-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

CATENACCIO : Strategi Petarung Sepakbola dalam Politik

Rabu, 11 Maret 2020 | 11:54 WIB Last Updated 2020-03-11T05:21:54Z
CATENACCIO : Strategi Petarung Sepakbola dalam Politik
Rm. Edigius Menori

Dalam sepak bola kita tentu mengenal istilah "catenaccio" atau "gerendel". Strategi bertahan untuk memperkuat daerah pertahanan sendiri, dengan demikian dapat mematahkan serangan lawan. 
Ada 2(dua) tujuan yang ingin dicapai dalam menerapkan strategi gerendel ini yakni bertahan untuk menang dan bertahan untuk menyerang.

1. Bertahan untuk menang. Tujuan dari penerapan strategi ini yakni untuk mempertahankan posisi 'leading' agar keluar sebagai pemenang. Tentu kesadaran akan kelemahan lini pertahanan juga menjadi alasan mengapa semua pemain ditarik ke belakang untuk bertahan.  

2. Bertahan untuk menyerang. Strategi ini juga dipakai untuk melakukan serangan balik yang cepat ke gawang lawan. Umumnya lawan yang bernafsu untuk membuat goal akan gencar melakukan serangan. Bagian pertahanan juga ikut masuk menyerang ke pertahanan lawan yang menyebabkan kekosongan di lini belakang. Peluang ini dimanfaatkan kubu lawan untuk melakukan serangan balik.

Tantangan Bertahan untuk Menang

Bertahan pada hakekatnya bertujuan mengamankan poin, nilai atau pencapaian yang ada, yang telah diraih. Namun ada bahaya kalau kita cepat puas dengan hasil yang ada padahal selisih golnya cuma satu angka atau pencapainya tidak begitu maksimal. Mengingat dalam pertandingan kadang hal tak terduga atau hal yang tidak masuk dalam hitungan bisa terjadi. Sebab bola itu bulat, menggelinding ke mana ia mau. Bisa saja ada gol balasan yang mengejutkan pada 'injury time'. Kalau ini yang terjadi maka strategi pemenangan dengan model bertahan bakal tidak menguntungkan.

Tantangan Bertahan untuk Menyerang

Memancing lawan bermain di lini pertahan kita untuk melakukan serangan balik ke gawang lawan bisa dianggap menerapkan strategi untung-untungan saja. Bergantung pada realita pencapaian yang sudah diraih. Bila dalam posisi leading dengan selisih goal tipis tentu strategi ini sangat beresiko. Bila lawan membaca srategi ini dan mengantisipasinya maka strategi ini bakal mubasir.

Gerendel dalam Politik

Penerapan strategi ini dalam dunia politik bisa diduga mengasumsikan sebuah disposisi atau kondisi mental tertentu sebagai pemicunya yakni: merasa nyaman dengan pencapaian yang ada. a. Merasa sudah menang dan tinggal mengamankan hasil yang ada, b. Merasa puas diri dengan hasil yang ada. Karena itu fokus pada promosi dan pencitraan, c. Menganggap remeh lawan.

Catatan Kritis Terhadap Asumsi-Asumsi di Balik Strategi 'Bertahan'

* Orientasi mengamankan yang ada atau posisi yang ada tanpa kesadaran kritis dan kejujuran untuk menilai realitas pencapaian secara obyektif bakal menelanjangi motif yang tersembunyi di balik keinginan untuk bertahan.

* Bertahan model catenacio sesungguhnya sebuah pilihan dari sekian strategi antara lain, karena menyadari kelemahan di 'lini belakang'. (Lini pertahanan dalam politik kiranya berkaitan dengan kebijakan pembangunan dan resources.) Ini dipilih sebagai solusi untuk mengatasi kekurangan di lini belakang. Solusi ini bertolak juga dari kesadaran akan kekurangan yang dimiliki. Strategi bertahan dengan kesadaran akan kekurangan dan kegagalan adalah sikap yang jujur dan 'gentleman'.

*Model bertahan cendrung fokus pada kekuatan yang ada, yang telah diraih. Fokusnya pada memelihara poin/nilai yang sudah ada. Tapi tanpa sikap jujur menilai pencapaian yang ada, strategi ini bisa menjadi 'bumerang'. Katakan hanya pimpin satu gol dari lawan. Begitu lawan menambah gol dan gol maka lawan yang diremehkan akan keluar sebagai pemenang.

*Fokus bertahan berarti 'stagnan'. Strategi ini tidak berorientasi pada goal tetapi hanya ingin mengamankan yang ada. Ini gambaran dari mental cepat puas dan ketidakberanian membuat perubahan. Tidak berani menerobos tantangan untuk menggapai kemenangan dan kemajuan.

Kemenangan diandaikan sudah di tangan, tinggal dijaga. Kemenangan bukan lagi hal yang diperjuangkan melainkan suatu keterberian. Sikap percaya diri berlebihan membuat orang tenggelam dalam rasa bangga akan kelebihannya (kekuatan yang dimiliki) dan mengabaikan kekurangan yang mungkin dinilai serius 'parah' oleh lawan dan banyak mata. Sikap puas diri ini yang melemahkan semangat juang untuk meraih hari esok yang lebih baik.

Selamat bertarung menuju hari pilkada 2020

Oleh: Rm. Edigius Menori
Ketua Yayasan SUKMA Keuskupan Ruteng, Manggarai, NTT

Kontak: redaksisocietasnews@gmail.com
×
Berita Terbaru Update