-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PETANI MILENIAL MASA DEPAN NTT

Sabtu, 15 Februari 2020 | 17:37 WIB Last Updated 2020-02-15T10:38:37Z
PETANI MILENIAL MASA DEPAN NTT
Yohanis Fransiskus Lema, S.IP, M.Si bersama anak-anak muda NTT

Hari ini, Sabtu (15/02/2020), saya melakukan kunjungan kerja perorangan di Dapil NTT II, tepatnya di Kota Kupang. Dalam kunjungan kali ini, saya mengunjungi sebuah lahan di Lasiana yang berhasil diubah menjadi sepetak kebun minimalis berukuran 100 meter X 50 meter oleh seorang petani milenial bernama Vian dan rekan-rekan mahasiswanya.

Vian, pemuda asal Alor ini, baru selesai ujian skripsi di Fakultas Pertanian Universitas Kristen Artha Wacana. Dengan kesadaran penuh sebagai seorang sarjana pertanian, sejak beberapa bulan lalu Vian menginisiasi pembukaan lahan untuk ditanami cabai (lombok) dan pepaya. Lahan yang digarap adalah milik ibu pemilik kos, tempat kos Vian dan teman-teman mahasiswanya.

Vian bersama teman-temannya membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk membongkar lahan keras, penuh pepohonan dan berbatu karang. Pembongkaran lahan dilakukan secara manual. 

Alat pertanian traktor baru dapat difungsikan setelah proses pembongkaran lahan dilakukan. Cabai hasil tanam Vian pun sudah dapat dipanen hanya dalam waktu tiga bulan pada masa panen pertama.

Semangat, inisiatif serta kreasi-inovasi Vian dan teman-temannya sangat perlu diapresiasi. Tindakan yang mereka lakukan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya kaum milenial. Apalagi, saat ini, jumlah petani di Nusa Tenggara Timur (NTT) tergolong tidak besar. Mayoritas petani berusia tidak lagi muda, di atas 50 tahun.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah petani di Indonesia pada tahun 2018 sebesar 33,49 juta. Jumlah petani NTT 942.455 orang. Dibandingkan dengan jumlah penduduk NTT sekitar 5,3 juta jiwa, berarti hanya 17,64% penduduk NTT yang bekerja sebagai petani.

Indonesia diperkirakan akan mengalami krisis jumlah petani dalam kurun waktu 10-15 tahun mendatang. BPS mencatat, pada Agustus 2019, jumlah penduduk yang bekerja pada sektor pertanian, kehutanan dan perikanan sebagai sektor utama ketenagakerjaan sebesar 34,58 juta orang (27,33% dari total lapangan pekerjaan utama). Angka tersebut turun 1,12 juta atau 1,46% dibandingkan Agustus 2018 yang sebesar 35,70 juta orang.

Apa yang dilakukan Vian dan teman-temannya tampaknya sederhana, namun mengandung pesan besar. Saya sangat terkesan, di pinggir kota Kupang masih ada anak milenial yang berinisiatif mengembangkan lahan pertanian. 

Semangat kewirausahaan dalam bidang pertanian dengan memanfaatkan lahan yang ada harus digalakkan dan ditularkan bagi anak-anak muda. Negara harus memberikan dukungan konkrit berupa benih, pupuk, permodalan dan pendampingan bagi para petani milenial.

Oleh: Yohanis Fransiskus Lema, S.IP, M.Si
Sumber: Fan Page Yohanis Fransiskus Lema, S.IP, M.Si
×
Berita Terbaru Update