-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kehebatan Guru di Manggarai Tak Sebanding dengan Gaji Kecil yang Diterima

Sabtu, 14 Maret 2020 | 10:01 WIB Last Updated 2020-03-14T03:04:03Z
Kehebatan Guru di Manggarai Tak Sebanding dengan Gaji Kecil yang Diterima
Ilustrasi; voa-islam.com

Sudahkah kita mempersiapkan generasi penerus Manggarai menghadapi tantangan global? Pertanyaan klasik ini memang mengundang beragam reaksi  tetapi cukup kita melakukan permenungan saja jika kita memiliki peduli tinggi terhadap Manggarai tercinta.

Saya coba merefleksi dari sudut pandang pengetahuan, bahwa nasib generasi kita ke depan adalah ada ditangan "Guru". Guru adalah lentera kehidupan, guru adalah pelita bagi generasi milenial. 

Guru adalah pahlawan pembentukan karakter mulai dari pendidikan dasar seperti TK, SD hingga seseorang itu menjadi baik. Tak salah kalau guru di sematkan menjadi pahlawan tanpa tanda jasa, karena jasanya begitu besar terhadap orang-orang besar seperti, DPR, BUPATI bahkan presiden sekalipun.

 Aktivitas memanusiakan manusia merupakan kerja yang tidak gampang, dengan setia guru melewati begitu banyak dinamika, mengurus nasib orang. Mereka adalah guru yang setia mengajarkan kita ke hal yang baik dan benar

Apakah kesejahteraan guru di Manggarai cukup diperhatikan? Pertanyaan ini menjadi sandaran saya untuk menjadi sebuah permenungan singkat seraya meratap perlakuan kepada guru yang di mana mereka tetap setia mengabdi terhadap bangsa dan negara. Mereka pertaruhkan segala jiwa dan raganya untuk mengabdi demi menyiapkan generasi penerus bangsa ini, generasi penerus Manggarai.

Guru adalah salah satu bidang utama dalam kebijakan publik karena mereka adalah lokomotif dasar penggerak bangsa ini yang entah suatu saat mau dibawa kemana nasib kita semua, tetapi semuanya itu telah diabaikan, telah terbantahkan oleh nasib mereka yang begitu malang. 

Mereka rela dibayar upah 300 ribu hingga 700 ribu per bulan, tetapi mereka dengan iklas menerima kebijakan tersebut. Semangat mereka tidak perna pudar, membawa sinar untuk menerangi gelapnya tanah congka sae ini, lebih mirisnya lagi orang yang disebut pahlawan tanpa tanda jasa itu menunggu tiga bulan sekali menerima upah. 

Saya tidak tau nasib anak dan istrinya, cukupkah upah yang diterima tiga bulan sekali itu untuk bisa menafkahi kehidupan rumah tangganya? Miris bukan main nasib guru kita di Manggarai, jasa mereka hanya dibayar dengan segitu rendahnya, tetapi yang hebatnya adalah pengabdian mereka tak akan luntur untuk memanusiakan manusia di Manggarai ini.

Dari persoalan diatas AMAN siap memberihkan perhatian lebih terhadap profesi mulia itu, karena hanya di AMAN yang tau persis tentang masa depan Manggarai.

Oleh: Ignasius Margareto Jayadi
Penulis adalah Pegiat Media Sosial, Tinggal di Wase Wengke, Desa Beo Rahong

Kontak: redaksisocietasnews@gmail.com

×
Berita Terbaru Update