-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

CORONA (COVID-19) DAN POHON PENGETAHUAN

Kamis, 26 Maret 2020 | 13:02 WIB Last Updated 2020-03-26T06:04:36Z
CORONA (COVID-19)  DAN POHON PENGETAHUAN
Romo Edigius Menori, Pr (Foto istimewah)

Tuhan menciptakan semesta baik adanya. Begitu kisah kitab Kejadian. Sejak kecil, ketika duduk di bangku sekolah dasar saya sudah mendengar dari guru agama tentang hal ini. Tema tentang penciptaan alam semesta dikisahkan dengan sangat menarik oleh guru agamaku saat itu. Itulah sebabnya hingga kini masih kuingat kisahnya. Saya ingat betul bagaimana guru agamaku itu meragakan peran dari tokoh-tokoh dalam kisah penciptaan. Rupanya cara bercerita yang dramatik dengan menyisipkan pesan moral dan ajaran tentang hidup di dalamnya sangat menyentuh emosi, rasa ingin tahu dan ruang kesadaranku sebagai seorang anak kecil.

Bapa guru melukiskan keindahan taman Eden secara mengagumkan. Segala yang dibutuhkan manusia pertama, Adam dan Hawa tersedia, sangat lengkap. Satu demi satu diperlihatkan oleh bapa guru apa yang ada di taman Eden. Rumah Adam dan Hawa yang bagus. Buah-buahan yang enak dan bermacam-macam jenisnya. Segala jenis binatang yang lucu dan pintar. Bulan dan bintang yang menghias angkasa.

Ini yang istimewa menurut saya yakni penegasan yang secara berulang disampaikan pada setiap bagian atau hal yang diceritakan. Mengakhir setiap bagian dari cerita tentang masing-masing benda dan makhluk hidup yang ada di Taman Eden; tanaman, binatang serta bulan dan bintang, bapa guru selalu menyisipkan pertanyaan retoris berikut sebagai semacam refraind, " Anak-anak, Tuhan sangat baik, bukan?"

Kemudian sebagai kesimpulan bapa guru menggarisbawahi hal berikut ini, bahwa Tuhan itu baik dan semua yang indah dan baik berasal dari Tuhan.

"Bapa - mama baik, bukan? Nah, bapa dan mama berasal dari Tuhan. Tuhan menganugerahkan bapa dan mama untuk menjaga dan memelihara kita, anak-anaknya."

Membayangkan kembali cara guru agamaku dulu menanamkan nilai dan ajaran agama dalam diriku membuat aku terkagum-kagum. Ada rasa bangga dan bersyukur atas kreativitas dan keterampilan guru agama yang mengajarku tentang Tuhan Yang Maha baik dan Yang menjadi sumber segala kebaikan.

Ketika menceritakan pohon terlarang di tengah taman Eden, bapa guru menggambar di papan tulis 'jaring laba-laba' (Lodok). Di tengah jaring laba-laba ada pohon besar. Disertai penjelasan bahwa pohon itu memiliki buah tetapi buahnya tidak boleh dimakan. Tuhan melarang Adam dan Hawa untuk memakan buah pohon itu.

Spontan, ada anak yang bertanya, "buahnya enak?".

Bapa guru menjawab, "enakkk tetapi...". Diinterupsi oleh pertanyaan anak lain, "Mengapa dilarang, dimakan?"

"Nah, itu yang bapa guru mau beritahu. Buahnya enak tetapi ada racun di dalamnya." Jelas bapa guru.

"Adam dan Hawa makan buah itu, tidak mati," tanggap seorang anak.

"Iya, tidak mati, racun itu buat Adam dan Hawa pusing dan matanya kabur sehingga tidak bisa lagi melihat Tuhan kalau Tuhan datang ke taman Eden. Mereka juga akhirnya tidak bisa melihat dengan jelas keindahan taman Eden." Begitu bapa guru menjelaskan tentang pohon terlarang.

Lalu bapa Guru bertanya, "siapa yang suka sebombon (permen atau manisan)?"

Kami semua mengangkat tangan.

"Tetapi tidak boleh banyak-banyak, Mama larang," kata seorang anak.

"Mama melarang makan bombon banyak-banyak?" Tanya bapa guru. Kemudian, Ia menegaskan, "Nah, anak-anak sebombon itu enak rasanya tetapi tidak boleh dimakan banyak-banyak."

"Siapa yang senang bermain 'karet' atau 'kelereng'? Lanjut bapa Guru.

Semua anak mengangkat tangannya.

"Tetapi harus cuci tangan kalau sudah bermain. Kalau tidak cuci tangan, Mama larang tidak boleh main lagi."

"Jangan bermain sampai sore hari (matahari terbenam) Mama larang." Jawab kami, anak-anak.

"Nah, bermain itu menyenangkan tetapi tidak boleh sampai sore hari dan harus mencuci tangan sesudah bermain." Begitu bapa Guru menegaskan kembali jawaban anak-anak.

Kemudian bapa guru melanjutkan penjelasannya.
"Anak-anak, ternyata semua yang baik, menyenangkan dan enak ada larangannya, ada batasannya. Benar atau tidak?" Tanya bapa Guru.

"Benar!" Kami, anak-anak serempak menjawab.

"Perhatikan gambar pohon di tengah jaringan laba-laba yang ada di Papan tulis." Ajak bapa Guru.

"Seperti ini, taman Eden (sambil menunjuk gambar). Di tengah-tengah taman Eden ada pohon terlarang.

Lihat! Ada garis-garis panjang mengelilingi pohon ini yang membentuk jaringan seperti jaring laba-laba. Garis-garis inilah yang membuat semua ciptaan, hal baik di dalam taman Eden terhubung dengan pohon terlarang yang berada di pusatnya. Semua bidang atau kotak-kotak ini dihubungkan oleh garis-garis dengan pohon yang ada di tengah jaringan ini. Benar atau tidak?" Tanya bapa Guru.

"Benar!" Kami menjawab.

"Apakah artinya?" Lanjut pa Guru.
"Pohon yang buahnya dilarang untuk dimakan terhubung dengan semua hal yang baik, menyenangkan dan indah di Taman Eden. Itu artinya semua yang baik dan menyenangkan itu ada larangannya, ada batas tertentu untuk dinikmati."

Kami semua bingung, belum mengerti.

"Misalnya, anak-anak; Kalau kamu makan sebombon terlalu banyak, gigimu bisa rusak dan kamu ompong, bukan?"

Kami, semua menyahut dengan tertawa lepas.

" Berarti harus ada batas tertentu jumlahnya. Jangan banyak-banyak makannya.
Demikian pula kalau makan Mangga yang enak, jangan banyak-banyak, harus secukupnya, ada batasnya, supaya tidak sakit perut."

"Tuhan menempatkan "Pohon terlarang" di tengah taman Eden untuk mengingatkan manusia pertama, Adam dan Hawa bahwa semua hal yang baik, menyenangkan dan indah di taman Eden ada batasnya, ada larangannya, ada aturannya untuk dinikmati. Aturan atau larangan tersebut bertujuan supaya apa yang baik, yang menyenangkan dan membahagiakan tersebut bisa dinikmati bersama secara adil dan merata oleh semua orang. Bayangkan saja seandainya tidak ada larangan atau aturan maka setiap orang bisa semaunya memanfaatkan kekayaan di taman Eden untuk kepentingan diri dan keluarganya tanpa mempedulikan orang lain yang juga membutuhkannya."

Ingatan saya akan penjelasan bapa guru agamaku rasanya segar kembali ketika dunia saat ini sedang dilanda wabah (bencana) virus corona (Covid-19). Bahwa Tuhan yang maha baik telah menciptakan semesta ini lengkap dan baik adanya. Namun di tengah kekayaan kebaikan dan kemurahan Tuhan ini ada pohon pengentahuan yang mengingatkan kita akan tujuan dari semua itu diciptakan yakni untuk kebahagian bersama dan keselamatan semua orang.

Pohon kehidupan itu menyadarkan kita yang berjuang meraih kebahagian di dunia ini bahwa segala sesuatu ada batasnya dan ada aturannya. Tidak bisa sesuka hati mengambilnya hanya untuk kepentingan diri.

Pohon pengetahuan itu menyadarkan kita akan kehendak Tuhan supaya kita membangun solidaritas untuk menguatkan soliditas dan persekutuan di antara kita. Mengapa kita harus solider dengan yang lain dalam menikmati segala kebaikan Tuhan di dunia ini? Tentu karena manusia ciptaan yang istimewa, memiliki pengertian dan hati untuk memahami rencana dan kehendak Tuhan ini. Manusia diciptakan baik adanya karena itu dalam dirinya ada kebaikan. Manusia memiliki potensi yang besar untuk mewujudkan kehendak Tuhan di bumi ini karena pada dasarnya manusia itu baik. Tuhan tentu tahu bahwa potensi untuk mengejar kepentingan diri sambil mengabaikan sesama juga dimiliki manusia. Melalui pohon pengetahuan Tuhan mengingatkan manusia akan kelemahannya. Pohon pengetahuan juga menjadi tanda untuk menyuarakan permintaan Tuhan agar manusia menyadari keterbatasannya, kemungkinannya untuk jatuh dalam dosa. Tuhan memberikan batasan, aturan supaya manusia hidup berbahagia dan selamat. Tanpa aturan yang mengarahkan manusia pada tujuan hidupnya dan membatasi ekspresi kemungkinan tak teratur dalam diri maka kebaikan bersama tidak akan terwujud.

Wabah Corona yang tengah melanda dunia dan mengancam kehidupan manusia betul mengguncang sendi-sendi kehidupan bersama, berbangsa dan bernegara dengan segala prestasi, kemajuan dan kebanggaan yang telah diraih selama ini.

Apa yang telah dibangun bertahun tahun seakan menjadi tidak berarti, bertekuk lutut dihadapan musuh yang tak kelihatan yakni virus corona. Seluruh kebanggaan manusiawi seakan luntur maknanya dihadapan wabah virus corona.

Virus ini ibarat Pohon terlarang di taman Eden kehidupan, seakan menjadi tanda adanya resiko yang tidak kita sadari selama ini, di balik hasrat kita yang tak terbatas, baik sebagai individu maupun sebagai bangsa untuk mengeruk, menikmati kekayaan ciptaan Tuhan demi kemajuan. Boleh jadi virus ini seperti pohon terlarang yang menyadarkan kita akan kerapuhan dari karya manusia dan seluruh upaya dari bangsa-bangsa di dunia untuk sukses.

Virus Corona seakan menarik kita untuk mundur dan mengevaluasi seluruh tatanan kehidupan yang telah kita bangun. Mungkin di satu pihak perhatian kita selama ini terarah kepada hal-hal besar dan kemajuan fisik semata dan di lain pihak kita meremehkan hal-hal yang dianggap kecil, sederhana dalam kehidupan (mencuci tangan, menjaga kesehatan diri, berbagi dengan sesama), dan mengabaikan Yang tak kelihatan namun berkuasa atas kehidupan.

Virus Corona ibarat pohon terlarang yang menyadarkan kita akan adanya bahaya bila kita tidak menyadari keterbatasan, kerapuhan diri dan seluruh usaha manusiawi yang kita bangun.

Virus corona ibarat pohon terlarang yang menyadarkan kita supaya memelihara, mengembangkan potensi dan kekayaan ciptaan Tuhan sesuai kehendak Tuhan yakni untuk kebaikan bersama dan keselamatan umat manusia serta menjauhi segala laranganNya.

Virus corona ibarat pohon pengetahuan yang menyadarkan kita akan kekuatan yang tersembunyi yang kita miliki dan tidak disadari sepenuhnya yakni semangat berbagi (solidaritas). Itulah potensi yang harus dikembangkan untuk membangun (kembali) hidup bersama.

Virus Corona dengan segala protap pencegahannya termasuk mengambil jarak fisik/sosial (physical/social distancing) menyadarkan kita untuk membangun kekuatan dari dalam diri dan keluarga. Maka program pembangunan pertama - tama adalah memprioritaskan pembangunan manusia (pendidikan) dan pembangunan keluarga sebagai tempat persemaian nilai-nilai kehidupan.

Oleh: Romo Edigius Menori, Pr
Penulis adalah seorang imam diosesan keuskupan Ruteng, Flores, NTT. Beliau adalah Alumnus STFK Ledalero, lalu melanjutkan Studi di Universitas St. Thomas Aquino Manila.
×
Berita Terbaru Update