-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Bapak Frans Teti yang Pernah Diwawancara PBB Tutup Usia

Selasa, 03 Maret 2020 | 19:30 WIB Last Updated 2020-03-03T12:30:46Z
Bapak Frans Teti yang Pernah Diwawancara PBB Tutup Usia
Bapa Frans Teti pernah diwawancarai PBB tutup Usia

Judul ini bukan sekedar kabar kematian, tapi orang ini saya kategorikan dalam peribahasa, "gajah mati meninggalkan gading di Afrika, manusia mati di NTT meninggalkan iman dan harum kusuma bangsa". Almarhum ini tokoh dibalik layar bagi NKRI dan dunia, itu dari pengalamannya selama pergolakan dan integrasi Timor Timur dulu yang menggemparkan dunia. Secara tidak langsung, kemandirian Timor Leste sebagai satu negara merdeka saat ini juga tidak terlepas dari kehadiran Frans Teti yang mendunia pada masa kacao balao itu.

Ia tampil di kemah pertemuan internasional di medan perang tanpa sandal, hanya pake sarung dan topi petani, mulut makan sirih pinang serta tembakau bulat plintir sebesar biji bakso nongol jepit di bibir kanan. Dalam tampilan "kampongannya" itu ia diwawancarai wartawan dunia dan utusan PBB. Woii.... Bobot bicara dan kemampuan bahasa Jerman dan Inggrisnya menggemparkan tamu kelas dunia itu, dan itu membuat para utusan PBB kagum campur terkejut sehingga memutuskan untuk memperhitungkan sebagian wilayah dunia yang disebut Timor Timur ini sebagai wilayah yang mandiri untuk menentukan nasib sendiri dalam tatanan bernegara di dunia. Dampak lebih jauh adalah kini di wilayah itu ada negara berdaulat yang bernama Timor Leste. Peran pahlawan tak dikenal ini, Frans Teti, turut diperhitungkan bro! Tampilan kampongan dengan misi mulia, pake otak skala dunia. Utusan PBB dan wartawan internasional pung mulut menganga. Unbelieveble! Cukaminyak! Sebagian detail tentang ini akan saya tampilkan dalam bentuk percakapan saya dengan beliau saat berjumpa darat di Bali beberapa tahun lalu.

Tentang dia, saya mendapat kabar pagi ini di Labuan Bajo, dari ponakannya di Belu, nona Ima Bere, bahwa Bp Frans Teti telang berpulang pagi ini jam 5 di Kupang. Ia menderita sakit gagal ginjal selama lebih dari setahun.
Bukan hanya sekedar relasi pribadi saya mengupload berita kematian beliau, tapi saya mengenalnya sebagai insan bermutu & bermakna bagi sesama, terutama dari tulisan2 pencerahannya di efbe. Pernah sekali berjumpa di Bali ketika ia memenuhi undangan temannya yang menjadi bishop Gereja Katolik Ortodox di Singaraja. 

Semasih muda, setelah keluar dan tamat dari sekolah tinggi filsafat di Ledalero, ia kembali ke kampungnya di Belu, daerah bersebelahan dengan Timor Timur saat itu yg masih berstatus perang saudara menolak penjajah Portugis dan masuknya tentara Indonesia. Uskup Belu misionaris Belanda dalam rapat yang cukup tegang dengan dewan keuskupan, meminta kesediaannya untuk menjadi guru agama Katolik di seberang perbatasan. Ia pergi membaur menjadi rakyat penduduk Timor Tinur. Saat ia cerita kepada saya, ia mengatakan "saya sebagai misionaris awam yang diutus ke daerah perang. Saya sudah bersedia menghadapi nyawa saya diujung peluru".  

Sewaktu jumpa di Bali, beliau menginap di penginapan ordo CDD Denpasar, ia bercerita bagaimana ia diikutkan bersama penduduk di sana untuk menyambut tamu PBB saat penentuan integrasi atau tidaknya Timor Timur ke Indonesia. Ia hadir bersama tokoh2 kampung yg pro integrasi. 
"Wartawan dunia dan tamu PBB kaget Pa Jon, karena saat kami ditanya, kami ditawari pakai penerjemah bahasa, saya langsung omong, 'English ok, Germany oke,Tetun oke, which one you enjoy, I'm ready' kata saya kepada mereka sambil buang ludah dari kapur sirih dan tembakau sebiji bakso yang nyantor di bibir kanan mulut saya. Dan sayalah orangnya atas nama rakyat Timtim yang dimintai pendapat. Koran internasional bergema, bahwa rakyat kampong di TimTim fasih berbahasa Inggris dan Jerman. Mereka ternyata bukan orang bodoh. Unbelieveble!

"Pak Frans emangnya tawarkan diri untuk itu?"
"Tidak Pak Jon, saya diminta tentara ke medan pertemuan itu, dgn ..hehe..todongan senjata laras panjang. Saya disuruh pakai sarung, tanpa alas kaki, kasi lumpur dikit di kaki, topi robek, makan sirih, tembakau nongol di bibir kanan, tampilan org kampong lah!"
"Oii...."
"Iya... Dan saya juga ikut aktif saat deklarasi bersama rakyat pro integrasi!. Bukan bermaksud tunjuk jasa Pa Jon, bahwa  pengaruh saya sebagai "orang kampong" dari daerah jajahan Portugis itu, fasih berbahasa asing, pendapat saya tentang kehidupan, hak azazi manusia, membuat dunia berbicara bahwa rakyat Timor Timur patut diperhitungkan sebagai insan di dunia yang layak hidup merdeka dan menentukan pilihan sendiri. 

Banyak lagi hal yg bermakna dari Pak Frans untuk sesama yang tak sempat saya tuliskan. Selain berjumpa, kami berdua adalah sebagai admin akun group rohani di efbe, "Santapan Rohani". Ia juga menawarkan sebuah program dari Jakarta dimana saya akan dipercayakannya untuk menjadi koordinator 7(tujuh) kabupaten, 3 kabupaten di Manggarai, Ngadha, Ende dan Nagekeo. Saat menderita fisik lebih parah 2-3 bulan lalu, saya sempat nelpon. Sebelum natal 25 Desember 2019, ia juga pernah telpon saya sekitar jam 2 pagi dari Kupang setelah jeda tanpa kontak sekitar satu 2 bulaban sebelumnya. Memang sudah menjadi kebiasaan kami, kalau rindu diskui, kami dua saling telpon, dan itu sudah berlangsung hampir 10 tahun lebih sejak berteman di efbe. Tengah malam itu kami ngobrol, dan ia menyampaikan sesuatu yang penting. Obrolan kami sebagai berikut : 

 "Pak Jon, saya betul2 merasa sepi di rumahku malam ini, istri dan anak saya sedang tidur lelap, saya tidak bisa tidur, sakiiiit, hah!. Lalu saya nelpon Pa Jon, maaf ya mengganggu". 
"Rasa2nya senior sedang mengambil sedikit bagian saat Tuhan Yesus tidak dapat tidur di Taman Getsemani, murid2Nya saat itu tidur lelap, ia berdoa dalam keadaan berkeringat darah!"
"Ya entahlah... tapi siap ambil bagian bersama Tuhan, malam ini saya tidak bisa tidur"
"Saya juga senior,  heran susah tidur malam ini, agak gelisah saya, dan barusan saya rebah 5 menit, lalu hp saya berdering. Rupa2nya ada kontak di alam bawah sadar"
"Pa Jon, dalam derita fisik yang tak terperikan ini, saya hanya mau sharing bhw semakin saya menderita semakin saya bersukacita karena waktunya sudah dekat untuk berjumpa Tuhan, ya saya bilang ke Pa Jon, ini mungkin yang terakir saya telpon di ujung ziarah kehidupan ini, mungkin menjelang pagi sebentar, sebelum matahari terbit, saya meninggal suda! Ah..."

Setelah selesai telpon itu, saya berdoa penyerahan Pak Frans kepada Tuhan agar menyambut jiwanya. Bila perlu ya Yesus, 'nongol sedikit wajahMu kepada Pa Frans menjelang pagi". Paginya saya bangun dan berpikir, "oee... pak Frans sudah meninggal di Kupang. Tuhan terimalah dia, ampunilah segala kekurangannya". Eh malam harinya hp saya berdering, saya pikir mungkin ini anaknya yang pake hape bliau, mau kasitau kabar duka. Eh tapi, justru suara Pa Frans yg omong, "Pak Jon, saya belum mati hari ini, hehe....! saya justru merasa segar, rasa sakit semua hilang!". Saat itu kami tertawa, karena doa penyerahan kami semalam tidak dikabulkan Tuhan. Konyol timing doa penyerahan, hahaha...!

Dan selama selama satu bulan terakir  ini kami tidak telponan, dan ketika bangun pagi ini saya dapat kabar kalau Pa Frans benar2 sudah meninggal. "Tuhan, ampuni dosa Pa Frans dan dosa saya yg meng-iya-kannya atas mendahului kehendakMu untuk meninggal waktu bulan Desember 2019,  karena ternyata waktuMu adalah pagi ini 3 Maret 2020, hehe.. Tuhan", doa saya sambil imi amas (malu2).

Terimakasih Pa Frans atas kesediaannya selama ini utk berbagi di medsos maupun saat berjumpa. Selamat berbahagia bersama Tuhan dalam surga kekal. 
Maksud postingan ini agar berkenan teman2 medsos mendoakannya. Tak ada gading yang tak retak, tak ada manusia yang sempurna. Dan Pak Frans termasuk di dalamnya, selain Tuhan memang menerima perbuatan baiknya. Terimakasih.

Entah kapan jenazahnya dimakamkan, saya belum tahu. Kalau saya tahu, saya pun tidak bisa datang ke Kupang. Tapi pemakamannya tentu tanpa upacara kenegaraan, tanpa bunyi tembakan senapan laras panjang ke langit Indonesia 17x,  tapi Tuhan yang melindungi Negara Kesatuan Republik Indonesia mencatatnya dalam buku Kehidupan di surga. Mungkin juga misa requiemnya tanpa Uskup Belu yang baru sebagai selebran utama, karena mungkin Sang Uskup tidak sempat membaca file rapat2 penting pendahulunya. Tapi yang jelas, catatan tentang dia di buku Kehidupan tak ada yang terlewatkan, tidak kenal lapuk oleh rayap apalagi tak kenal virus yang mengaburkan data kehidupannya.

Sekali lagi, mohon doanya untuk sang pahlawan tanpa dikenal bangsa ini. Sekali lagi, terimakasih.

Oleh: Jon Kadis
×
Berita Terbaru Update