-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Politik Membawa Luka

Jumat, 07 Februari 2020 | 15:26 WIB Last Updated 2020-02-07T08:26:30Z
Politik Membawa Luka
Ilustrasi diambil dari youtube

Aku adalah seorang gadis yang masih duduk di bangku SMA. Teman-teman biasa memanggilku Fira.

Aku dilahirkan di tengah keluarga yang serba ada (kaya). Namun, aku tak pernah merasa bahagia dengan semua kekayaan materi.

Kini ku sadari, ternyata kebahagiaan tak pernah diukur oleh kebutuhan lahiriah, tetapi juga dengan batiniah.

Bagiku, miskin belum tentu menderita, kaya belum tentu bahagia". Memiliki kedua orangtua yang utuh, tidak ada bedanya dengan yatim piatu. Itulah pengalaman yang kualami.

Aku merasa tersingkirkan karena pekerjaan orantuaku dalam bidang politik. Mereka selalu membebani tanggung jawab sebagai ayah dan ibu kepada pengasuhku. 

Terkadang, aku malu, minder dan tidak percaya diri ketika melihat teman-temanku berjalan dan mengahabiskan hari libur bersama kedua orangtua mereka. Lalu, apa kabar diriku? 

Aku hanyalah seuntai kata yang tak bermakna bagi kedua orangtuaku. Aku selalu ditinggalkan di rumah seorang diri bersama pengasuh. Pergaulanku selalu dibatasi. 

Aku hanya diijinkan keluar rumah, tatkala ada tugas di sekolah yang perlu dikerjakan. 

Ayah bekerja sebagai DPR dan ibu ketua partai politik. Fokus pikiran, perkataan dan perjuangan mereka yakni politik, politik, politik dan politik. 

Aku terkadang bertanya dalam hati kecil "mengapa politik merenggut semua milikku"?

Aku seharusnya membutuhkan kasih sayang, perhatian dan kelembutan dari kedua orangtua, tetapi semuanya itu tak pernah kurasakan. 

Mereka selalu bergelut dalam dunia politik, mementingkan pekerjaan dan harta duniawi. Mereka tidak peduli terhadap perkembangan dan pertumbuhan diriku. 

Aku selalu menangis, meratapi nasibku yang kian memburuk. Namun, mereka tak pernah memahami. Mereka hanya menuntutku untuk memahami semua pilihan mereka.

Aku selalu menuruti kemauan mereka, tetapi kehendakku selalu diabaikan. Aku merasa terpaksa menjalani hidup yang membatasi ruang kebebasanku sebagai manusia yang mulia.

Aku bingung, sebenarnya yang menjalani hidupku, aku atau mereka yang selalu mengaturku?? Ahh, entahlah... mereka terlalu egois dan tidak bertanggung jawab atas kehadiranku.

Aku benci terhadap politik yang merenggut semua harapan dan kasih sayang yang seharusnya aku dapatkan.

Mereka selalu di kantor. Hidup mereka hanyalah untuk pekerjaan, dan bukan pekerjaan untuk hidup yang lebih bahagia. 

Mereka pergi pagi, lalu pulang malam. Itulah pekerjaan mereka. Hampir tak  ada waktu untukku. 

Ketika sempat berkumpul di meja makan, mereka selalu membicarakan profesi, politik, dan segala sesuatu yang dialami di kantor masing-masing. 

Aku bosan dan kepalaku pening setiap kali mendengarnya. Hatiku dikuasai oleh amarah, jiwaku meronta membutuhkan perhatian dan kasih sayang.

Ayah dan ibu telah nyaman, dan terjerat dalam dunia politik yang selalu menawarkan kemewahan, tapi tak menjamin kebahagiaan.

Nama mereka selalu terpampang di berbagai media elektronik. Senyum yang terukir di wajah mereka telah menyisahkan luka bagiku bahkan semua orang turut merasakannya.

Politik telah membawa mereka jauh dari Tuhan. Karena lupa menjalin relasi dan komunikasi dengan Allah, mereka juga lupa dengan hidup dan kehidupankuku. Aku terkadang menyesal, mengapa harus aku yang menanggung derita ini? 

Setiap malam khususnya saat mau beristirahat malam, aku mendengar ayah dan ibuku ribut dan bertengkar, entah karena urusan politik atau perselingkuhan. Aku pun tak tahu.

Mereka tak pernah menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Keduanya tak sabar. Mereka ingin menang sendiri, hingga suatu hari keduanya memutuskan untuk bercerai. 

Perjalanan hidupku semakin rumit. Penderitaanku pun bertambah dua kali lipat dari yang kurasakan sebelumnya. 

Aku disuruh untuk memilih antara ayah atau ibuku. Dari hati kecil, aku lebih memilih untuk pergi bersama pengasuhku yang telah kuanggap sebagai ayah sekaligus ibu bagiku. 

Dialah yang selalu menguatkan dan mengajariku untuk tetap bersabar. Saat bersamanya, aku merasa nyaman, tenang dan bahagia. 

Darinya aku belajar bahwa kehidupan selalu menawarkan berbagai  rasa, entah itu pahit atau pun manis. Semuanya harus tetap dijalani dengan tabah. Dari dinamika pengalaman ini, aku baru mengerti tentang arti kehidupan, meski sederhana tetapi aku merasakan kedamaian dan kebahagiaan.

Beberapa tahun berlalu, melalui pendidikan yang kutempuh dan beasiswa yang kudapat, aku telah sukses menjadi dokter, tanpa keringat dari kedua orangtuaku. 

Aku memeluk pengasuhku dengan berlinang air mata kebahagiaan sembari berlutut, mengungkapkan rasa terimakasih kepadanya.

Hari ini adalah hari kebahagiaanku. Namun, aku mendapat sebuah kabar bahwa kedua orangtuaku terbukti telah melakukan korupsi. 

Aku menyesal memiliki orangtua yang begitu kejam, bukan hanya kepadaku tetapi kepada semua orang. 

Kekejaman itu mendorong mereka terjebak dalam cara hidup yang jauh dari kebenaran dan cinta kasih. 

Pada akhirnya mereka dihukum mati dan seluruh harta yang sempat menjadi kepunyaan mereka ditarik kembali. "Kekayaan materi bukanlah tolok ukur untuk kebahagiaan"

Oleh: Fani Setia
×
Berita Terbaru Update