-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Bahaya Yang Tak Kelihatan

Kamis, 12 Maret 2020 | 18:02 WIB Last Updated 2020-03-12T11:33:06Z
Bahaya Yang Tak Kelihatan
Pater Tarsy Asmat, MSF

Dunia tersentak, pembunuh bernama Covid-19 mengeliling dunia, mempermainkan kehidupan manusia. Dari mana sebabnya? Bagaimana menangkalnya? Semua gamang.

Ada apa ini? Kadang kami bawa dalam lelucon, padahal kami sangat takut! Kadang kami mengingat akan Tuhan, padahal setiap hari kami selalu bertengkar pada perkara duniawi, perkara kebenaran sepihak. Jiwa kami meringkik malu. Terlalu konyol kehidupan ini.

Kehidupan yang mengistimewakan kemegahan harta. Kehidupan yang sampai melupakan sesama, bahkan menggeserkan pencipta dari jantung kehidupan dunia.

Kini semua orang, di banyak negara, melarang berjumpa, bersalaman, duduk berdekatan untuk menukar rahasia. Seakan pedang tajam berkeliaran mengintai nyawa yang lemah dan membunuhnya tanpa ampun.

Sekali lagi, ada apa ini? Orang-orang mulai was-was! Apakah ada yang mengatur semua ini? Apakah ini semua ujung dari hasil ketamakan manusia, dari uji coba ilmiah tanpa moral, ataukah dunia yang memulihkan tatanannya karena manusia terlalu antroposentris?

Lihat! Karena harta, struktur dunia tak adil, peperangan merampas kebahagian, teroris menakutkan kebebasan dan intoleransi menjauhkan kekeluargaan. Dunia sebenarnya terpecah dan manusia terlalu lemah sebagai satu spesies yang universal.

Kini hidup manusia dibawanya di tepi jurang pembantaian. Membuat orang menghitung hidupnya lagi, membuat orang merenung untuk apa hidup ini jika sang Corono merampas semuanya? Ia mengintai mereka yang berjalan, rekreasi keliling dunia untuk menikmati kebahagian mereka. Ia membawa di depan pintu rumah wabah bagi para penunggu kampung yang tak tahu, selain hanya pasrah.

Oh sekali lagi ada apa semua ini? Manusia disisakan sedikit harapan. Harapan itu tidak pada barang-barang, tetapi pada sesuatu yang membuat kami semua merasa bersatu sebagai manusia.

Kami hanya saling memberi harapan. Mengarang cerita untuk bahagia, walaupun dalam hati kecil berdoa, Tuhan semoga semuanya berlalu, lebih cepat dari segala ketakutan.

Ya, aku menyadari, hanya iman dan cintalah yang kuat melawan pedang Covid-19 ini. Cinta dan iman ada pada mereka yang berani membantu sesama. Mereka yang solidaritas antara sesama, dan bertahan pada penderitaan. Serta keberanian untuk tidak memiliki.

Banyak orang menjadi manusia ketika penderitaan masal terjadi. Banyak orang kembali merenung dan barangkali berevaluasi cara hidup kita di dunia ini. Kita barang kali hidup dalam kesendirian sampai merusak ekosistem sehingga mahluk-mahluk lemah membunuh kita dengan cara yang kita tidak tahu.

Semoga semua cepat berlalu, dan kita dapat menggenggam tangan lagi sebagai sesama manusia. Dan orang dari satu negeri dapat berbagi sukacita lagi bagi negeri lain.

Mungkin Tuhan sedang lewat! Dan aku hanya selalu berpikir sebagaimana manusia yang hanya mengandalkan rasionalitas!

Bagi penjual masker, jangan kau naikan harga masker, nanti kau lebih jahat dari Covid dan untuk apa juga kalo orang membawa covid pada ketamakanmu!

Oleh: Pater Tarsy Asmat, MSF
×
Berita Terbaru Update