-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Seperti Apakah Pemimpin yang Merakyat Itu?

Kamis, 06 Februari 2020 | 12:37 WIB Last Updated 2020-02-06T05:37:25Z
Seperti Apakah Pemimpin yang Merakyat Itu?
Yones Hambur

Dalam sebuah group di Facebook, seorang teman memamerkan sebuah foto dari seorang pejabat publik. Pada keterangan foto itu, ia menuliskan demikian. "Ini adalah contoh pemimpin yang merakyat."

Teman saya itu melihat bahwa pemimpin yang merakyat ialah seorang yang selalu turun ke jalan, pergi ke kampung-kampung, datang ke rumah-rumah warga dan hadir dalam setiap acara besar yang dilakukan oleh warganya.

Hal itu dapat diketahui dari isi foto yang dipamerkannya. Dalam foto tersebut, terlihat seorang pejabat publik sedang menyapa warganya, berdiri di tengah warga kampung dan sedang ikut merayakan upacara-upacara adat di kampung.

Benarkah Pemimpin yang Merakyat adalah Seperti Itu?

Postingan foto pejabat publik yang diklaim oleh teman saya itu sebagai contoh 'pemimpin yang merakyat' tentu mesti kita tangguhkan.

Artinya, kita mesti berpikir lebih jauh apakah hanya karena melakukan hal-hal seperti yang disebutkan di atas maka pejabat publik itu layak disebut sebagai 'pemimpin yang merakyat'?

Atau secara sederhana kita rumuskan pertanyaannya begini, 'Apakah hanya karena sering hadir di pesta-pesta keluarga atau upacara-upacara adat di kampung maka pejabat publik itu disebut merakyat?'

Hal itu juga berlaku ketika seorang pejabat publik masuk ke kampung dan menyapa warganya, 'Apakah hanya karena demikian kita langsung menyebutnya sebagai seorang (pemimpin) yang merakyat?'

Pertanyaan lainnya ialah apakah hal-hal seremonial seperti itu bisa dijadikan tolok ukur 'merakyat atau tidaknya seorang pejabat publik (pemimpin)?'

Saya sendiri memiliki pandangan lain bahwa ukuran yang menentukan seorang pejabat publik (pemimpin) disebut sebagai 'pro rakyat' atau 'merakyat' tidak bisa hanya dilihat dari hal-hal tersebut di atas. 

Apa Sebenarnya Pemimpin yang Pro Rakyat atau 'Merakyat' Itu?

Ukuran yang dipakai oleh teman saya sebagaimana saya sebutkan di atas memang tidak salah. Sebab, hal-hal seperti itu juga melekat di dalam diri seorang (pemimpin) yang merakyat.

Akan tetapi, sesungguhnya, pemimpin yang merakyat ialah seorang yang tidak hanya sekadar melakukan hal-hal demikian. 

Lalu seperti apakah pemimpin yang merakyat itu? Pemimpin yang merakyat ialah seorang yang memiliki panggilan diri untuk terlibat secara penuh, total pada seluruh kehidupan rakyatnya. 

Ia adalah orang yang betul-betul memiliki visi atau pandangan hidup yang baik, yakni sesuatu yang bisa menggerakkan sekaligus menghidupkan banyak orang.

Ia adalah seorang yang mengenal idea keadilan, mengetahui tentang kebenaran. Hatinya tergerak untuk mewujudkan itu di dalam setiap tindakannya sebagai pemimpin.

Ia adalah orang yang peka terhadap penderitaan, mampu mendengarkan dan memahami kebutuhan rakyatnya. Ia memiliki hasrat untuk mengangkat kehidupan rakyatnya yang tertindas agar bisa menikmati kehidupan yang lebih sejahtera dan makmur.

Lalu bagaimana kita bisa mengetahuinya dalam kehidupan konkrit? Sederhana saja. Kalau Anda ingin tahu apakah seorang pemimpin itu sungguh-sungguh merakyat, periksa saja setiap kebijakan atau program kerja yang dia keluarkan. 

Lihatlah semuanya, apakah dari semua program kerjanya itu sudah sungguh-sungguh mendatangkan kesejahteraan bagi banyak orang atau tidak? 

Apakah selama memimpin, ia sudah berhasil mengeluarkan rakyatnya dari kemiskinan atau tidak? Apakah hak-hak hidup rakyatnya seperti akses terhadap air minum bersih misalnya sudah terpenuhi?

Apakah selama memimpin, ia sudah berhasil membangun sarana infrastruktur yang memadai dan berkualitas seperti jalan raya misalnya, sehingga tidak ada rakyat yang terisolasi?

Kalau ternyata tidak demikian, janganlah Anda menganggap bahwa pejabat publik (pemimpin) itu ialah seorang yang merakyat.

Kalau pada kenyataannya bahwa selama ia memimpim, yang sejahtera ialah hanya keluarga atau kelompoknya sendiri, itu artinya ia bukanlah seorang pemimpin yang merakyat. Kenapa demikian?

Anda mestinya tahu bahwa pemimpin yang merakyat tidak akan pernah pilah-pilah terhadap siapapun. Bagi seorang pemimpin yang betul-betul merakyat, semua orang akan dianggapnya sama.

Ia tidak akan membedakan setiap orang berdasarkan kesamaan darah, suku, dll. Ia akan berpikir dan berkeyakinan bahwa setiap orang ialah setara dan memiliki hak yang sama akan kesejahteraan hidup.

Karena itu, dalam memperlakukan rakyatnya, ia tidak akan memilih 'apakah dia keluarga saya atau tidak', 'apakah dia pendukung saya atau tidak'. Cara berpikir seperti itu sama sekali tidak ada di kepala seorang pemimpin yang pro terhadap kepentingan rakyat (merakyat).

Selain itu, pemimpin yang merakyat adalah ia yang tidak akan diam ketika misalnya pengaturan harga hasil-hasil bumi dari rakyatnya seperti kopi, kemiri, cengkeh, dll dikendalikan oleh segelintir orang. Ia tidak akan biarkan perekonomian rakyat dikuasai oleh orang-orang tertentu yang memiliki modal uang dan kuasa dan bertindak 'semaunya'.

Sebenarnya, masih ada banyak hal yang bisa ditunjukkan bahwa seorang pemimpin betul-betul merakyat atau tidak, peduli pada kepentingan kesejahteraan rakyat atau tidak. Saya persilahkan Anda untuk menambahkannya.

Akhirnya, sekian dulu! Anda bisa menuliskan contoh-contoh lainnya di kolom komentar. Jangan lupa seruput kopi ya. Kopi Manggarai itu enak loh. Banyak orang luar yang suka. Punya nilai jual yang tinggi tentunya.

Tapi sungguh sangat disayangkan, pemimpinnya justru tak sadar akan itu, apalagi untuk memerhatikannya. Kenapa bisa seperti itu ya? 

Apakah alasannya ialah karena mereka tak sanggup mengelolahnya? Kalau jawabannya ialah iya, tolong jangan biarkan orang seperti itu untuk lanjut berkuasa. Sebab, ia sungguh tak layak untuk jadi pemimpin.

Oleh: Yones Hambur
×
Berita Terbaru Update