-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Untukmu Yang Pernah Singgah Di Relung Hatiku

Jumat, 28 Februari 2020 | 16:48 WIB Last Updated 2020-02-28T09:48:20Z
Untukmu Yang Pernah Singgah Di Relung Hatiku
Pater Tuan Kopong, MSF

Meski jalan hidup kita sekarang berbeda, namun bukan berarti kita harus bermusuhan. Meski sakit yang pernah engkau rasakan ketika kepergianku meninggalkanmu, kuberharap ada ruang maaf untukku.

Kata orang kisah kasih di sekolah adalah kisah kasih yang paling indah, itu betul dan benar adanya. Itu juga yang pernah kita alami 27 tahun silam. Meski harus menuliskan belembar-lembar surat tak ada keluh yang terucap. Sehari saja tak mendapatkan sepucuk surat dari teman kelasmu yang adalah teman asramaku rasanya ada sisi bathin yang kosong dan gersang.

Demikian juga engkau yang selalu merindukan balasan dariku. Lembaran-lembaran surat yang engkau tuliskan untukku seakan menjadi lebih penting dari setiap catatan pelajaran yang tersusun di atas meja belajarmu. Bahasa-bahasa puitis dariku dan darimu menjadi bumbu pelengkap nikmat surat cinta kita bagai sebuah novel ringan tanpa judul.

Ruas-ruas jalan kita susuri bersama dalam cerita merenda canda. Meski kadang ada rasa malu ketika berpapasan dengan temanmu dan temanku. Bibir-bibir pantai kita perindah dalam cerita asa dan masa depan kita. Gemuruh ombak seakan menjadi melodi denyut nadi cinta kita kala itu.

27 tahun yang lalu ada panggilan nama samaran yang kita sematkan sebagai sebuah sapaaan cinta antara aku dan engkau. Mencintai tanpa sms, whatshap, facebook apalagi video call. Cinta kita, kita rajut dalam rangkaian kata dan bahasa. Cinta kita, kita goreskan dalam sapaan yang menyatukan namamu dan namaku. Namun itu terasa indah.

Dan sekarang setelah semuanya berubah. Berjalan dalam cinta dan jalan pilihan yang berbeda kuingin jujur mengatakan padamu bahwa ketika gejolak rasa mencintamu bertabuh rindu, ada getaran cinta lain yang lebih kuat memupuskan rinduku padamu. Getaran cinta itu yang sering membuatmu kecewa ketika kubatalkan pertemuan kita. Getaran cinta itu pula yang membuatku pergi tanpa kata pamit padamu.

Ya getaran cinta itu yang telah menangkap saya, masuk dalam ruang cinta-Nya, menghidupinya dalam setia dan perjuangan yang kini masih setia kumencintai-Nya, masih setia kujalani bersama-Nya menyusuri ruang-ruang kehidupan untuk membahasakan dan membagikan cinta-Nya pada banyak orang.

Kuakui bahwa aku salah tak jujur mengatakannya padamu apa yang sesungguhnya kurasakan saat itu. Menyakiti dan mengecewakanmu karena kupergi tanpa sepatah kata pamit untukmu. Membuatmu terluka karena membuatmu menanti kedatanganku yang tak kunjung hadir dihadapanmu. Namun aku juga menjadi begitu tersakiti dan terluka ketika aku harus menolak cinta-Nya. Ketika aku harus membungkam suara-Nya yang menggetarkan dan mempesonakan saya.

Kini jalan hidup kita telah berbeda. Maafkan aku yang telah menyakiti, melukai dan mengecewakanmu. Bukan kehendak dan mauku untuk menyakiti dan melukaimu, tapi karena kehendak cinta-Nya terlalu dahsyat dan kuat yang membuatku tak berdaya untuk menjauh dari-Nya.

Aku mencintaimu, namun bukan karena cinta 27 tahun yang lalu. Tapi karena Dia yang telah mencintaiku melebihi cinta kita, maka kumencintaimu sebagai umatku. Dan berharap engkaupun masih mencintaiku bukan sebagai pria yang engkau nantikan kehadirannya, tetapi sebagai imammu yang membagi cinta pada semua orang.

Semoga sakit, luka dan kecewa yang pernah engkau alami kini berubah menjadi cinta yang mencintai dan mendukung jalan imamatku. Dan kata maaf serta doa dariku untukmu yang telah bahagia bersama keluargamu menjadi dukungan cintaku agar engkaupun menjadi pelaku cinta bagi suami dan anak-anakmu.

Jalan hidup kita memang telah berbeda. Namun hanya ada satu jalan yang terus dan selalu kita jalani dan lewati yaitu jalan cinta untuk semakin mencintai imamatku dan untuk semakin mencintai keluargamu. Jika sakit itu masih membekas biarlah kuhapus dengan sebait kata, “TERIMAKASIH KARENA TELAH DAN PERNAH SINGGAH DI RELUNG HATIKU” sehingga menguatkan aku untuk semakin setia mencintai imamatku. Semoga engkau yang di sana demikianpun adanya setia mecintai keluargamu. Salam Resah dan Gelisah.

Manila: 28 Februari 2020
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update