-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Berpikir dan Merasa

Jumat, 20 Maret 2020 | 22:40 WIB Last Updated 2020-03-20T15:40:48Z
Berpikir dan Merasa
Romo Edi Menori

Posisi kepala, mata dan mulut kelihatannya tak seberapa jaraknya. Ketiganya menyatu dalam satu pribadi. Tapi kadang ketiganya tunduk ikut kemauan perasaan. Mata bisa menyangkal fakta, mulut bisa mengabaikan kebenaran. Rasa yang meraja mengendalikan ratio. 

Tanpa keberanian untuk memerdekan diri dari penjara emosi dan mengambil jarak dengan diri dan segala harapan dan kepentingan subyektifnya, kata-kata dan tindakan kita akan jauh dari kebenaran. Kegagalan mengambil jarak yang ideal dengan diri,  cendrung memaksa orang untuk membenarkan diri dan merasa diri paling benar. 

Kita berbeda dengan orang Eropa, katanya. Bagi kita orang Timur hampir tak ada jarak antara berpikir dan merasa. Saya rasa dan saya berpikir cuma beda tipis. Itulah sebabnya kita tidak siap berbeda pendapat. Perbedaan pendapat kita mengerti sebagai penolakan atas pribadi. Ratio sudah terkontaminasi oleh dominasi kabut perasaan.

Manakala kekuatan ratio dan rasa berperan proporsional dalam diri, - dalam arti ratio tetap menjaga keseimbangan maka, kata dan tindakan bakal tampil arif. Keseimbangan dan proporsionalitas dalam berkata dan bertindak mengandaikan kesetiaan mengambil jarak dengan diri, perasaan dan kecendrungan (negatif) dalam diri. 

Ungkapan berikut kiranya menjadi model kearifan dalam bertutur dan bertindak terutama di tengah sikutan dan gesekan perbedaan pilihan politik di Negeri ini; "Biarkan perasaanmu berenang dalam laut bergelombang namun hendaknya ratiomu tetap di pantai memantaunya." 

Tanpa mengambil jarak dengan diri dan emosi yang subyektif kita cendrung membesarkan persoalan kecil dalam diri orang yang tidak kita suka dan membiarkan masalah besar tetap nyaman tinggal dalam diri orang yang secara emosional kita suka. 

Kebencian tak bakalan dapat memperbaiki dan mengubah seseorang selain menjauhkannya dari diri dan harapan kita. Hanya dengan mencintai kita menghadirkan rangkulan Tuhan yang mengubah dan menobatkan orang berdosa.

Bila sikap dan disposisi irational mendominasi kehidupan berbangsa dan bernegara, saya yakin indonesia yang jaya dan bersatu tak akan terwujud, selain hanya dalam mimpi.

Oleh: Romo Edi Menori
Ketua Yayasan SUKMA Keuskupan Ruteng, Manggarai, NTT

Kontak: redaksisocietasnews@gmail.com
×
Berita Terbaru Update