-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

ADAPTASI ATAU TOLERANSI

Minggu, 29 Maret 2020 | 07:41 WIB Last Updated 2020-04-01T06:39:14Z
ADAPTASI ATAU TOLERANSI
Romo Edigius Menori, Pr

Kata Djan Farids (PPP) makna suara Azan selain undangan untuk salat tetapi juga mengandung siaran suci atas nama Allah. Tentu yang diundang di sini adalah penganutnya. Demikian pula siaran suci dialamatkan kepada pengikutnya. 

Namun fakta kehidupan di masyarakat kita tidaklah homogen. Dalam sebuah wilayah orang-orang dari beragam suku dan agama tinggal bercampur satu di situ. Apa yang menarik adalah bahwa sejak semula mereka hidup berdampingan dan tidak mempersoalkan keunikan dan perbedaan di antara mereka. Hal ini terutama karena perbedaan-perbedaan tersebut tidak tampak atau dimunculkan secara ekslusif dalam pergaulan sehari-hari. 

Di medan rutinitas kehidupan harian mereka bertemu, bertamu saling menjamu, berdialog dan bercengkrama bebas tanpa merasa berlainan. Mereka menyadari dan menerima perbedaan dan keunikan pilihan hidup masing-masing. Sebagaimana mereka saling mengakui dan menerima keunikan kepribadian atau sifat satu dengan yang lain. Perbedaan dan kekhasan tersebut dirasakan, namun tidak dipersoalkan bahkan dengan santai didialogkan tanpa intensi dan prasangka negatif. Hal ini karena rasa kebersamaan sebagai warga, ikatan kekeluargaan dan rasa kemanusian yang beradab sangat kuat dijunjung tinggi melampaui dan menenggelamkan sekat-sekat perbedaan agama, suku dan ras. 

Perbedaan atribut, termasuk di dalamnya perbedaan status atau pangkat, dalam kebersamaan dan semangat kekeluargan serta rutinitas hidup harian masyarakat kita, tidak ditonjolkan apalagi ditampilkan secara eksklusif. Semangat persaudaraanlah yang dikedepankan bukan semangat berbeda dan tampil beda/eksklusif. 

Katakan sebagai imam dalam masyarakat agamis, dalam pergaulan sehari-hari, saya tidak harus menampilkan atribut unik dan menuntut perlakuan khusus dan eksklusif dari umat. Tanpa atribut khusus sebagai tanda pengenal, saya tetap diperlakukan baik dan dihargai. Mengapa? Karena saling menghargai dan menghormati satu terhadap yang lain sudah menjadi ciri makluk berbudaya dan beradab, ciri masyarakat kita. Penghargaan yang saya terima dari siapa saja itu terutama karena martabat pribadi saya sebagai manusia dan bukan karena status, pangkat, agama serta atribut-atribut tempelan lainnya. 

Perbedaan atribut kiranya harus diintegrasi secara arif dalam semangat kebersamaan dan persaudaraan tanpa menghilangkan kesejatian dan otonomi diri serta keyakinan pribadi. Melebur dalam kebersamaan sebagai warga masyarakat tanpa menuntut perlakuan khusus berdasarkan status sosial dan atribut-atribut tambahan lainnya. 

Kepekaan sosial untuk menangkap dan memahami konteks dan realitas masyarakat sekitar mengharuskan kita untuk beradaptasi agar bisa hidup berdampingan secara damai. Sebagai minoritas di tengah mayoritas, kewajiban untuk beradaptasi merupakan keharusan. 

Sebaliknya pihak mayoritas wajib membangun sikap 'toleransi' atau solider (bukan adaptasi) dengan yang minoritas. Semangat toleransi (solidaritas) dalam hal ini lebih merupakan sikap yang dituntut dari yang kuat dan mayoritas terhadap yang lemah dan minoritas. Sedangkan adaptasi adalah sikap dari yang lemah dan minoritas terhadap yang kuat dan mayoriras.

Tentu tidak etis menuntut yang miskin untuk solider, berbagi, dan berkorban untuk yang kaya. Juga tidak etis kalau yang minoritas menuntut yang mayoritas untuk beradaptasi atau menyesuaikan cara hidupnya dengan segelintir warga minoritas.

Kepekaan sosial seperti ini harus dimiliki sebagai warga masyarakat. Konflik sosial terjadi sering dipicu oleh hilangnya kepekaan sosial dan sebaliknya masyarakat mulai mengedepankan semangat keegoan/individualisme, semangat kelompok/partisan.

Konflik sosial juga bisa dipicu oleh kocar kacirnya urutan skala nilai dalam kesadaran dan penghayatan hidup. Orang menempatkan yang periferi pada posisi paling penting sedangkan yang esensial dinomorduakan. Atribut atau label sosial seperti pangkat, status, agama dan suku dianggap paling penting dari pada penghormatan terhadap martabat manusia. Perjuangan demi harga diri, kelompok entah itu atas nama suku, agama dan ras tertentu, dianggap lebih penting dari pada perjuangan demi keutuhan martabat manusia  yang adil dan beradap. 

Berkembangnya kesesatan kesadaran nilai di tengah masyarakat sesungguhnya menjadi tanggungjawab semua pihak terutama pihak yang berkewajiban mencerdaskan anak bangsa dan  yang secara khusus dipanggil untuk membentuk aklak dan kepribadian anak. Secara khusus Institusi pemerintah /negara dan institusi agama tentu perlu mengevalusi dan mengeritik diri sejauh mana kesadaran akan nilai dan menghormatan terhadap martabat manusia dijunjung tinggi dalam semua regulasi dan pengajaran/pewartaan. Sejauh mana pengajaran yang  menekankan penghargaan atas martabat manusia, melebihi penghormatan terhadap atribut sosial dan simbol-simbol keagamaan dan negara dipraktekan dan dihayati di tengah masyarakat. Sejauh mana agama dan negara konsen dengan hal-hal substansial dari pada sibuk dengan simbol-simbol (ritus)  kekudusan dan kepentingan politik(kekuasaan). 

Warga masyarakat yang baik dan orang beragama yang baik sudah pasti punya kepekaan dan kepedulian sosial. Dia akan melihat orang lain sebagai dirinya yang lain dan sebagai citra Allah yang harus dihargai martabatnya. Dia juga sadar diri apakah harus mengambil sikap adaptasi atau toleransi (solider) dalam konteks lingkungan masyarakat setempat.

Oleh: Romo Edigius Menori, Pr
Penulis adalah seorang imam diosesan keuskupan Ruteng, Flores, NTT. Beliau adalah Alumnus STFK Ledalero, lalu melanjutkan Studi di Universitas St. Thomas Aquino Manila.
×
Berita Terbaru Update