-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Puisi Valentine dan Dua Puisi Lain dari Eko Prakoso

Jumat, 14 Februari 2020 | 10:18 WIB Last Updated 2020-02-14T03:19:00Z
Puisi Valentine dan Dua Puisi Lain dari Eko Prakoso
Ilustrasi love diambil dari google

TAK ADA VALENTINE UNTUKMU 
(Sepucuk Surat Cinta Untuk Kekasih)

Tak ada malam perayaan Valetine untukmu
kerna cinta bukan janji manis
seperti sebatang coklat
kerna cinta bukan keindahan sesaat
seperti sekuntum mawar
yang pasti layu esok hari
aku menyanyangimu dengan hatiku terdalam
tak terbatas oleh waktu
sampai kapan pun juga

Cinta memang serupa takdir 
tapi cinta juga bisa seperti mata tajam belati
kadang tak mengenal siapa tuannya
dan aku genggam cinta dengan hati
agar ia tak terbagi bebas kemana saja
kemana cinta suka
dengan sesuka-suka api asmaranya

(Cinta dalam hati ini hanya untuk satu hati
seorang wanita saja)

Aku menyayangimu dengan hati
kerna cinta dapat dikalahkan oleh waktu
waktu juga bisa dikalahkan oleh cinta

Tak ada cinta sejati yang sesaat, menyesat
cinta sejati, abadi kecuali 
takdir waktu kematian 
yang akan mengakhirinya

Aliran darahku selalu berdesir 
ketika memandangi paras wajahmu
jantungku seakan terhenti seketika membayangkanmu

(Kerna aku mencintaimu dengan hati
bukan dengan kata-kata )

Tak ada perayaan Valentine untukmu
maaf kerna aku tak bisa berpura-pura
romantis kepadamu
kerna cinta bukan janji manis
dan bujuk rayu indah semata

Kerna cinta adalah komitmen
keteguhan hati untuk mencintaimu
dengan sumpah nyawa jiwaku
menyayangimu tanpa mengenal musim 
ingin tetap bersamamu dan menjagamu sampai 
detak terakhir didenyut nadi
dan jantungku ini, sayang 

" kamu iyaa kamu... " 

LAWAN DAN TENTANG REVITALISASI TIM
YANG TAK BERNURANI
(Aku Menggugat Zaman)

Apakah kita akan diam saja ?
ketika rumah kita dimasuki oleh segerombolan maling birokrasi
suruhan penguasa yang tak punya hati nurani

Akankah kita berdiam diri saja?!
saat rumah kita dirampok dan diobrak-abrik
oleh segerombolan pencundang birokrasi berpikiran picik
yang lebih licik jiwanya dari segerombolan anjing hutan liar

Lawan dan Tentang! orang-orang yang tak bernurani itu
dengan akal nurani kita !

Sesungguhnya mereka hanyalah budak-budak para penguasaha dan penguasa daerah
yang hanya ingin membangun kerajaan bisnis mereka
di atas tanah negara yang merdeka ini
dengan gratis tanpa harus membeli lahan
mengatasnamakan revitalisasi

(Biar dapat membagi-bagikan jatah keuntungan yang besar 
kepada kolega-kolega mereka tanpa merugi sepeser pun juga)

Mereka telah dengan sengaja mengabaikan dan menghancurkan 
cita-cita dan niat luhur
Bang Ali Sadikin
kepada para seniman dan pekerja seni
di nagari ini!

Mereka adalah penjajah kemanusiaan
dan penghancur kesenian dan kebudayaan
di negeri ini
demi nafsu ambisi keserakahan kekuasaan

Lawan dan Tentang para cecunguk birokrat
yang tak punya nurani
dengan nurani kita para seniman dan pekerja seni
bulatkan tekad dan rapatkan barisan
dalam satu kesatuan yang satu
untuk menyelamat Taman Ismail Marzuki
Rumah kita sendiri para seniman dan pekerja seni!

SILENT ACT : KAMI MELAWAN DENGAN NURANI TERDALAM
(Hentikan Revitalisasi TIM Sekarang juga)

Tak ada komitmen itu dari pemerintah daerah Jakarta ini
untuk berkreasi dan berkesenian ke arah yang lebih baik
statmen-statmen hanyalah janji manis pembenaran belaka

wisma para seniman di dalam gambar cetak biru
hanya kedok belaka untuk pengelabuhan membangun hotel bintang 5

Membangun gedung teater modern
tanpa kesepakatan para pekerja seni
itu omong kosong
kerna nanti yang dapat pentas di sana
hanya para pemain teater oplosan
yang punya duit segudang
tapi tak paham caranya berakting profesional
di atas panggung

(Mereka itu hanya badut-badut politik kesenian saja sesungguhnya )

Truck-truck, belco dan tiang-tiang pancang besi
telah merobohkan peradaban budaya
dan secara perlahan telah membunuh kemanusiaan
mematikan nurani harmonisasi kehidupan

Zaman tak lagi genah
zaman tak lagi berpihak kepada nasib para seniman dan pekerja seni
revitalisasi telah membunuh karya-karya murni
yang tercipta dari jiwa terdalam

Para cecunguk penguasa daerah
tertawa penuh ejekan
dan menatap pongah kepada kami
para seniman dan pekerja seni

Rumah ( kreatifitas ) kami : mereka hancurkan
demi keuntungan bisnis komersial
yang membuat tanah ini menjadi sial dangkalan...

Kami (aksi) diam bukan tak melawan
ini bentuk perlawanan nurani kami
kepada kesewenang-wenangan pemerintah daerah dan para pejabat instansi
yang telah menghancurkan rumah dan ruang kreasi kami dengan keangkuhan sebagai penguasa
demi membela keuntungan para pengusaha berduit tebal
sedangkan kami tak punya apa-apa

(Dan uang telah menjadi Tuhan mereka)

Oleh: Eko Prakoso
×
Berita Terbaru Update