-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

ALLAH BERGANTUNG KEPADA PERAWAN MARIA

Kamis, 26 Maret 2020 | 10:17 WIB Last Updated 2020-03-26T03:17:01Z
ALLAH BERGANTUNG KEPADA PERAWAN MARIA
Romo Fidelis Wotan, SMM (Foto istimewah)

Oleh: Romo Fidelis Wotan, SMM

Pengantar

Berbicara tentang inkarnasi tanpa melibatkan peran Maria adalah suatu hal yang tidak mungkin. Inilah yang kemudian menjadi alasan dasar mengapa St. Montfort selalu berbicara tentang inkarnasi dalam hubungannya dengan Maria. Ia memahami inkarnasi sebagai misteri cinta, yakni cinta Kristus yang menghampakan diri-Nya dengan mau taat kepada Maria (BS 18).

Yesus Kristus tidak hanya sekedar mengosongkan diri, tetapi dalam pengosongan-Nya itu, Ia sungguh-sungguh menggantungkan diri-Nya pada Maria. Menurut Richard bahwa pada dasarnya, Montfort tidak menolak istilah kenosis walaupun ia jarang menggunakannya. Akan tetapi di pihak lain, ia berusaha memahami kenosis dengan pola pemahamannya yang unik. Ia memahaminya dengan lebih menekankan istilah dependence (ketergantungan). Istilah ini dipakai Montfort karena menunjukkan semangat ”ketaatan” Yesus kepada Maria (BS 18, 261:1). 

Yesus Kristus dan Ketergantungan-Nya pada Maria

Montfort melihat bahwa Sang Kebijaksanaan yang menjelma, Yesus Kristus sungguh-sungguh mau bergantung kepada Maria. Mengapa Ia mau bergantung kepada Maria? Ada beberapa alasannya, yakni pertama, Ia mau menemukan kesenangan-Nya di sana. Kedua, di dalam ketersembunyian itu, Ia melakukan mukjizat-mukjizat. Ketiga, di dalam Maria, Ia menemukan kebebasan-Nya dalam keadaan terkurung.

Keempat, di dalam Maria pula, Ia mengembangkan kekuatan-Nya dalam kemuliaan yang penuh dengan membiarkan diri dikandung olehnya (BS 18). Ini berarti bahwa Ia meluhurkan kedaulatan dan keagungan-Nya dengan bergantung pada Maria. Ringkasnya, Ia mau mengosongkan diri- Nya dengan bergantung kepada Maria.

Montfort tidak hanya berbicara soal ketergantungan fisik kepada Maria pada saat penjelmaan, tetapi juga ketergantungan pribadi seorang anak kepada ibunya, yang diterima Yesus. Ketergantungan-Nya pada Maria tersebut dilanjutkan pada waktu kemuliaan-Nya di Surga. Montfort menulis: Rahmat menyempurnakan kodrat dan kemuliaan menyempurnakan rahmat. Jadi di Surga, Tuhan Yesus masih tetap Putra Maria sama seperti dahulu di bumi .... (BS 27; bdk. 29, 164-165; CKA 205). Pernyataan Montfort ini seakan-akan menunjukkan bahwa Maria benar-benar berkuasa atas Yesus, bahwa ada ketidaksempurnaan dalam diri-Nya sehingga harus tunduk dan mau bergantung kepada Maria. Ia justru menegaskan sebaliknya.

Ketergantungan Yesus pada Maria tersebut adalah suatu bentuk perendahan diri Allah. Meskipun demikian, ini bukan berarti bahwa ada ketidaksempurnaan dalam diri Yesus oleh karena ia dilahirkan oleh Maria. Montfort menolak kalau pernyataannya itu ditafsir demikian. Menurutnya, Maria berada sangat jauh di bawah Putranya yang adalah Allah. Maria tidak memberi perintah kepada-Nya sebagaimana layaknya perintah seorang ibu duniawi kepada anaknya. Menurutnya, kalau dikatakan bahwa segala sesuatu di surga dan di bumi, malahan Allah, tunduk kepada Maria, maka sebetulnya Allahlah yang berkenan memberikan kuasa yang begitu besar kepada Maria sehingga kelihatannya seakan-akan Maria berkuasa sama seperti Allah (bdk. BS 27). Dengan demikian, ketergantungan Yesus kepada Maria sebagai seorang anak dengan ibu harus dilihat secara lain antara ketergantungan selama di bumi dan ketergantungan setelah Yesus sudah berada dalam kemuliaan-Nya.

Menurut pemahaman Richard, ketergantungan Yesus pada Maria merupakan dasar dari Spiritualitas St. Montfort dan dasar dari ketaatan kepada Maria yang diminta dari setiap orang Kristen. Ia melihat bahwa semuanya ini merupakan usaha untuk mengikuti Kristus (lih. CKA 226, BS 139, 155-156, 157, 162, 198, 243, K 76:2) dan bahkan mengikuti Allah Tritunggal yang memilih untuk ”bergantung” pada Bunda Maria guna melaksanakan misteri penjelmaan (BS 140). Ibid., hlm. 547.

Yesus Kristus yang Hidup dan Meraja dalam Maria

Montfort menggunakan frasa ”Yesus Hidup dan Meraja dalam Maria” untuk menggambarkan apa yang dibawa oleh misteri penjelmaan kepada Maria dan dalam waktu yang sama, apa yang akan dibawanya kepada manusia, yaitu kerajaan yang datang dari Yesus. Terhadap kenyataan ini, Montfort menegaskan bahwa Maria tidak hanya mendapatkan ”keuntungan” dari perluasan misteri ini kepada manusia tetapi, ia juga ikut mengambil bagian secara aktif dalam proses itu. Montfort melihat bahwa Yesus tidak memilih sarana lain yang paling memungkinan diri-Nya menjadi manusia. Ia justru memilih Maria untuk mengosongkan diri dan menyembunyikan kesemarakan-Nya dan meraja di sana. Dengan demikian, benarlah apa yang dikatakan Montfort bahwa Ia mau meraja atas manusia melalui Maria semata-mata demi kemuliaan Bapa-Nya dan kekuasaan nama-Nya (K 111: 4).

Montfort sangat mengagumi misteri ini. Ia melihat bahwa Yesus Kristus hanya mau datang ke dalam dunia melalui satu-satunya jalan yang telah dipilihnya, yakni, lewat Maria. Allah, tentu dengan segala kekuasaan-Nya, bisa saja memakai segala cara untuk datang ke dunia tanpa perantara, akan tetapi itu tidak dilakukan-Nya. Ia melihat penghampaan Yesus melalui Maria sebagai sesuatu yang mengherankan. Montfort bertanya bagaimana mungkin Dia yang Mahatinggi, yang Tak Tertampung Sang Tak Terhampiri, ”Dia-yang-ada” (Kel 3:14) mau datang kepada manusia.

Catatan Akhir

Yang Mahatinggi turun ke dalam dunia dengan cara yang sempurna dan ilahi melalui Maria yang rendah hati. Montfort tetap meyakini bahwa pada peristiwa penjelmaan ini, Yesus Sang Kebijaksanaan yang menjelma tidak kehilangan apaun dari ke-Allah-an dan kekudusan-Nya. Ia sekali tak terbagi dan tak bercampur. Montfort melihat pula bahwa Yang “Tak Tertampung” ini mau membiarkan diri- Nya ditampung sepenuhnya dan dilingkupi secara sempurna oleh Maria yang kecil, tanpa melepaskan sedikit pun ketakterbatasan-Nya (kodrat) sebagai Allah. Dalam poin ini, Montfort meyakini bahwa Allah mendekati manusia, mempersatukannya dengan diri-Nya secara mesra, sempurna dan malahan secara pribadi dengan kemanusiaan manusia. Dan pada akhirnya, ia menunjukkan suatu sikap pengosongan diri Yesus Kristus. Ia mengatakan bahwa Yesus mau datang kepada ”yang tiada” untuk mengilahikannya (bdk. 2 Kor 8:9). Ia berkata :

”Akhirnya, ”Dia-yang ada” mau datang kepada yang tiada, dengan maksud membuat yang tiada menjadi Allah atau ”Dia - yang ada”. Ia telah melaksanakan hal ini dengan cara yang paling sempurna, yaitu dengan menyerahkan dan menundukkan diri seutuhnya kepada perawan Maria yang masih remaja. Namun dalam kefanaan, Dia tidak berhenti menjadi ’Dia-yang- ada sepanjang segala abad’ ” (BS 157).

Pernyataan Montfort di atas, kiranya membantu pembaca untuk semakin mengerti mengapa Yesus menundukkan diri-Nya kepada Maria. Jadi ringkasnya, di dalam pengosongan diri Sang Sabda ini (kenosis), manusia diilahikan (theosis). Ringkasnya, dalam misteri inkarnasi terjadilah pemanusiaan Allah (kenosis) dan pengilahian manusia  (theosis) sebagaimana yang dipikirkan pula oleh Bérulle.

DAFTAR BACAAN

AGUNG, LEO “Sermon LIV On the Passion, pt. III 1” dalam Philip Schaff (ed.), Nicene and Post-Nicene Fathers of the Christian Church Second Series, Publishing Company WM. B. Eerdmans, Grand Rapids Michigan, 1989.

DE MONTFORT, LOUIS-MARIE GRIGNION, Bakti Sejati Kepada Maria
(BS) terj, Mgr. Ishak Doera, Pr, SMM, Bandung 1994.

  , Cinta dari Kebijaksanaan Abadi, terj SMM, Bandung 2004. GAFFNEY P., ”Consecration” dalam STEFANO DE FIORES (ed.), Jesus Living in Mary: Handbook of the Spirituality of St. Louis-Marie de Montfort, Montfort Publications, Bay Shore, NY, 1994.

J. PAYNE, RICHARD, “Incarntion” dalam STEFANO DE FIORES (ed.), Jesus Living in Mary: Handbook of the Spirituality of St. Louis- Marie de Montfort, Montfort Publications, Bay Shore, New York 1994.

MARIE GENTLE, REV. JUDITH, Jesus Redeeming in Mary, The role of the Blessed Virgin Mary in Redemption According to St. Louis Marie Grignion de Montfort, Montfort Publications, Bay Shore, NY 2003.

THOMPSON, W. A., Bérulle and the French School, Paulist Press, New York 1989.
×
Berita Terbaru Update