-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Jendela Itu, Tiada Lagi Bait Panjang

Minggu, 08 Maret 2020 | 10:41 WIB Last Updated 2020-03-08T03:45:58Z
Jendela Itu, Tiada Lagi Bait Panjang
Jendela Itu, Tiada Lagi Bait Panjang (Ilustrasi; google)

Jendela itu kembali mengatupkan kedua tubuhnya,
mengekalkan ribuan kenangan yang
tertinggal di sudut-sudutnya.

Ada yang pernah tertawa,
ada yang pernah menangis,
ada yang pernah berpelukan,
ada yang pernah berjanji dan
ada yang pernah saling memiliki,
ada yang tetap akan ada, ada yang lain,
tak terlewatkan
awet menenun kisah di penghujung bulan kemarin.

Jendela itu kembali mengatupkan kedua tubuhnya,
menawarkan obat penawar rindu jua
kebimbangan pada lembayung senja yang
menjanjikan kebahagiaan  yang sebentar
tak usai mematahkan ingatan
yang terus menari-nari
menaburkan perih dan lelucon yang menggemaskan

Jendela itu kembali mengatupkan kedua tubuhnya,
mengikhlaskan kepergian dan setia menunggu kepulangan
yang entah kapan akan menepati.

Jendela itu kembali mengatupkan kedua tubuhnya,
berisyarat penuh bimbang
dalam sebuah keharusan yang paling malang
jendela itu adalah janji yang
tak lagi akan berjanji setelah
kita selesai melukiskan kenangan
pada dinding-dinding rumah

Dingin dan kaku
biru serta kelabu
kepergian yang damai menuju
waktu yang tenang

Jendela itu kini menutup usia mudanya
Dengan tersenyum
Pada dunia yang menjadikan ia ada

Jendela itu...

Tiada Lagi Bait Panjang

Tiada lagi bait-bait panjang
saat kau memilih menuntaskan perpisahan
menggores cerita baru pada
sepenggal perjalanan yang belum usang
kau menyisahkan pertanyaan
pada tiap langkah-langkahmu
sedang seluruh perjalananmu adalah candaan
bagi yang senantiasa meragu

Tiada lagi bait-bait panjang
Ketika seorang perempuan memanggil kau kembali
Kepastian hanyalah kerapuhan yang belum rampung, sedang
Menunggu adalah penyesalan
Tiada yang benar-benar memiliki seluruh perjalanan
Saat  berjumpa ruang dan waktu

Tiada lagi bait-bait panjang
pengantar temu yang paling kramat
sehabis hujan mengekalkan air mata perempuan
pada pusara yang bernama
keabadian indah bersimbah rindu yang mulia

Tiada lagi bait-bait panjang
seusai doa melepaskan kehangatan
pada semesta yang diam
sepi dan basah
tiada lagi pertanyaan selepas hujan
meremukkan seluruh tanya dalam
bingkai perpisahan

Tiada lagi bait-bait panjang
setelah perempuan itu berhenti
mengulur-ulur waktu untuk menanti kau
yang pergi
menjadi dingin kala berhenti pada titik
dan kau adalah pelepasan paling akhir
dari segala doa yang kirimkan sang perempuan
menuju yang Abadi

Tiada lagi bait-bait panjang
kau yang telah selesai
mengeja temu dalam luka
yang bertahan pada lelahnya

Oleh: Flafiani Jehalu 
Penulis adalah alumnus SMPK-SMAK ST Fransiskus Xaverius Ruteng, sekarang sedang menempuh pendidikan lanjutan di Universitas Katolik Atmajaya Jakarta.
×
Berita Terbaru Update