-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Air Mata Politik, Survai Berebut Kursi, Dialog Doa di Pusara Pahlawan

Minggu, 08 Maret 2020 | 07:12 WIB Last Updated 2020-03-08T00:13:33Z
Air Mata Politik, Survai Berebut Kursi, Dialog Doa di Pusara Pahlawan
Gambar hanya sekedar ilustrasi (dimabil dari jpnncom)

Air Mata Politik

Politik tanpa etik
tiada integritas
Siasat tahta menyapa setiap mata
Demokrasi prosesnya..

Logika masa..
Jemari hanya akan menentu mana yang dekat

Tidak keliru bila politik mengoyak mata
membuta
membinalkan angan
dan menyayat akal sehat
Hingga prosesnya membuta mata..

Jejak fir'auni
Harta
tahta
asmara
Cenderung mempola lidah kerakusan..

Survai Berebut Kursi

Isu kursi bertaruh tahta
melalui survai politik
popularitas
Mengoyak etika 
setiap mata yang jernih
Mengkonyolkan nalar bersendi insani
Survai lidah bibir meludah kata
Prilaku ciutan perspektif data yang absurd
Survai bagai tidur mengigau di siang bolong
Motif menaluri politik busuk..
Dan pemicu kisruh beradab koflik..
"Tidak..pan..tas"..
Saat semua baru usai dari pagelaran pemilu..

Kutulis bait sebagai ketukan nalar etik ilmiyahmu..
Dimana nurani jernih Kemana nalar keceriaaan
Suka duka politik beramuk kata
Logika sinis yang menumpul tajam..

Ternyata berlalu...
Persepsi survai telah memadamkan persada
pada bola isu tertutup
berparuh ilmiyah

Survai menalar prilaku nista
Demi mengusik harkat tahta yang melekat..

Apakah survai sebagai ekpresi pemberontakan
bermuram nista dan pilu..
bertopeng kacamata ilmiyah..
Patahkan belenggu petuah tiranis atas nama "kecerdasan dan wacana demokrasi"..

Persada sudah menjemarikan pilihan
demi demokrasi
dan bertaruh "amanah penderitaan negeri"..

Konstatasi hasil survai 
bagian amuk lidah meludah dan menista
Arogani ilmu ilmiyah
Narasi ilusi berpanji perspektif..

Semua sebagai penguatan oponi..
"Mendaulat benar pada diri dan mengkubur pretasi capaian kelompok lain yang tidak sejalan"..
Bahkan atas nama "demokrasi"... membangun tirani politik nepotisme ilmuwan..

Kutulis surat ini
Saat darah kesantunan menggelegak di dada
Membajak lidah mulut
berapi ganas di tangan "survai politik demi sensasi dan  amuk kata berebut kursi"..
Pedang keadilan telah memitologi Perisai kebenaran telah dirobek panduan demokrasi jalanan
Sadari srikandi rana pait dan tipu.. 

Hadapi realita
Jangan lagi memata sadis sebelah..
Sembunyi diri lebih  beradiluhung, ketimbang merobek langit persada..

Dulu..
Tak ada aral yang mampu merintang
Semua yang menghadang keterjang
Pudar
Buyar ikatan nurani

Kini berhamburan berpolitik brutal Segera bersanding pada lubang pusara
dan
mati tertusuk arogansi yang menggelapkan sinar sendiri..!

Dunia publikasi penuh menyenangi
Bila konflik barathayudha  terjadi

Atas logika untuk menguji ketulusan hati
Padang rumput politik sudah tak bernyali dan bernyawa lagi

Kurawa reformasi pupus mati tercekik sendiri
Tiada mungkin menggerung irama politik  kebenaran..

Partai arogansi berebut tahta
Hilang adab dan kesantunan persada..

Dialog Doa di Pusara Pahlawan

Saat kurun zaman menggugat jejak nafas masa lalu
Jerih darah nyawa tiada harga
Tertuduh
Terhujat
Terendahkan..
Waktu yang akan membela

Melepaskan lega mengintip separuh sisa yang ada 
Bertaruh untuk sebuah impian
Memulyakan jejak
demi harkat insani negeri..

Di sini darah tertumpah dari rahim pertiwi
Tumpah darah
Tanah air kehidupan
Panji adab budaya persada
Akankah kini semua terkoyak
Oleh nalar-nalar zaman dan ocehan seribu bahasa menista..?

Para petaruh nyawa
Para pejuang harkat bangsa
Melumat doa nadi darah dalam pusara..
Bahwa sinar purnama
jadi jendela mentari
bersebilah suara
menggugat Atas kecemasan zaman
yang berantai korup tipu dan keculasan..

Nalar jernih selalu membaca arah angin 
bersimponi dengan keadaban pertiwi..

Zaman terkulai
serat anyaman benang kusut
Muka persada mengekspresikan raut kebingungan
Tiada senyum sayunnara ceria
Mata hati terkerangkeng
dan tertidur nyenyak memimpi mutiara seluas langit
Semua hanya bisa menghitung titah langkah srigala pembunuh

Sederet prahara mengkoyak makna idiologi
Tahta jalanan
menghujat, dan
salahkan semua yang ada..
Insting diri para punggawa silau bererbalut tahta asmara dan harta..

Ketika melepaskan lega untuk sebuah impian
Sang pelukis bait kata
mencetusan jejak doa para pahlawan
Semua bisu seribu bahasa

Mata-mata zaman membuta
entah  hingga kapan..??

Petaka Langit Hitam

Harkat
Melekat
Substansi karat diri dan predikat
Pangkat tanda keunggulam
Derajat bukti kehormatan 
Taraf pendidikan tangga kepiawaian jiwa
Capaian otak memulya insan mudahi hak kewajiban..

Berharta tanda limpah karunia
Ganteng cantik tabeat alami

Watak dan prilaku
muara prestasi makna diri
dan proses insan memulya bumi..

Muara semua keharmonisan jiwa nurani 
Dalam jalani 
"bumi diinjak langit dijunjung tinggi"..

Tidak terdengar lagi
Bibir mencerah
Mata memulya
Mulut meratap
Nalar merahmah
Peranggai mendakwah
Prilaku mencerah..

Ramai dalam sunyi
Ludah berbisa
Ikut liarkan ciutan
Otak culas
Jejak singa di hutan kota
Srigala bertahta berbulu domba
Fir'aun dan pewaris adabnya

Musibah 
tanda alam bumi langit sudah bosan
Terkuras
Diekploitasi tiada henti
Limbah meracuni
Bumi merongga dalam gegap menggempa
Langit merah berkabut asap Udara menyesakkan setiap urat nafas 

Tuhan..
Rindu jejak tapak kaki suci alami mensorga
Resah pada harkat petaka neraka 

Ceriakan sisa waktu
Jalani diri ikhlas
Tapaki kaki penuh lurus
Langkahkan kaki penuh waras
Dekatkan pada tahta harkat sorga-Mu..!

Izinkan Aku Mencintai

Berlari dalam roda jalanan pagi
Menyimak syair merindu
Melumat kagum kerinduan menadi

Ibu..
Aku kenal seorang juwita-jelita
berwajah sempurna
berparas santun anggun kharisma
berbudi baik penuh empati
bertutur lembut mengkesima..

Ibu..
Aku terpesona
Aku terkesiman hingga mengusik dada..
sosok juwita yang menyempurna
pelengkap jejak cinta yang merebah ridlo
demi keharibaan ridlo Ilahi..

Ibu..
Jangan penggal hasrat rindu cintaku
demi kasih yang masih menunda

Ibu..
Aku janji tidak ada air mata mengalir
membasahi hati
Aku sepakati tidak ada sedih gulana yang memuara..

Mungkinkah detak nurani suci ini..
akan menjadi kenyataan..!

Gelora Asmara

Terpahat hati
dan terukir rasa jiwa
dalam sanubari
mampu
menahan gelora rasa
datang sepi menyapa

Rayuan kasih
telah memabukkan
buaian
alunan kasih asmara
dan kecup sunyi 
pertanda fakta
pengakuan nurani
kesaksian jiwa raga sanubari
dan kerelaan tak akan tertambat pada siapapun lagi

Menunggu diri
di sudut sepi hati
bertabur gemintang di langit dan menyaksi

Lawati senja pagi menggayung badai asmara
yang datang melanda hati..!

Cincin Berlian Kasih

Kusematkan cincin tanda
Pertaruhkan jiwa
Nyatakan janji setia
Goreskan nurani sukma

Bunga mawar terurai kalbu
Dalam seyum meranum sahdu
Seiring pagi fakta membisu
Demi seutas tali sukma mengkalbu 

Kataku katamu
Pintamu jawabku
Janjimu setiaku
Ikhlasmu relaku

Angin pagi sore melangit
Aku hadir dalam asmara yang melaut
Kau membakti dalam satu jiwa  berkaki langit
Aku ukir nafas sahdu untuk yang terakhir...!

Gapai tangan menjemari
Gontai lengan melukis hari
"Tuhan berkati semua ini"..
Cincin kuning yang melekat di jemari hati...!

Nyanyi Nurani Kerinduan

Rindu menyerpih retakkan hati nurani, 
narasi nyanyian rindu yang indah, seakan masih adakah lagi hari esok..

Langit negeri terhiasi bintang indah, bumi terhiasi pohon dan bunga bunga mengaroma..
Suara suara pipit menjadi saksi narasi kerinduan;
dan desahan daun tersapu kabut dan angin pagi..
terracik  intrik lamunan demi gemulai sahdu hilangkan kerinduan..!

Sekian waktu ..
Hanya berlabuh lewat pandang bingkai foto yang menyuara keanggunan, 
kelembutan dan seyuman sumber kasih..

Kemana jentik jemari kecil manis ini harus memetik seyum seyum bunga mawar 
dalam beranda bingkai cantikmu..
Daun daun hijau wajahmu mendengungkan zikir dan tasbih suci dan kesalehan..

Daun mawar melambaikan aroma guna hilangkan lusu lesu dan layu..
agar mawar harumku selalu pandai bicara..

Seiring hari hari tambah rindu dan menoreh relung relung hati yang terdalam..
Katup clotehan narasi para pujangga bak blukar safana kering yang terhembus badai panas..
akankah mehanguskan kerinduan ini..

Aku rindu indahmu
Aku bagian sayumu
Aku rindu bait bait syair indah pujangga ..
yang kau lantunkan 
menarasi rindu insani..
Rinduku..rindumu

Tuhan damaikan hati untuk raih kasih, agar bibir basah ini pandai 
mensyukuri jutaan luas nikmat-Mu..!
Anggun lembutmu mengantarkan nyanyian rindu untuk selalu berzikir dan berdoa pada Ilahi..
Tuhan jaga adanya dengan syair menzikirkan dan mendoa rindu ini..
"Betapa sahdu syairmu membuat rindu akan menyemai  selalu",

Rindu ku rindumu
Resahku resahmu
Seyumku manismu
Syahdumu bahagiaku..!

Andai Hujan Berpuisi 

Puisi..
puja untuk ke..indahan
serasi bagi insani semata

Andai hujan dapat bersihkan jiwa yang kotor..
Akan bersih dunia dari fitnah dan teror..

Umpama hujan dapat memupuk kesetiaan
Maka bersihkanlah dunia dari segala benci dan dendam 

Butiran hujan dapat melunakkan dan membasuh nafsu korupsi..
tiada  prilaku tipu korup dan nalar kontroversi 

Butiran hujan menjadi peluru tajam 
agar tiada keserakahan
dan tiada jejak gerak tanpa hati

Kilatan hujan mampu melunakkan cadas di hati
akan tiada dusta dan dendam tertumpahkan 

Bulatan air hujan mampu memadamkan rimba terbakar 
yakinlah nurani setiap diri adalah lautan syukur yang tidak akan kering

Basah bumi berair hujan kuasa mencegah peperangan
akan damai hidup dalam "bumi di sorga"..!

Bila hujan mampu basahi dan sejukkan jiwa,
bersihkan nurani,
sucikan sikap sifat prilaku,
dan ceriakan nalar amanah..
Dunia akan tercurah nikmat tiada henti dari langit tujuh

Oleh: Fajriudin
×
Berita Terbaru Update