-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Diari Sebagai 'Alter Ego' (Mari Menggauli Buku Harian)

Senin, 09 Maret 2020 | 19:24 WIB Last Updated 2020-03-09T13:17:39Z
Diari Sebagai 'Alter Ego' (Mari Menggauli Buku Harian)
Sil Joni

Oleh: Sil Joni*

Kita tinggalkan sejenak riuh-rendah debat publik perihal 'kandidat fovorit' dalam kontestasi politik Mabar. Mari arahkan energi atensi pada perkembangan 'kultur literasi', baik dalam keluarga maupun yang dihidupi di lembaga pendidikan formal (sekolah). Harus diakui bahwa kita sulit 'mendeteksi' geliat habitus literasi dasar (baca-tulis-hitung) di dalam rumah keluarga.

Karena itu, fokus perhatian kita kali ini adalah memperbincangkan 'cara dan media sederhana' dalam menumbuhkan budaya literasi di sekolah. Intensi dasarnya adalah para anak didik boleh 'menubuhkan' kebiasaan berliterasi secara kreatif dan produktif. Kita optimis bahwa dalam dan melalui pengembangan budaya literasi yang reguler, akan lahir generasi tangguh, berwawasan luas, kreatif, inovatif, visioner, responsif dan bertanggung jawab. Pribadi unggul dan kualifikatif semacam ini, selain berkontribusi bagi diri dan keluarga, bukan tidak mungkin bisa dipercayai sebagai 'sosok pemimpin politik' seperti yang kita impikan saat ini.

Kembang-Kempis Spirit Literasi

Gema 'aktivitas literatif' di sekolah-sekolah mulai redup. Program 'membaca buku' selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai di pagi hari, ternyata hanya berlangsung sesaat. Jika habitus membaca sudah loyo, maka bisa dipastikan kegiatan menulis tentu tak digauli secara intensif. Gerakan literasi kita masih 'indah kabar dari rupa'. Programnya besar, tetapi implementasinya nihil. Gejala 'kevakuman' kegiatan literasi itu hampir menyerang semua lembaga pendidikan formal di tanah Mabar ini. Kita tidak pernah mendengar dan membaca berita perihal sekolah yang secara serius menghidupkan kultur literasi tersebut.

Literasi menuntut 'ketekunan' dalam berlatih. Menjadi penulis atau pengarang itu bukan sesuatu yang terberi sejak lahir, tetapi buah dari latihan yang panjang dan kontinyu. Jika kita membaca 'riwayat kepenulisan' dari para pengarang bereputasi, kita pasti menemukan sekelumit kisah yang panjang bagaimana mereka menggauli dan menekuni dunia literasi sejak dini.

Diari, Media Berliterasi dan Diri (Self)

Sadar bahwa 'bakat literatif' itu tidak jatuh begitu saja dari langit, maka kita perlu menggunakan sarana sederhana dan mengkreasi ruang untuk berlatih secara kreatif dan produktif. Hemat saya, buku harian (diari) bisa dijadikan media paling praktis untuk mengasah potensi literasi dalam diri para siswa. 

Mulai semester genap tahun ini, saya coba 'membangkitkan' semangat 'anak wali saya' di SMK Stella Maris untuk terlibat secara aktif dalam gerakan menggauli buku harian setiap hari. Saya 'mendorong' mereka untuk memiliki diari dan mulai 'menumpahkan' pikiran dan perasaan pada wadah itu. Hampir setiap hari saya masuk ke kelas mereka untuk 'membimbing, membesarkan hati, dan merangsang mereka' untuk berhubungan secara intim dengan diari tersebut.

Kepada sekelompok siswa tersebut, saya selalu ingatkan bahwa diari itu lebih dari sekedar the best friend, tetapi merupakan 'sisi lain' dari diri kita sendiri (alter ego). Itu berarti bahwa bergumul dengan diari sebenarnya kita sedang bergumul dan bergaul dengan diri secara mesrah. Diari yang kita tulis merupakan 'potret diri' yang paling orisinal.

Anda boleh setuju dan boleh tidak bahwasannya kita akan merasakan semacam 'mujizat' ketika kita setia berbincang secara akrab dengan diari itu. Sudah banyak testimoni terkait 'positive impact' dari keseriusan mencumbui catatan harian. Jadi, menulis pada diari, sebetulnya bukan hanya sebagai 'wadah latihan menulis dan berpikir' belaka, tetapi juga sebuah momen formasi, proses pemanusiaan diri kita sendiri. Tunggu apa lagi. Mari, angkat diarimu. Mulailah dengan merangkai aksara yang adalah jelmaan dari rasa dan pikiran kita setiap hari.

*Penulis adalah Staf Pengajar SMK Stella Maris Labuan Bajo.
×
Berita Terbaru Update