-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Agama Bukannya Tidak Percaya Pada Tuhan

Minggu, 22 Maret 2020 | 15:16 WIB Last Updated 2020-03-22T08:28:52Z
Agama Bukannya Tidak Percaya Pada Tuhan
Arnol Jemadu, S.Fil 

Oleh: Arnol Jemadu, S.Fil 

Kemarin, saya sempat berdiskusi dengan seorang teman. Tema masih seputar Pandemi Corona. Kami berdiskusi lama sampai pada membahas dampak Virus Corona tehadap kehidupan ekonomi masyarakat saat ini. Mengingat, nilai dolar Amerika semakin naik. Nilai rupiah semakin terpuruk. Ini sungguh menakutkan. Lama kami bercerita sehingga ada akhinya membahas tentang perintah untuk tidak melaksanakan Ekaristi di gereja pada hari Minggu. Bahkan kegiatan seperti ketekese, doa bersama, latian koor dihentikan.
  
“Kaum beriman tidak Percaya Tuhan, ya Teman. Kalau Percaya pada Tuhan sebagai pemilik kehidupan, mati dan hidup ada di tanganNya, mengapa kita takut pada Virus Corona.”

Sahabat, Tuhan sudah memberikan kita akal budi. Kita diminta untuk berpikir terhadap segala realitas yang ada, termasuk musibah yang sedang dihadapi. Ia menghendaki manusia untuk bisa berpikir agar bisa hidup dengan baik di atas muka bumi ini.  Segala bencana dan musibah seperti virus corona bagian dari sejarah hidup manusia. Cara kita menghadapinya sangatlah penting.  Itulah membedakan kita yang berakal budi dengan ciptaan lain di muka bumi ini. 

Terkait Virus Corona, kita sudah diberi akal budi untuk bisa melihat dan menganalisa  tentang virus Corona. Darinya kita belajar tentang dampak dari Virus Corona. Akal budi itu yang mendorong kita  untuk bisa mengatasi musibah yang sedang dan sudah menimpa dunia. Bukannya kita sudah tahu tentang cara penyebarannya, malah berani  untuk berkeliraran dan berkerumun di tempat umum. Apalagi ketika membawa Tuhan dalam kebodohan kita, Hidup dan Mati ada di tangan Tuhan. Itu namanya kebodohan. Tuhan tidak menghendaki kita mati bodoh.

Agama selalu memperjuangkan kehidupan umat manusia. saya mengambil contoh gereja Katolik, ia selalu menempatkan hak hidup manusia sebagai basis perjuangannya dalam dunia. Bagi Gereja Katolik sebagaimana yang tertuang dalam ajaran sosial Gereja, ia selalu menempatkan hak hidup sebagai basis perjuangan dalam dunia. 

Gereja katolik sangat jelas membahasakan iman dalam rasio (akal budi). Hal ini sangat nyata dalam Dokumen, Fides Et Ratio, yang dikeluarkan oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 14 september 1998. Paus mengaskan pentingnya akal budi dalam beriman. Benar, bahwa Gereja memiliki misteri di dalamnya. Namun demikian  hal itu tidak membenarkan iman yang sangat  didasarkan pada rasa saja.  Paus dalam dokumen ini menegaskan, “Iman tanpa akal budi, ia berargumen, akan menjurus pada ketakhyulan (superstisi).

Dengan situasi dan kondisi sekarang, saat pergerakan virus corona yang begitu cepat, kita perlu memakai akal budi untuk menghadapainya. Virus ini tidak bisa dikompromi. Beriman atau tidak beriman pada Tuhan, ia akan masuk dan hinggap dalam Tubuh kita. jadi Stop membuat slogan, hidup dan mati ada di tangan Tuhan, bukan di tangan corona. Kita perlu memakai akal budi yang Tuhan berikan secara cuma-cuma dalam diri kita. 

Penulis adalah alumnus STFK Ledalero
×
Berita Terbaru Update