-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Universitas Kepausan dan Lulusan “S3 Vatikan”

Rabu, 26 Februari 2020 | 21:12 WIB Last Updated 2020-02-26T14:12:33Z
Universitas Kepausan dan Lulusan “S3 Vatikan”
 Pater Doddy Sasi, CMF

Mendengar hebohnya berita “lulusan S3 Vatikan” mendorong saya untuk sedikit berbagi kisah tentang beberapa Universitas Kepausan yang di Vatikan. Berita “lulusan S3 Vatikan” tidak membuat saya terusik apalagi terganggu. Hanya saja memang perlu untuk diluruskan. 

Teman-teman religius (Romo/Pater, Suster, Frater, Bruder) yang pernah dan sedang kuliah di Roma pasti tidak asing dengan beberapa nama Universitas Kepausan ini: Pontificia Università Gregoriana, Pontificia Università Urbaniana, Pontificia Università Salesiana, Pontificia Università Antonianum atau Pontificia Università Lateranensis. 

Dan tentu saja masih ada Universitas-universitas lain tempat “kaum religius diaspora” dari Indonesia menimba ilmu di Italia. Sebut saja ada Universitas Sapienza atau juga Universitas Lumsa dan macam Universitas lainnya.

Sebagai bagian dari Civitas Academica Pontificia Università Lateranensis (baca: Universitas Kepausan Lateran), saya menyempitkan kisah ini hanya pada Universitas ini. Sejenak kisah sejarahnya. 

Universitas Kepausan Lateran didirikan pada tahun 1773 oleh Paus Klemens XIV. Universitas ini adalah lembaga/institusi pendidikan milik Keuskupan Roma. Santo Yohanes Paulus II, pada 16 Feberuari 1980 (saat itu sebagai Paus) dalam satu kesempatan kunjungan ke Universitas Lateran memberi sebuah sebutan yang khusus untuk Universitas ini, yakni: “l’Università del Papa” (Universitasnya Paus). 

Sejarah juga membuktikan bahwa ada beberapa alumni dari Universitas ini yang kemudian menjadi Paus: ada Paus Pius IX (1846-1878), Paus Benediktus XV (1914-1922), Paus Pius XII (1939-1958), Paus Yohanes XXIII (1958-1963) dan Paus Paulus VI (1963-1978).

Universitas Kepausan Lateran merupakan lembaga pendidikan tingkat tinggi/lanjut untuk belajar dan mendalami ilmu: Hukum Gereja dan Hukum Sipil, Teologi, Filsafat, Pastoral Keluarga dari strata satu hingga doktoral. Kampus Universitas Lateran ada dalam teritori negara Vatikan (Tahkta Suci) yang letaknya di pusat kota Roma, Italia.

Setiap Universitas Kepausan tentu memiliki kekhasan dan keunikannya masing-masing. Misalkan saja, banyak dari tokoh Gereja Katolik Indonesia adalah jebolan dari Universitas Kepausan Gregoriana. Sebut saja ada Nicolaus Drijarkara, Kardinal Yustinus Darmoyuwono, Mgr. R. Rubyatmoko dan beberapa Uskup di Indonesia sekarang adalah juga alumni Universitas ternama ini. 

Sedangkan di Universitas Kepausan Lateran meskipun tidak sebanyak yang ada pada Universitas Gregoriana, tetap saja ada kaum religius dari Indonesia yang mendalami ilmu di sana entah pada jenjang Lisensiat (S2) maupun doktoral (S3).

Merilis rekam jejak tokoh-tokoh yang sempat saya sebutkan di atas atau yang mungkin tidak sempat saya sebutkan sebagai alumni dari beberapa Universitas Kepausan di Vatikan boleh dibilang mereka adalah tokoh-tokoh panutan bagi Gereja Katolik Indonesia.  

Semua kita pasti ingat pepatah ilmu padi yang kian berisi kian merunduk. Ilmu yang mereka dapat tidak membuat mereka “sombong” tapi justru menjadi sarana untuk membantu sesama/umatnya sendiri dengan tanpa harus menjelekkan “tetangganya”. Ada kerendahan hati di situ.

Lalu muncul beberapa hari terakhir ini, klaim dari “seorang mantan Pastor” yang katanya “lulusan S3 Vatikan”. Saya secara pribadi tidak terkejut karena berita semacam ini bukan sesuatu yang aneh. Tidak aneh karena, sudah sejak lama dalam konteks Indonesia, agama itu sudah menjadi komoditas entah itu komoditas bisnis-komersial ataupun juga komoditas politik yang bisa saja lahir dari sentimen-sentimen tertentu. 

Karena itu, bentuk promosi diri atau komersialisasi diri dengan sebutan “lulusan S3 Vatikan” menjadi jualan isu yang pas konteks tapi sudah usang dan tidak akan laku dipasaran. 

Biarpun di daur ulang dengan dandanan yang cantik-menor tetap saja tidak akan menimbulkan efek apapun. Memberi respon perlu. Tapi tidak harus sebuah respon yang berlebihan. Respon yang waras dan dewasa. Respon yang diwakili oleh daya nalar jauh lebih penting menghadapi sentimen-sentimen itu. 

Respon yang kritis adalah sikap yang tepat untuk membantu mengisi “kekosongan isi kepala "sang lulusan S3 Vatikan” itu.

Oleh: Pater Doddy Sasi, CMF
Penulis adalah Seorang Misionaris Claretian yang tinggal di Roma
Editor: Nasarius Fidin
×
Berita Terbaru Update