-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Tubuh Perempuan dalam Pusaran Kapitalisme (Pariwisata)

Selasa, 25 Februari 2020 | 20:34 WIB Last Updated 2020-02-25T13:34:55Z
Tubuh Perempuan dalam Pusaran Kapitalisme (Pariwisata)
Sil Joni 

Oleh: Sil Joni*

Pandangan Plato terhadap 'keindahan alamiah' mungkin terkesan reduktif. Betapa tidak, salah satu filsuf terbesar dalam jaman Yunani kuno itu, menilai bahwa keindahan fisik merupakan mimesis (tiruan) dari keindahan yang lebih tinggi yaitu idea. Itu berarti keindahan termasuk kecantikan lahiriah hanya sebagai 'pancaran luar' dari keindahan in absentia itu.

Gagasan Plato ini berimplikasi pada penilaian tentang 'derajat' dari keindahan itu sendiri. Bahwasannya seni (yang indah) yang bersumber dari 'dunia idea' lebih superior ketimbang seni yang mengandalkan aspek lahiriah semata.

Tubuh Perempuan dan Kecantikan 

Citra kecantikan umumnya selalu identik dengan 'tubuh perempuan'. Karena itu, diskursus tentang apa dan siapa yang disebut cantik itu, selalu mengacu pada dimensi kecantikan yang dimiliki oleh seorang perempuan. Pertanyaannya mengapa kita menilai bahwa 'tubuh tertentu' itu disebut cantik? Apa 'kriterum' yang kita pakai dalam membuat definisi itu?

Tentang apa itu "yang indah, cantik", sesungguhnya bukan hal yang mudah didefinisikan.  Muncul beragam pendapat dalam filsafat estetika, filsafat yang mengkaji tentang apa itu yang “indah”. Pelbagai pendapat itu, dengan agak disimplifikasi, bisa dirangkum dalam dua aliran besar, dua aliran yang menjadi klasifikasi esensial di hampir semua cabang filsafat, yakni mazhab objektivis dan mazhab subjektivis.

Alirah subyektivisme berpandangan bahwa 'cantik' itu sangat relatif, tergantung pada mata yang memandang. Kecantikan itu melekat erat pada wilayah inderawi yang bersifat subyektif. Karena itu, cantik tidak bisa 'diukur, diperlombakan, dan diperdagangkan'. Kita tidak mempunyai 'baromenter yang obyektif' untuk menilai mutu kecantikan yang ada pada seseorang.

Sebaliknya, aliran obyektivisme menilai bahwa cantik itu menempel erat pada obyek itu sendiri. Ada “sesuatu” yang cantik sebagaimana adanya dia cantik (“cantik” as it is; “cantik” an sich). Kecantikan ini ada dengan sendirinya bahkan sekalipun tak ada orang yang memandangnya. 

Dia yang cantik itu pada hakikatnya tetap cantik sekalipun lampu sedang mati dan orang-orang tak bisa melihatnya.  Dia cantik bahkan walau semua orang sedunia buta. Adanya mata yang memandang bukanlah prasyarat bagi adanya kecantikan.

Cantik adalah suatu “formedness”, keterbentukan, yang mempunyai ukuran, kadar, rasio. Paras yang cantik bagi kaum objektivis ialah paras yang memiliki struktur bibir, pipi, hidung, mata, dan anggota wajah lain sedemikian rupa sehingga gabungan dari semua itu membentuk sesuatu yang patut disebut “cantik”. 

Dalam kerangka ini, esensi kecantikan adalah suatu kombinasi, dan karenanya mesti dilihat sebagai sesuatu yang menyeluruh, as a whole, sehingga jika satu saja bagian dari kombinasi itu geser dari proporsi yang semestinya, kecantikannya hilang, atau setidaknya kadar kecantikannya berkurang.

Karena pandangan objektivis yang demikian itu, maka kecantikan bisa dikompetisikan.  Ajang pemilihan Putri Indonesia, Miss World, Putri Pariwisata dll merupakan menifestasi dari pemikiran keindahan yang bercorak kuantifikatif tersebut.

Selain itu, kecantikan bisa juga dikomersilkan, sehingga muncul bisnis kecantikan. Pada lingkungan yang tergila-gila dengan kecantikan, bisnis make-up dan asesoris pakaian tumbuh subur. Paradigma keterukuran (measurability) kecantikan sebagai sesuatu yang objektif, yang merembesi lingkungan materialis, kadang sampai merasuk ke ruang publik di mana 'kecantikan fisik' menjadi salah satu kriteria untuk bekerja pada satu instansi atau perusahaan.

Dalam Cengkraman 'Kapitalime (Pariwisata)

39 finalis 'ajang Putri Indonesia' sudah mengikuti masa 'pra-karantina' di Labuan Bajo. Mengapa mesti Labuan Bajo? Jawabannya jelas, Labuan Bajo merupakan 'the new Bali', destinasi wisata super premium. 

Jika selama ini, kontes kecantikan semacam itu lebih memilih Bali sebagai tempat 'relax dan rekreasi', maka sebagai 'Bali Baru' tentu pemerintah dan pihak sponsor coba 'merancang strategi pemasaran wisata Labuan Bajo dengan cara yang lebih memikat, seperti 'mendatangkan' para finalis kontes Putri Indonesia itu.

Aktivitas industri pariwisata tanpa keindahan (kecantikan) itu rasanya absurb. Hanya dalam dan melalui keindahan fisik (obyek wisata), sebuah industri turisme tidak hanya bisa eksis, tetapi berkembang pesat. Karena itu, selain kecantikan alam dan budaya, kecantikan tubuh perempuan juga bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. 

Para pengusaha (kapitalis) dalam bidang pariwisata tentu dengan kreatif membaca peluang pasar semacam itu. Para perempuan yang berpenampilan menarik, cantik, dan seksi direkruit untuk bekerja di berbagai sektor jasa yang berhubungan dengan kegiatan kepariwisataan.

Kecantikan perempuan ditakar dari sisi kepentingan para kapitalis itu. Tentu, mereka memiliki 'alat ukur' spesifik perihal kecantikan yang mesti dipunyai ketika seorang perempuan bekerja di perusahaan mereka. Itu berarti dimensi kecantikan itu sangat bergantung pada 'kaca mata' yang dipakai oleh para pebisnis pariwisata.

Sadar atau tidak, kita sedang digiring untuk mengikuti 'imaji kecantikan' yang diinginkan oleh pasar pariwisata. Sebuah 'mitos kecantikan sempurna' ala logika kapitalisme, sedang mengepung aula kognisi kita hari-hari ini.                         

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik. Tinggal di Labuan Bajo.
×
Berita Terbaru Update