-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Rabu Abu: Jalan Kerendahan Hati Seorang Imam

Rabu, 26 Februari 2020 | 21:47 WIB Last Updated 2020-02-26T14:51:12Z
Rabu Abu: Jalan Kerendahan Hati Seorang Imam
Ilustrasi; komsoskam.com

Setiap kali Rabu abu, imam meletakan abu di dahi umat seraya membuat tanda salib dan berkat; “Bertobatlah dan Percayalah kepada Injil”. Ketika imam mengatakan demikian maka imampun sedang mengatakan kepada dirinya sendiri untuk bertobat dan menjadikan Injil sebagai pedoman menuju perubahan moral dan tingkah laku.

Bagi saya pribadi, Rabu abu menjadi kesempatan bagi seorang imam untuk kembali dan masuk ke dalam diri sendiri dan menjumpai Dia yang mungkin telah lama hilang oleh kesibukan dan rutinintas melayani misa, yang telah lama hilang karena kesibukan mencari dana membangun gereja dan yang telah lama hilang karena membanggakan prestasi dan kehebatan pribadi.

Tepat ajaran dan ajakan Yesus; “melakukan segala sesuatu secara tersembunyi” entah memberi sedekah, berdoa dan berpuasa (bdk. Mat 6:1-6, 16-18). Ajakan ini adalah ajakan untuk masuk ke kedalaman hati untuk berjumpa dengan-Nya dalam doa dan refleksi yang melahirkan kerendahan hati dan sukacita.

Maka ketika seorang imam memberkati abu, sejatinya saat itu imam merendahkan dirinya, menyatukan dirinya dalam abu itu. Dan ketika imam menandakan abu dengan tanda salib pada dahi umat, di sana imam menjadikan ketidaklayakan dan ketidakpantasan hidup umat karena dosa sebagai salib yang harus dipikulnya.

Rabu abu menjadi saat di mana seorang imam merendahkan dirinya yang selalu siap sedia mengampuni meski terluka, yang selalu mendoakan meski bahasa-bahasa hujatan selalu menghampiri, yang selalu mendengarkan dengan penuh hormat meski ada keinginan untuk menjawab dan yang selalu berkata maafkan aku meski tersakiti. Karena kerendahan hati seorang imam adalah jalan bagi umat untuk menjumpai Yesus sang Kabar Sukacita.

Manila: 26 Februari 2020
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update