-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Diskursus Soal Usia Calon Bupati

Sabtu, 14 Maret 2020 | 15:36 WIB Last Updated 2020-03-14T08:36:38Z
Diskursus Soal Usia Calon Bupati
Sil Joni

Isu seputar 'usia ideal' untuk menjadi bupati (pemimpin politik) biasanya, sangat ramai diperbincangkan dalam pelbagai forum diskusi publik. Ada kelompok yang mengharapkan agar mereka yang ingin menjadi bupati mesti figur yang relatif muda dari sisi usia. Berapa persis angkanya, hingga detik ini belum ada kesepakatan final soal itu.

Alasan yang sering dikemukakan adalah 'sosok muda' itu identik dengan karakter energik, dinamis, progresif, kreatif, inovatif, visioner dan bersemangat. Sementara figur tua di mata kelompok ini, cenderung lamban, statis, pasif, kurang bergairah, tidak inovatif, dan pro status quo (kemapanan).

Mantan Gubernur NTT, Herman Musakabe pernah menulis sebuah artikel opini menarik di Harian Pos Kupang sebagai tanggapannya terhadap menguatnya debat publik soal usia calon pemimpin di NTT. Dalam tulisan itu, beliau menggarisbawahi tentang 'regenerasi' dalam tubuh elit politik lokal. Idealnya, demikian Herman, kita memberi ruang dan peluang bagi kaum muda untuk menjadi pemimpin. Mereka yang 'sudah tua', sebaiknya urus hal-hal rohani saja. Sebelum ajal tiba, baiklah kalau masa-masa itu digunakan untuk 'berbuat amal' sebagai bekal menunuju 'Rumah Abadi.

Pendapat dari kubu 'pro figur muda' di atas, tentu ditentang habis-habisan oleh kubu pro 'sosok tua'. Mereka meradang dan membentangkan rupa-rupa argumentasi untuk 'menggunting' opini yang cenderung meremehkan kapasitas kandidat tua.

Mereka menegaskan bahwa 'labelisasi' citra figur tua seperti yang diutarakan kelompok pro orang muda itu, hanya bersifat asumtif, tidak sesuai dengan realitas empiris-faktual. Kita tidak bisa menggeneralisasi bahwa semua figur tua cenderung lamban, pasif, statis, dan pro status quo. Tidak ada bukti empiris untuk memverifikasi dan menjustifikasi asumsi politis itu.

Tidak ada korelasi yang valid antara 'usia' dengan kemampuan memimpin sebuah wilayah atau negara. Ada banyak bukti bahwa para pemimpin yang tergolong tua dari sisi usia, tetap memperlihatkan prestasi dan kinerja politik yang fenomenal. Calon pemimpin tua, menurut kelompok ini, justru mempunyai sisi plus yang tentu saja berkontribusi bagi pemercepatan proses perbaikan mutu kemaslahatan publik. Para pemimpin tua itu dinilai sangat 'matang' dari sisi emosional dan sangat berpengalaman dalam memimpin sebuah lembaga atau organisasi politik.

Sama seperti 'elemen atributif lainnya' seperti tampilan fisik, jenis kelamin, agama, pendidikan, dll; usia calon menjadi salah satu 'isu sensitif' yang digarap secara sistematis untuk mendereputasi rival politik. Isu usia, boleh jadi sengaja 'ditembakan' untuk sekadar mengubah 'arah dukungan politik' dari para konstituen.

Karena itu, tidak perlu heran dan terkejut jika 'kriteria usia calon bupati' dalam kontestasi Pilkada Mabar kali ini, kerap 'diperkarakan' oleh publik. Pertengkaran itu umumnya dilatari oleh fanatisme sempit dalam mendukung sang calon favorit. Argumen yang cenderung memojokan dan mendiskreditkan lawan politik sering terdengar.

Kendati demikian, saya kira tidak fair juga jika 'diskursus' seputar usia calon itu, ditafsir dari perspektif 'permainan politik' semata. Kita mesti merespons isu itu dalam 'bingkai' proses kaderisasi pemimpin yang produktif di masa mendatang.

Benar bahwa 'panggung kontestasi Pilkada Mabar 2020' ini boleh dimasuki oleh 'siapa saja' yang memenuhi persyaratan teknis-regulatif. Tidak ada pembatasan ketat dari sisi umur calon. Tetapi, masa depan Mabar itu, tentu tidak lagi ditentukan oleh generasi tua yang sekarang sedang 'mendominasi' panggung politik lokal.

Atas dasar itu, seruan atau dorongan agar 'figur muda' mesti berpartisipasi dalam pertarungan politik, sangat relevan dan urgen. Orang muda mesti 'mempersiapkan diri' untuk merebut dan mengabil-alih estafet kepemimpinan politik di tingkat lokal. Apakah 'figur muda' mendapat dukungan publik atau tidak, saya kira itu hal lain. Tetapi, poinnya adalah Mabar tidak boleh mengalami semacam periode 'kevakuman atau stagnasi' regenerasi pemimpin politik yang berkompeten dan kualifikatif.

Kita mesti mengapresiasi 'kemunculan' figur-figur muda dalam kompetisi politik Mabar saat ini. Kehadiran mereka memberi pesan bahwa Mabar 'tidak kehabisan' stok kader pemimpin politik. Jika ada di antara sosok muda itu, yang sukses 'mencuri' perhatian publik, maka itu sebuah bonus politik yang patut disyukuri. Namun, seandainya perjuangan mereka kali ini 'kandas', rasa respek kita tak surut. Optimisme lahirnya pemimpin politik bermutu di masa depan semakin kuat. Debut dan prestasi politik para kader muda itu, menjadi garansi utamanya.

Oleh: Sil Joni
Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.

Kontak: redaksisocietasnews@gmail.com
×
Berita Terbaru Update