-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Karma, Bukan Kutukan

Sabtu, 21 Maret 2020 | 06:20 WIB Last Updated 2020-03-21T00:36:19Z
Karma, Bukan Kutukan
Ilustrasi dari google tetapi diedit dan ditambah foto

Berikut ini saya sertakan tulisan teman saya pada tahun 2015,  Pak Frans Teti, yang barusan meninggal 3 Maret 2020. Mohon izin kepada keluarga. Semasih hidup ketika kesehatan fisiknya terganggu, ia berpesan kepada saya agar kiranya menyimpan tulisan-tulisannya bilamana ia sudah tiada. Salah satunya adalah tulisan  berikut ini.

***
Karma, Bukan Kutukan

-     : Bukankah karma itu kutukan? Biasanya yang kita maksudkan dengan hukum karma, misalnya, adalah hukum kutukan.
+    :  Makna harafiah istilah “karma” adalah “karya”. Sebagai doktrin, “karma” bermakna hukum moral sebab-akibat. Ilmu pengetahuan menyadarkan dunia Barat tentang hubungan sebab akibat dalam dunia lahiriah. Benih yang ditanam melahirkan tunas; besi yang dipanaskan di bara api akan memuai .. dst. India melihat konsep sebab-akibat dalam kehidupan moral dan spiritual manusia.   Setiap perbuatan, cara pikir, perikehidupan manusia saat ini berdampak kepada kehidupan selanjutnya. 

Dunia Barat, kata Huston Smith, sampai taraf tertentu melakukan hal yang sama. “Apa yang ditabur seseorang, itulah yang dituainya.” Atau, “Taburkanlah sebuah pikiran, tuailah perbuatan; taburkanlah sebuah perbuatan, tuailah kebiasaan; taburkanlah kebiasaan, tuailah karakter; taburkanlah karakter, tuailah nasib.”  Setiap pikiran dan perbuatan merupakan pukulan pahat yang tidak terlihat terhadap “patung nasibnya” sendiri. (Huston Smithy, “Agama Hindu”, dalam AGAMA-AGAMA MANUSIA, 2008, 90)

-     : Jika demikian, apakah karma sama dengan nasib?
+    :  Tidak. Karma memberi ruang bagi timbulnya rasa tanggung-jawab pribadi utuh setiap orang Hindu yang memahaminya. Tanggung-jawab hanya dimungkinkan dalam ruang kebebasan manusia. Meski diyakini bahwa tidak ada yang terjadi secara kebetulan  - baca: ditentukan oleh karma -  namun manusia memiliki kebebasan menata kehidupan dengan lebih baik untuk menggapai pembebasan. 
-     : Berarti karma bukan nasib, atau kutukan.
+    :  Karma itu “karya”.  Sebagai  doktrin bermakna hukum moral sebab-akibat. Bisa mendatangkan penderitaan lebih, atau sebaliknya bisa membebaskan.

Karma Yoga

Seorang Raja mendatangi Yogi di kediamannya. Mereka duduk di bawah pohon yang rindang. Sang Yogi menyalakan api untuk berdiang karena hari mulai malam.  Sementara itu sepasang burung yang terbang seharian mencari makan, kembali pulang ke sarang.  Raja bertanya tentang apa itu Karma-Yoga dijawab sang Yogi dengan mendaraskan ayat-ayat Kitab Suci. 

Malam makin larut. Terjadilah dialog di atas, pasangan burung yang peduli.

-     : Kak, sudah malam. Kasihan dua tamu kita di bawah. Mereka pasti dingin.  Baiklah kita mencari ranting-ranting kering untuk memperbesar nyala api, biar tambah hangat. 
+    :  Benar, dik. 

Dengan paruh yang kecil, kedua burung mengumpulkan ranting-ranting kecil untuk dibakar. Nyala api membesar, tambah hangat. Raja dan Yogi makin asyik berceritera.

-     : Kak, malam makin larut. Tamu kita belum makan. Pasti mereka lapar. Baiklah kita beri mereka makan.

+    :  Iya, tapi apa yang bisa kita buat? Kita tak punya makanan. Sebagai tuan rumah yang baik kita memang harus menjamu mereka. … (hening sejenak) … daripada tidak ada yang disuguhkan, biarlah saya terbang turun mengorbankan diri .. (terjun ke perapian dan membiarkan diri jadi santapan Raja dan Yogi).

+    :  ???? …Hmmm … suamiku sekecil ini sudah memberi diri jadi santapan Raja dan Yogi. Tetapi pastilah tidak cukup. Baiklah aku mengikuti suamiku mengorbankan diri jadi santapan.

Karma-Yoga lebih dari sekedar keteladanan. “Be good and do good.” (Alain, “YOGA. The Perfect Health”, dalam Thorsons Publishers Ltd, London: 4th impression, 1961, pp 108-109) 

syaloom, 
Frans Teti

Keterangan:
Tulisan di atas ini diminta dimuat di societasnews.id oleh Jon Kadis. Adapun alasannya? Ketika almarhum Bapak Frans Teti sedang sakit parah, beliau berpesan kepada Bapak Jon Kadis untuk menyimpan semua tulisannya. Bapak Jon Kadis (salah satu dari teman almarhum sewaktu dia hidup) hendak mengabadikan tulisannya di media societasnews.id. Tim redaksi juga merasa tidak keberatan untuk memuat tulisan tersebut karena sangat menginspirasi. Tim redaksi juga ingin mengenangnya dengan mempublikasikan buah pemikirannya agar bermanfaat bagi pembaca. 
×
Berita Terbaru Update