-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kasih di Atas Segalanya

Jumat, 20 Maret 2020 | 06:07 WIB Last Updated 2020-03-19T23:07:02Z
Kasih di Atas Segalanya
Misa pelantikkan Uskup Ruteng di tengah kekawatiran virus corona

Ketika rasa cinta bersenyawa dengan kegelisahan maka logika bisa saja terkontaminasi. Kasih di hati berubah rupa dalam pikiran dan melahirkan kata dan sikap yang tak lagi arif.

Cinta sejati selalu tulus dan suci. Mencintai sesama berarti menghendaki sesama selamat, membantu sesama supaya berubah, bertobat. Sesama yang dianggap kurang dalam pengertian dicerahkan dan dituntun kepada kebenaran.

Namun bila dalam diri orang yang katanya 'memiliki kasih' terdapat juga kegelisahan secara berlebihan tentang sikap sesama yang dinilai meremehkan nilai kehidupan, maka ada bahaya kegelisahan itu akan melunturkan nilai cinta yang ada di hatinya. Orang itu akhirnya mudah menghakimi sesama sebagai yang tidak punya kepedulian dan tidak bertanggungjawab.

Kegelisahan yang demikian tentang sesama sesungguhnya membahasakan rasa superioritas yang tersembunyi. Menyangka hanya diri sendiri yang lebih peduli terhadap nilai kehidupan sedangkan orang lain bodoh dan tidak punya sense of crisis.

Rasa cemas dan gelisah melekat dalam kemanusiaan kita. Memilikinya bukanlah sesuatu yang salah. Sebab perasaan demikian membantu kita untuk berhati-hati dan siaga. Namun tetap penting untuk mengambil jarak dan menyadari porsi atau tingkat kecemasan yang kita miliki. Diharapkan dengan menyadari tingkat kecemasan dalam diri, kita mampu mengontrol dan mengarahkannya sehingga menghasilkan sikap dan tindakan yang tepat dan bijaksana.

Tanpa kekuatan kasih yang dapat mengendalikan kegelisahan di hati maka kegelisahan itu akan mendominasi dan bakal dengan mudah mengaburkan dan melunturkan nilai kasih yang sejati. 

Karena itu kepedulian yang diekspresikan dengan kemarahan dan caci maki hanyalah sebentuk ekspresi kegelisahan yang tak terkontrol. Niat baik untuk menyadarkan orang lain tidak menghasilkan kebaikan karena cara kita membahasakannya didominasi oleh kegelisahan dan tidak bersumber dari kasih melainkan dari sikap superioritas.

Baiklah kita juga menghargai bahwa orang lain juga peduli terhadap nilai-nilai kehidupan. Bila ada hal, sikap yang memunculkan kesan tak peduli sebaiknya perlu bertanya dan klarifikasi. Apakah benar sikap tersebut menunjukan tak ada kepekaan terhadap nilai kemanusiaan atau ada hal dilematis yang dihadapi. Dilematis berarti keduanya penting dan bernilai. Satu didahulukan bukan karena yang lain tidak penting. Tetapi mendahulukan yang satu dengan tetap mengambil langkah antisipasi yang konkred untuk memperkecil resiko pengabaian terhadap nilai kemanusiaan. 

Mari kita melihat dalam terang kasih Tuhan. Sebab kita tidak mampu menyelesaikan persoalan yang kita hadapi dengan kekuatan manusiawi semata. Juga kita tidak bisa mengatasi persoalan dengan hati penuh amarah dan kebencian. Bahwa ada kekurangan dalam mewujudkan tujuan bersama itu wajar. Mari kita saling koreksi dalam kasih persaudaraan.
Kekuatan kasih menjadi nyata dalam semangat persaudaraan. Bersama kita satu. Bersatu kita menang. Dalam kasih kemenangan menghasilkan damai sejahtera.

Oleh: Rm Edigius Menori

Catatan: 
Tulisan pada hari pelantikkan Uskup Ruteng di tengah kekawatiran virus corona
×
Berita Terbaru Update