarga Kudus Nasaret). Maksudnya, pasutri belajar untuk mendalami dan mewujudkan nilai-nilai rohani yang terkandung dalam keluarga Kudus Nasaret. 

Kaum Bapak, misalnya, meneladani cara hidup Yosef untuk menjadi sosok bijaksana, setia, penuh cinta bagi istri dan anak-anak. 

Suami diwajibkan untuk mewujudkan peran kebapaan dan melindungi keluarga. Selain itu, kaum suami/Bapak juga mendalami dan menghidupi nilai-nilai Marial dalam kehidupan keluarga.

Demikian juga sebaliknya, sang istri (kaum perempuan) tidak hanya melayani suami. Namun lebih pada bagaimana kaum hawa menjiwai sifat keibuan Bunda Maria. 

Sang istri menjadi sosok yang menampilkan cara hidup sejati bagi suami dan anak-anak. Dengan demikian, hubungan suami istri atau hubungan keluarga menjadi romantika yang tiada kata akhir.

Tidak hanya berhenti pada romantika internal keluarga, mereka berpartisipasi aktif untuk menjadi saksi cintakasih Allah lewat keteladaanan hidup keluarga mereka. 

Sebab kehidupan keluarga merupakan panggilan suci yang merupakan lambang cinta Kristus terhadap umat-Nya. Dengan demikian, pasutri wajib menjadi tanda cinta Allah lewat cara hidup berkeluarga agar cahaya kasih Allah menerangi sesama.

Oleh: Nasarius Fidin
×
Berita Terbaru Update