-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Stop Menjual “Tuhan” Untuk Membela Keburukan

Selasa, 25 Februari 2020 | 13:43 WIB Last Updated 2020-02-25T06:43:38Z
Stop Menjual “Tuhan” Untuk Membela Keburukan
Pater Tuang Kopong, MSF

Nama Tuhan oleh kalian katanya suci dan penuh kuasa makanya kalian bela mati-matian. Walau Tuhan tak perlu dan tak harus dibela, karena Tuhan adalah Mahakuasa melebihi kuasa manapun termasuk kuasa kalian.

Kalian gunakan nama Tuhan untuk mencapai tujuan politik kalian, kalian anggap itu halal bahkan sekalipun untuk menakuti dan “membohongi” umat. Tapi ketika ada yang menegur kalian lantaran telah menjadikan Tuhan sebagai alat politik kalian, kalian bilang itu fitnah dan haram.

Ketika ada yang mengancam Tuhan dalam doa, ketika kalian gagal mencapai ambisi politik kalian maka tidak ada lagi yang menyembah Tuhan, kalian anggap itu doa dari rintihan jiwa yang tersakiti dan terluka. Tetapi ketika ada yang hendak menyembah Tuhan secara khusuk dalam rumah ibadah kalian protes dan halangi.

Dan kini banjir melanda Jakarta karena salah urus bahkan gubernur pilihan kalian tidak mampu mengurus Jakarta hanya untuk membalas sakit hatinya pada pemerintah kalian bilang itu karena kesalehan gubernur pilihan kalian.

Kalian menghubungkan ketidakmampuan gubernur hasil itjima mengurus Jakarta dengan kebaikan Tuhan yang muncul dari kesalehan sang gubernur. Banjir adalah hasil dari kesalehan gubernur itu, adalah sebuah penyesatan dan pembodohan ajaran mengenai Tuhan yang maha baik, benar dan adil.

Tuhan tidak pernah memberikan keburukan pada manusia. Dalam setiap ajaran agama manapun, keburukan adalah hasil karya cipta manusia sendiri. Maka menyimpulkan banjir pada hari libur itu karena kesalehan sang gubernur sama saja dengan mengatakan bahwa banjir adalah bencana dari Tuhan namun karena gubernurnya saleh maka itu bukan bencana.

Mau banjir pada hari libur atau tidak itu adalah “bencana” yang diciptakan oleh manusia dalam hal ini hasil cipta kegagalan gubernur pilihan kalian yang hanya mau membalas dendam pada pemerintah sehingga tidak mau mengurusnya. Rumah warga terendam, bahkan mobil, motor hanyut dan ada korban jiwa. Apakah itu bukan bencana dari kegagalan gubernur mencegah dan mengantisipasi datangnya banjir?

Maka STOP menjual nama Tuhan untuk membela keburukan kalian dalam hal ini membela ketidakmampuan dan kegagalan gubernur kalian mengurus Jakarta. Dengan mengatakan bahwa banjir pada hari libur karena kesalehan gubernur pilihan kalian, sama saja dengan mengatakan bahwa korban material dan bahkan jiwa dari banjir, itu juga adalah buah dari kesalehan gubernur.

Semakin kalian menggunakan naman Tuhan untuk membela keburukan dan kegagalan bahkan menghubungkan kesalehan dengan banjir pada hari libur, semakin ketahuan bahwa kalian tidak beragama dan beriman pada Tuhan melainkan memanfaatkan Tuhan untuk kepentingan politik kalian melalui narasi-narasi keagamaan yang tak waras. Salam waras dalam beragama dan beriman.

Manila: 25 Februari 2020
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update