-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kesaksian Saat Mau Mati atau Hidup: Butuh Pengakuan

Kamis, 26 Maret 2020 | 09:46 WIB Last Updated 2020-03-26T02:47:12Z
Kesaksian Saat Mau Mati atau Hidup: Btuh Pengakuan
(Foto Istimewah)

Tulisan ini merupakan tulisannya alm. Frans Teti, teman saya yang meninggal di Kupang 3 Meret 2020 karena gagal ginjal. Semasih hidup beliau menitip pesan kepada saya untuk memfile tulisan-tulisannya di group Santapan Rohani facebook. Salah satunya berikut ini. Saya mohon izin keluarga. Tambahan catatan saya, arti 'pengakuan' di sini adalah menginfokan jujur tentang identitas diri 

Timor Timur, setelah atau sekitar 17 Agustus 1976. Ada pesta panen raya ikan di danau (kolam?) BE MALAE. Bupati Joao Tavares bersama jajarannya, petinggi militer setempat, hadir membaur bersama rakyat.

Sound system stand by. Speaker di sudut-sudut kolam lagi "on" dengan volume maksimum. Bupati Tavares berorasi sambil mengajak rakyat bersukaria menikmati kemerdekaan. Orang tua, anak muda, anak-anak larut dalam kegembiraan. 

Saat lagi ramai memanen ikan, tiba-tiba perutku kembung. Karena tidak ada WC, saya menepi ke hutan kayu putih berjarak sekitar 500 m jauh dari keramaian. Tiba-tiba saya dihadang seorang serdadu: tampak muda (sekitar 40-an tahun); berseragam kheki a la serdadu Jepang; bersenjata laras panjang, tidak disandang tapi dalam posisi menodong. Saya terhenyak ..

"Apakah Anda utusan Uskup?" ia bertanya singkat. Kalimat lengkap, tegas. Dari logatnya, dia bukan orang Timor, tapi Indonesia banget. 

"Mengapa Uskup-ku disebut?" aku membatin sejenak. Hanya ada dua kemungkinan: ini kalimat sapaan, atau ancaman. Kalau sapaan, mengapa berhadapan dengan laras senjata? Mengapa tanpa uluran tangan atau ucapan salam. Kalau ancaman, tak ada waktu untuk mengelak.  Biarlah aku selesai, asalkan tetap dalam pengakuan, bukan penyangkalan.

"Iya! Sayalah orangnya."
Seketika itu juga ada segerombolan sapi liar mendadak muncul dari balik belukar, berlari mendekat. Kami sama-sama kaget. Sapi-sapi liar menatap kami berdua. Serdadu mengarahkan laras senjata ke arah sapi tetapi sapi-sapi itu tampak tidak bergeming. Malah bergerak semakin dekat seolah siap tanduk.

Hening sejenak. Sapi-sapi bergerak menyamping. Perlahan, tidak berlari. Serdadu seolah terajak, ikut menggiring ke tengah hutan, menghilang. Saya pun mundur perlahan-lahan. Balik ke tempat ramai. 

Di tempat ramai, pikiran saya justeru berkecamuk: Perlukah saya lapor atau ceritakan pengalaman  ini. Kepada siapa, dan apa alasannya? Siapa yang peduli?

Lama saya pendam dengan kesadaran ini:  Hidup atau mati ternyata bukanlah hal yang luar biasa. Bisa terjadi sewaktu-waktu dan di mana saja, lalu selesai. Dikenang sebentar, atau hilang bagai angin lalu. Dan itu biasa. Asalkan yang satu ini  - bila saatnya tiba -  tak boleh hilang, yakni: tetap dalam pengakuan, bukan penyangkalan.

Syaloom
Oleh: Frans Teti
*******

Tulisan ini diminta Jon Kadis untuk muat di societasnews.id. 
×
Berita Terbaru Update