-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Dari Altar ke Pasar (Catatan Pinggir Tahbisan Uskup Siprianus Hormat)

Kamis, 19 Maret 2020 | 17:33 WIB Last Updated 2020-03-19T10:38:20Z
Dari Altar ke Pasar (Catatan Pinggir Tahbisan Uskup Siprianus Hormat)
Foto Istimewah

Gereja lokal Keuskupan Ruteng sangat bergembira hari ini. Sebuah 'pesta iman' digelar secara meriah di Gereja Katedral Ruteng, simbol keagungan gereja di wilayah keuskupan ini. Seorang 'gembala umat' yang bersahaja, Rm. Siprianus Hormat, Pr ditahbiskan menjadi 'uskup' baru di sini. Dengan demikian, kerinduan dan doa-doa umat selama ini, akhirnya terjawab tuntas hari ini. Secara resmi, kita memiliki 'abdi Allah' yang hadir dalam sosok 'yang mulia' Mgr. Siprianus Hormat, Pr.

Pertama nian, kita tentu melambungkan 'kidung syukur' kepada Tuhan atas rahmat istimewa yang dialami oleh Gereja Keuskupan Ruteng. Tuhan tidak membiarkan 'kawanan domba-Nya', tak terurus oleh seorang gembala yang setia.

Kedua, tentu saja kita perlu mengucapkan selamat dan profisiat kepada Mgr. Siprianus Hormat, Pr yang telah 'bersedia' menerima penugasan dari Tuhan untuk menjadi 'gembala iman' di keuskupan ini. Mgr. Sipri telah 'membuka hati', membiarkan kehendak Tuhan berkarya atas dirinya. Tanggapan Mgr. Sipri atas 'panggilan dan perintah Tuhan', patut diapresiasi.

Ketiga, seremoni pentahbisan ini berlangsung di tengah kecemasan dan ketakutan akan wabah Covid-19 yang sudah menjadi pandemik global. Kita menghargai 'himbauan dan anjuran' dari pihak tertentu untuk menunda 'upacara meriah' itu. Namun, berkat 'kegigihan' panitia dan campur tangan kasih Tuhan, akhirnya 'pesta rohani' itu terselenggara dengan lancar dan aman. Jadi, kita yakin bahwa keberhasilan itu bukan hanya buah dari prestasi kerja manusia semata, tetapi yang paling penting adalah hasil dari penyelenggaraan cinta Tuhan sendiri.

Keempat, mungkin secara fisik, kita tidak sempat mengikuti perayaan Ekaristi Pentahbisan itu, namun sebagai 'bagian' dari komunitas gereja lokal, tidak salah juga kita berpartisipasi dalam doa, kegembiraan, dan harapan yang dititipkan ke pundak sang gembala itu. Secara pribadi, saya coba membuat semacam 'permenungan' dari sisi pinggiran dalam membaca peristiwa iman tersebut.

Pentahbisan bagi saya bukan sebuah 'pesta profan (duniawi)' yang dirayakan secara berlebihan. Bukan 'pentahbisan in se' yang perlu diagungkan, tetapi pertanggungjawaban terhadap 'momen pelantikan' oleh Tuhan tersebut. Dengan kata lain, pentahbisan itu bukan 'tujuan utama', tetapi sebagai sarana agar seseorang bisa secara paripurna membaktikan hidupnya bagi kemuliaan Tuhan yang tampak dalam 'perubahan wajah iman umat' yang dilayaninya.

Karena itu, pada kesempatan ini saya coba menitipkan harapan kepada bapak Uskup yang baru. Saya setuju dengan pendapat Mgr. Sipri bahwa uskup itu tidak sama dengan bupati. Uskup tidak punya 'wewenang politik' untuk menata kehidupan bersama yang ditopang oleh anggaran pembangunan yang fantastis. Bupati dipilih memang untuk mesejahterakan masyarakat melalui program pembangunan politik yang konkret dan terukur. Sedangkan, uskup itu hanya melayani 'kebutuhan rohani' umat. Uskup tidak mendapat 'suntikan dana yang fantastis' dari negara dalam membangun aspek spiritual tersebut.

Kendati demikian, seorang uskup dan para agen pastoral yang lainnya tidak boleh 'berkosentrasi' pada urusan altar (baca: liturgis-kultis) saja. Sedapat mungkin para klerus dan kaum hierarki gereja tak membagun semacam 'ghetto religius' yang membatasi pergerakan sosial politik mereka. Para pejabat Gereja, hemat saya 'mesti eksodus' dari kawasan altar untuk merasakan 'bau pengap' kehidupan di wilayah pasar, tempat di mana para kawanan domba berjuang mempertahankan hidup.

'Gaya pastoral kehadiran' perlu diterjemahkan secara kreatif dan produktif. Kaum klerus mesti tampil sebagai 'gembala' yang selalu ada bersama kawanannnya di tengah 'padang hidup' yang semakin gersang saat ini. Kebijakan dan pola pastoral di keuskupan Ruteng mesti 'berbasis' kebutuhan umat. Untuk itu, para gembala mesti 'turun' ke tengah umat untuk mengetahui dan merasakan bahwa ada beberapa 'kondisi sosial, politik, dan budaya' yang membuat iman umat 'terhimpit'.

Apa artinya kita berteriak lantang dari mimbar khotbah, sementara 'pelbagai kendala struktural dan kultural' terus menindih iman umat. Para agen pastoral mesti berjuang bersama umat dalam 'menyingkirkan' pelbagai problem sosial yang 'mengganggu' pertumbuhan iman umat.

Mungkin terlampau ekstrem jika saya mengatakan bahwa 'altar yang sesungguhnya' adalah dinamika dan problematikan konkret yang dihadapi umat. Tetapi, saya kira, ada baiknya jika 'makna altar' itu diperluas dan diperdalam. Kita merayakan ekaristi dan upacara kultis-liturgis lainnya di tenggah setting altar yang nyata. Dengan demikian, aneka perayaan tersebut menjadi korban hidup dan menghidupkan iman umat.

Oleh: Sil Joni
Penulis adalah Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Ledalero
×
Berita Terbaru Update