-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

KEBENARAN: ANTARA FUNDAMENTALISME DAN RELATIVISME (Membedah kasus Seminari BSB Maumere)

Minggu, 01 Maret 2020 | 06:50 WIB Last Updated 2020-02-29T23:50:53Z
KEBENARAN: ANTARA FUNDAMENTALISME DAN RELATIVISME  (Membedah kasus Seminari BSB Maumere)
Ilustrasi; tajukflores

Kasus Seminari BSB Maumere sempat viral beberapa hari lalu. Ceritanya, ada satu siswa SMP kelas VII yang pada tengah malam membuang fesesnya dalam kantung plastik lalu menyembunyikannya di sebuah lemari kosong yang terdapat di ruang tidur. Saat dimintai keterangan oleh para senior yang bertugas menjaga kebersihan di ruang tidur mereka, tak satu pun yang mau jujur mengakui kesalahannya. Ketidakjujuran satu orang berakibat fatal bagi yang lain.

Pada kasus tersebut ada salah satu sisi menarik yang ingin saya soroti, yakni tentang bagaimana para senior itu mentransmisikan pesan kebenaran itu kepada para yunior mereka. 

Kejujuran dan kebenaran adalah nilai-nilai yang tak bisa dinegosiasi dalam formasi calon imam di mana saja. Itu adalah nilai-nilai absolut. Justru karena itu, kedua senior ingin menguji conciencia para yunior: atau memilih kebenaran dan kejujuran, atau memilih bibir disentuh senduk berisi feses. Dua pilihan yang sama-sama berat. Pilihan akan kebenaran dikonfrontasi dengan pilihan akan hal yang menjijikan. 

Andaikan ada kejujuran dari pribadi yang melakukan kesalahan, atau jika ada keterangan lain dari teman-temannya guna penyingkapan kebenaran, maka sanksi yang menjijikkan itu tak mungkin terealisasi. Sejatinya ada krisis kejujuran dan kebenaran dalam diri para student yang belum lama meninggalkan keluarga untuk disemai di lembaga pendidikan bergengsi itu. 

Saya kembali kepada dua senior itu. Di satu sisi, mereka ingin mengajarkan para yunior tentang nilai kejujuran dan kebenaran. Tak ada yang salah dengan itu. Tapi, di sisi lain, mereka melakukannya dengan paksaan, intimidasi dan kekerasan. Di sinilah titik apinya. 

Menegakkan kebenaran dengan paksaan, intimidasi dan kekerasan, sambil mengabaikan kebebasan dan penggunaan rasio yang sehat adalah salah satu ciri fundamentalisme. Apa pun alasannya, aksi fundamentalistis dari dua oknum siswa tersebut tidak bisa dibenarkan. Mengatakan aksi itu sebagai aksi fundamentalistis mungkin dinilai berlebihan, tetapi secara konseptual hal itu bisa diterima. 

Bahaya fundamentalisme bisa menyerang tiap pribadi, keluarga, masyarakat, negara dan komunitas mana pun (sekular atau religius). Jika mau jujur, virus fundamentalisme memang sedang menggerogoti tubuh bangsa kita. 

Aksi fundamentalistis anak-anak dan guru dalam dunia pendidikan bukan baru kali ini terjadi. Bahkan di beberapa tempat ada aksi yang jauh lebih mematikan, tanpa harus mengatakan bahwa tindakan dua oknum siswa di BSB itu harus dibenarkan. 

Dalam konteks yang lebih luas, fundamentalisme agama di Indonesia tampak jelas dalam terorisme dan intoleransi. Larangan pembangunan rumah ibadat oleh pemeluk beragama lain adalah salah satu contoh paling aktual tentang bahaya fundamentalisme agama.

Selain itu, fundamentalisme politik dari segelintir parpol atau ormas mendesak kita untuk berpikir secara lebih serius tentang fundamen kebangsaan dan kenegaraan kita. 

Pada sudut lain, fundamentalisme kultural telah menciptakan diskriminasi, rasisme dan superioritas budaya tertentu atas budaya lain, serentak mengikis multikulturalitas dan interkulturalitas yang mencirikan sebuah negara demokratis. Perilaku rasis dan diskriminatif terhadap sesama kita dari Papua masih segar dalam memori kolektif keindonesiaan kita.

Singkatnya, fundamentalisme dalam pelbagai bidang kehidupan: pendidikan, agama, politik, budaya, dll, memang harus ditolak.

Kembali ke Seminari. Setiap lembaga Seminari di dunia tidak pernah menjadi sarang fundamentalisme dan kekerasan. Itulah sebabnya tindakan fundamentalistis dari dua oknum siswa itu tidak ditolerir oleh pihak seminari BSB. Dengan dikeluarkannya dua oknum tersebut, seminari menegaskan dirinya sebagai institusi religius yang piawai dalam formasi manusia dan konsisten menolak setiap jenis fundamentalisme dan kekerasan. 

Dari kasus itu, saya melihat ada tantangan lain yang juga sedang dihadapi oleh pihak seminari yakni tekanan publik dan media sosial (medsos). Seminari ditantang apakah terus memilih dan menghidupi kebenaran yang adalah warisan kekristenan seturut ajaran Yesus sendiri, ataukah harus merelativisir nilai-nilai absolut lantaran ketakutan pada pihak luar. Ingat, ketakutan adalah musuh kebenaran.

Jika pada satu sisi, perilaku dua oknum siswa terperangkap dalam ekstrim fundamentalisme, maka pada sisi lain, tekanan publik melalui “vonis medsos” bisa membawa seminari pada ekstrim lain yakni relativisme. 

Relativisme adalah suatu aliran pemikiran yang merelativisir dan menegasikan nilai-nilai fundamental dan universal seperti kebenaran, cinta, kejujuran dan keadilan. Dari perspektif relativisme, tidak ada kebenaran obyektif dan universal, semuanya serba relatif. Kebenaran tergantung pada masing-masing orang. Otonomi subyek menjamin kebenaran absolut. Bahaya relativisme ini dimulai dengan absolutisasi hal-hal yang relatif sampai pada absolutisasi relativisme itu sendiri. 

Sebagai misal, alih-alih mengikuti selera publik yang tentunya beragam dan mengarah pada subyektivisme, ditambah tekanan medsos di era hiperkoneksi digital ini, bisa-bisa saja pihak seminari menjadi takut dan layu dalam penegakkan nilai-nilai fundamental kristiani yang menjadi ciri khas tak tergantikan sepanjang masa. 

Kasus BSB menjadi pengingat bahwa sumber kebenaran itu bukan berasal dari manusia, bukan dari negara, juga bukan dari media komunikasi, melainkan dari Allah. Kebenaran dari Allah itu dihidupi dalam tradisi-tradisi besar religius, seperti kristianisme (yang dari rahimnya lahir seminari), yang dalam sejarah telah menyumbang nilai-nilai fundamental bagi kemajuan peradaban manusia dan mengajak agama-agama lain untuk berkontribusi bagi kehidupan dunia yang lebih baik. 

Negara demokratis dan media komunikasi bukanlah sumber kebenaran karena dua-duanya sering merelativisir kebenaran. Demokrasi modern cenderung jatuh dalam relativisme karena dibangun di atas konsensus dan negosiasi yang sarat dengan interese segelintir politisi atau mayoritas warga yang bisa saja sesat. Media komunikasi pun acap kali merelativisir kebenaran lantaran terjebak dalam utilitarisme dan pragmatisme ekonomi. 

Terbukti dalam kasus ini, para siswa tidak “makan feses” seperti pada pemberitaan awal oleh media, yang membuat masalah ini jadi viral. Penggunaan kata “makan” oleh medsos sangat jauh dari esensi kebenaran faktual. Itu adalah bukti paling nyata dari arus relativisme yang dimainkan oleh medsos, yang acap kali mengeksploitasi rasa ingin tahu manusia demi profit bisnis, sembari memarginalkan kebenaran. 

Dari dulu sampai sekarang, Seminari sebagai institusi penghasil manusia-manusia terbaik, telah membuktikan kiprahnya sebagai penangkal arus relativisme,  arus besar yang sering identik dengan modernisme dan postmodernisme. 

Semua yang pernah mengeyam pendidikan di Seminari bisa bersaksi betapa lembaga itu tidak pernah merelativisir nilai-nilai fundamental kristiani semisal kejujuran, kebenaran, keadilan dan cinta. Kalau pun negara dan medsos cenderung merelativisir kebenaran, seminari adalah komunitas religius yang konsistensinya dalam menghidupi kebenaran tak bisa diragukan oleh siapa pun.

Karena itu, tuntutan publik tentang urgensitas cara-cara baru dalam formasi para seminaris sembari mempertimbangkan dinamika dan relevansi historis seturut konteks jaman, tidak berarti bahwa Seminari mesti merelativisir nilai-nilai fundamental yang justru dibutuhkan dunia sepanjang jaman.

Sistem pendidikan yang membebaskan adalah sistem pendidikan yang terus mencari kebenaran sambil menghindari dua kutub mematikan: fundamentalisme dan relativisme. Proses pencarian kebenaran oleh setiap komunitas manusia (keluarga, masyarakat dan negara) seharusnya tidak terjebak dalam dua jurang berbahaya tersebut. 

Pada titik ini, sangat diperlukan suatu harmoni antara rasio dan iman dalam pencarian kebenaran agar manusia tidak jatuh dalam fundamentalisme atau pun relativisme. Iman dan agama yang cenderung tertutup terhadap terang rasio akan mudah jatuh dalam fundamentalisme. Rasio yang merasa cukup dalam diri sendiri dan tidak dimurnikan oleh iman akan mudah jatuh dalam relativisme.

Sampai detik ini saya masih percaya bahwa Seminari BSB dan semua seminari di Indonesia masih konsisten melindungi diri dari bahaya fundamentalisme dan relativisme karena harmoni antara rasio dan iman selalu menjiwai keseluruhan sistem pendidikannya.

Andaikan saya harus disuruh percaya pada kebenaran yang berasal dari medsos atau dari seminari, maka saya tentu memilih, pertama, seminari, yang kedua, medsos. Karena saya masih percaya kepada seminari sebagai sebuah institusi moral penjaga kebenaran dan juga saya masih percaya kepada semua formator dan guru di Seminari yang telah mengajarkan saya tentang apa itu kebenaran dan menunjukkan jalan-jalan lurus dalam pencarian kebenaran.   

Bahwa ada satu dua oknum siswa yang menunjukkan aksi fundamentalistis ataupun relativistis, itu adalah kemungkinan yang bisa saja terjadi pada setiap komunitas mana pun di dunia, atasnya perlu penyikapan edukatif-pedagogis dengan rasio yang lurus dan iman yang kokoh.  

Harmoni antara rasio dan iman (fides et ratio) yang menjadi warisan kekristenan itulah yang justru membuat seminari selalu terhidar dari jebakan fundamentalisme dan relativisme, apa pun jenis dan model ekspansi ideologis mereka. *

 Oleh: Pedrosina da Silva
Penulis adalah eks Seminari, kini
Mahasiswa Universidad Pontificia de Salamanca, Spain.

Tulisan ini sudah dimuat di floresnews.net
×
Berita Terbaru Update