-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Mahar Cinta Seribu Rindu, Surga Bukan Milik Pribadi, Aku Belum Penyair, Aku Bukan Malaikat

Senin, 09 Maret 2020 | 22:11 WIB Last Updated 2020-03-09T15:11:31Z
Mahar Cinta Seribu Rindu, Surga Bukan Milik Pribadi, Aku Belum Penyair, Aku Bukan Malaikat
Sang Penyair, Eko Prakoso (Foto istimewah)

Mahar Cinta Seribu Rindu

Dinda, sore ini udara di muka jendela
begitu sejuk serta dingin
sehabis butiran hujan rindu turun
dengan lebat menyentuh pada muka tanah rasaku...

Semilir angin yang bertiup bermain
di antara ranting-ranting dahan pohon bambunya
membuat suasana begitu teduh
senyap dalam nafas alam di sekitarku

Dinda, rembang petang mulai merambah
di ujung kaki cakrawala merah jingga,
pantulan bias warnanya jatuh tepat
di atas bulir-bulir air hujannya pada 
lembar daun bambu basah serta lembab

Dinda, sore ini, hatiku begitu sunyi
serta terasa hampa
sesunyi warna lembayung turun
di muka jendela usang kamarku
di mana aku berada dibalik tirainya
yang mulai kusam...

Dinda, saat malam mulai merambat
pada wajah senja begitu ingin
aku menuliskan rangkaian rasa rinduku
yang berkecamuk
pada selasar ruang rasaku kepadamu
dan hembusan angin di antara daun-daun bambunya yang hijau
mulai membentuk gambar bayang rupa parasmu pada wajah alam malam ini
di mana aku berdiri datar
di bawah sepi ngarainya...

Dinda, bila angin mulai bertiup deras di hadapanku
aku mulai berbincang kepada angin
untuk dapat menyambung rasa ini
hanya kepadamu...

Biarlah ranting-ranting ribuan dahan pohon bambu rindu ini
bersama hembusan seloka angin ngarai
menjelma menjadi alunan tembang lembar-lembar serat s'maradana cintaku
kepada kalbu hatimu itu

Dan tetap menjadi kidung cinta abadi
rasaku kepada rasamu
yang tak akan pernah usai
sampai batas zaman berakhir
diatas muka bumi ini, sayang

Surga Bukan Milik Pribadi

Surga jangan diburu
nanti neraka yang akan mengejar-ngejarmu
kerna yang lainnya akan terlihat salah
di matamu
kau merasa paling benar
dan paling suci diantara mereka
padahal paling nista
kerna kau telah melontekan agama Tuhan

Menuju surga itu berjalanlah dengan tenang
dengan hati yang tawadhu
dengan jiwa yang tawakalillah
dengan penuh kedamaian
di jalan kehidupan ini...

Karna kau tak sendirian tinggal di surga nanti
kerna surga itu bukan lahan milik pribadi
bukan pula lahan milik kakek moyangmu

Aku Belum Penyair

Aku sedang mengoreksi puisiku sendiri
sedang mengeritik karyaku sendiri
jangan sampai terlalu rindang
jangan sampai ada pengulangan kata
yang sama hingga hilang makna
tertimbun kata-kata sendiri

Aku sedang mengeritik diri sendiri
jangan sampai terlupa diri
jangan sampai jadi epigon
belajar dan terus belajar lagi

Aku belum menjadi penyair
aku baru menjadi seorang penulis
kerna seorang penyair dilahirkan karena rahmat
dari dalam rahim waktu zaman

Aku lebih suka mengeritik
tulisanku sendiri
tak suka mengoreksi karya orang lain
bukannya aku tak perduli
kerna aku menghargai proses
lahirnya sebuah karya
yang dituliskan oleh hati
kepada kehidupan ini...

Aku Bukan Malaikat

Tugas-tugas dari masa lalu
dan kemarin telah usai
tak lagi perlu ditengok
kerna hidup pada kehidupan
atas ketetapan takdir-Nya

Sekarang ada tugas baru
yang dijalankan melangkah ke depan hari
menjalani takdir melaju bersama arus waktu

"Jalani saja hidup dengan penuh
keyakinan dan cinta..."

Oleh: Eko Prakoso
Penulis adalah penyair sekaligus penikmat sastra
×
Berita Terbaru Update