-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Maria dan “Wanita” yang Dikuduskan / Dibaktikan

Selasa, 24 Maret 2020 | 06:21 WIB Last Updated 2020-03-23T23:52:52Z
Maria dan “Wanita” yang Dikuduskan/Dibaktikan
Pater Fidelis Wotan, SMM

MARIA E LA “DONNA” CONSACRATA
(Maria dan “Wanita” yang Dikuduskan/Dibaktikan) [Carla Bettinelli]
*******

PENGANTAR

Carla Bettinelli (selanjutnya disebut Bettinelli) adalah seorang biarawati karmelit, Milan (Italia). Beliau – selain dikenal sebagai seorang penulis wanita yang cukup produktif – adalah salah orang wanita di Italia yang memiliki pemikiran-pemikiran yang amat dipengaruhi oleh seorang yang begitu hebat semisal Edith Stein (sosok yang penting dalam panorama filosofis era 1900 -an maupun dalam teologis-spiritual). Carla Bettinelli, penulis artikel “Maria e la “donna consacrata” mencoba menampilkan suatu pemikiran yang menarik tentang relasi antara Perawan Maria dan para wanita yang dikuduskan (dibaktikan) kepada Allah. Maria baginya adalah sosok yang penting dan menjadi model bagi panggilan kaum wanita. Tulisannya ini sebetulnya bertitik tolak dari pandangan atau konsep umum yang seringkali melihat wanita sebagai sebuah kelompok manusia yang tidak terlalu diperhitungkan dalam masyarakat. Dari sebab itu, ia mengatakan bahwa adalah bermanfaat [menampilkan] sebuah pengantar yang mendasar mengenai relasionalitas dan karya wanita sehingga dapat dipahami dengan lebih baik soal martabat dan nilai wanita, dan berpikir dalam suatu sudut pandang yang berbeda tentang makna kehadirannya.

Terkait dengan intensi ini, Bettinelli mencoba menyoroti beberapa aspek yang berkaitan erat dengan “kewanitaan-keperempuanan” yang dari sana akan muncul suatu gambaran utuh mengenai siapa itu wanita, bagaimana martabat dan nilai yang ada dalam diri seorang wanita. Cara berpikir ini direfleksikannya dalam kaitan erat dengan sosok atau figur yang bernama “Maria.” Berikut ini ada beberapa ide, pemikiran yang dipaparkan oleh Carla Bettinelli.

1. KEBERADAAN, TINDAKAN DAN HAL-HAL FEMINIM

Bettineli menampilkan suatu realitas hidup manusia di mana pada kenyataannya apa yang disebut dengan manusia itu ternyata dibentuk (red: dilahirkan) dari pria dan wanita yang memiliki sifa-sifat esensi manusia yang sama, menurun pada feminin dan maskulin, khususnya pada keunikan feminim dan maskulin.

Ia melihat bahwa memang agaknya sulit mendefinisikan hal yang sama-sama spesifik. Sebuah kontribusi yang sangat berguna pun dapat dialirkan dari antropologi filsafat dan dari pengetahuan (ilmu) manusia yang lain sebagaimana yang sudah ada. Secara amat sintetis, ia melihat bahwa manifestasi soal perbedaan spesifik dari keduanya merupakan keanekaragaman tubuh. Fakta lain soal spesifikasi dan karya kaum feminim dan maskulin secara pasti acapkali diperdebatkan dengan orientasi pada soal saling melengkapi dan memiliki pengaruh timbal-balik.

Bettinelli mengatakan bahwa wanita memang mengetahui (sesuatu) secara intuitif, kontemplatif dan biasanya pula terkait erat dengan pengalaman hidup. Berkenaan dengan ini, ia menulis: “memahami apa yang dilihat – juga kalau tanpa memakai analisis – sebab punya kemampuan untuk mengumpulkan semuanya bahkan dengan mata, dan memahami apa yang dialami.”

Kemudian, dikatakan pula cara atau pola berpikir seorang wanita lebih merupakan sebuah pemikiran dengan menggunakan hati oleh karena itu berada pada jiwanya, itulah sebabnya seorang wanita memahami apa yang dicintai atau disukainya. Persis seperti inilah, Bettinelli menggarisbawahi bahwa seorang wanita mengenal, mengetahui secara kontemplatif. Ia berkata bahwa di dalam dirinya, pikiran dan perasaan, sebetulnya, mereka memusatkan perhatian pada yang lain dan menjalaninya dengan empatik. Terkait dengan ini, Bettinelli mengutip pandangan para mistik ternama yang mengatakan bahwa di dalam hati terletak pikiran dan kemampuan utama untuk memahami. Hal ini dapat dilihat dari kutipan dari Origenes yang berkata: “Nel cuore risiedono la mente e la principale capacità di comprendere.” Dengan demikian, menurut Bettinelli, ciri khas atau tipe wanita memodulasi pengetahuan seseorang dan bekerja pada irama hati yang, saat dimurnikan oleh asketisme dan diresapi oleh rahmat ilahi, berdenyut sesuai dengan ukuran dan detak jantung Tuhan.

Bettinelli menerangkan bahwa sebagaimana setiap eksistensi manusiawi termasuk wanita menghidupi “relasionalitas”, mengenakan konotasi persatuan substansial dari jiwa dengan tubuh yang cocok, saling melengkapi, saling memberi dan melayani. Jadi, dalam konteks ini penulis ini berpandangan bahwa memang seorang wanita menghidupi dirinya sendiri dengan cara yang sangat intim dan intens. Berkenaan dengan ini, ia mengatakan bahwa setiap pikiran, proyek dan perasaan memiliki makna yang mendalam dan risonansi yang panjang dalam tubuhnya. Dikatakan demikian oleh karena apa yang dinamakan dengan “korporealitasnya” (kebertubuhannya) ditembusi tidak hanya diliputi oleh sensai belaka, tetapi juga oleh apa yang bersifat spiritual (rohani).

Bagi Bettinelli, dalam relasi atau kehidupan pasangan suami-istri terungkap suatu persekutuan antar pribadi yang saling mendukung, melayani dan melengkapi satu sama lain. Dalam konteks ini, kehadiran seorang wanita sebetulnya dapat menjadi berkat bagi yang lain, baik untuk pasangannya sendiri, untuk anak, maupun untuk sesama anggota komunitasnya.

2. WANITA YANG DIKUDUSKAN [RED: DIBAKTIKAN]

Menurut Bettinelli, semua hal yang dikatakan tentang wanita – seperti yang dia uraikan sebelumnya - sampai saat ini tetap berlaku pula bagi wanita yang dikuduskan [dibaktikan - donna consacrata]. Ia melihat bahwa melalui keperawanan yang dibaktikan seorang wanita – tetapi juga kaum pria – melalui keperawanan yang dikuduskan itu – juga manusia sepenuhnya dari Allah, di dalam Kristus dan dalam kasih Roh, dia menjadi sungguh-sungguh seperti diri-Nya. Mengutip pandangan Methodius dari Olympus dalam sebuah karya yang berjudul “il Banchetto”, Bettnelli mengatakan bahwa Allah adalah Sang Cahaya yang tak dapat dijangkau dan tak dapat diakses itu telah menciptakan jiwa perawan dalam gambaran-Nya sendiri. Dari sebab itu, menurutnya, jiwa seorang perawan “mereproduksi dengan sendirinya fitur-fitur tentang Dia yang menghasilkan dan membentuknya, kemegahan yang penuh mengenai kemiripan dengan Dia dan wajahnya “sama dengan-Nya.”

Bagi Bettinelli, apakah memang keperawanan yang dimaksudkan tersebbut bersifat nubuat dan eskatologis, bukankah itu dipandang sebagai gema dari beberapa ungkapan Injil Matius? Dari sebab itu, ia mengatakan bahwa memang secara analog mirip dengan Tuhan dan secara mistik ditinggalkan padanya. Dalam arti ini, seorang perawan wanita membiarkan dirinya diresapi oleh hidupnya sendiri, membuatnya bertumbuh dalam dirinya sendiri dan bertumbuh dalam tanda keibuan rohani.

Kesadaran diri Kaum Feminim (Kaum Wanita)

Bettinelli melihat bahwa kaum wanita seringkali memandang hidup dan keberadaannya dalam suatu relasi dengan yang lain. Hubungan yang ia maksud ialah suatu relasi antar pribadi. Salah satu hubungan itu yang paling kuat dapat dirasakan dalam doa. Bagi Bettinelli, doa merupakan sebuah momen relasionalitas; “momen relasionalitas yang tertinggi adalah doa”. Dikatakan demikian oleh karena doa merupakan suatu ruang yang memungkinkan manusia menyambut Allah Tritunggal dan dengan sendirinya ia dapat tinggal di dalamnya. Bettinelli berkata juga bahwa doa merupakan suatu kediaman yang hidup, merasakan, membawa dalam dirinya sendiri sikap sadar atau tidak sadar dari saudara dan saudari, dan mempersembahkan kepada Allah. Oleh karena itu, baginya doa dianggap sebagai hal yang relasional dalam ekspresi feminitas dan keibuannya. Hal itu justru membuat orang lebih merasakan feminitas dan keibuan Gereja.

Menurut Bettinelli, pembicaraan tentang feminitas Gereja sebetulnya itu merupakan suatu hal yang baik dan positif guna membangkitkan misteri persekutuan yang merupakan sifatnya yang paling dalam. Salah satu pemahaman yang dapat ditarik dari sini, yaitu bahwa hal itu memungkinkan orang memahami prioritas dalam Gereja persekutuan. Dimensi persekutuan ini menemukan ungkapannya paling tinggi dalam liturgi terutama di dalam Ekaristi. Di situ terjadi persekutuan yang semakin dalam dari setiap pribadi yang dibaptis dengan Kristus dan dengan saudara-saudari di tengah kehidupan yang nyata.

Arti kedua yang dianggap sama pentingnya oleh Bettinelli, yaitu panggilan Gereja. Menurutnya, seluruh Gereja dan setiap orang yang dibaptis dipanggil untuk melayani, dengan segala potensi yang dimiliki. Akan tetapi harus tetap diingat bahwa hanya Kristus, dengan karunia Roh Kuduslah yang menjamin seluruh anggota Gereja suatu kesuburan rohani yang nyata. Bagi Bettinelli, andaikata orang melupakan peran utama Roh Kudus, maka itu sama dengan “mendistorsi rencana Allah dan itu sama dengan mengabdikan semua komitmen kerasulan kepada suatu kemandulan.”

Arti ketiga, kolaborasi dalam karya keselamatan. Kolaborasi semacam itu dalam karya keselamatan dapat diungkapkan lewat istilah keibuan. Dengan kata lain, Bettinelli mengatakan bahwa hidup itu sendiri merupakan pusat dari setiap kegiatan gerejawi: “kehidupan yang penuh, ditawarkan kepada setiap orang oleh Allah [...], perhatian kepada orang-orang, kepada komunitas manusia yang dipanggil pada kehidupan penuh dalam Allah dan untuk persekutuan akan persaudaraan dalam keadilan dan cinta.” Semua bentuk kehidupan yang dikuduskan, baik maskulin maupun feminin, pada dasarnya memiliki suatu keterbukaan menuju nilai-nilai yang ditekankan oleh referensi ke simbolisme feminitas. Semua hal yang sudah dikatakan tersebut, menurut Bettinelli berlaku pula dengan cara yang istimewa bagi kehidupan wanita yang dikuduskan [red: dibaktikan].

Kehadiran Kaum Wanita

Bettinelli menulis: “Mengetahui bagaimana berpartisipasi di dalam kehidupan orang lain, yaitu mengetahui bagaimana mengambil bagian dalam segala hal, besar dan kecil, yang menyangkut dirinya: untuk kegembiraan dan kesakitan, seperti pekerjaan dan masalahnya: inilah karunia dan sukacita wanita.”

Menurutnya, apa yang dinamakan dengan partisipasi wanita yang adalah karunia (berkat) bagi yang lain, dari wilayah kerja yang tepat atau dari institusi yang tertentu: meluas pada setiap bentuk (model) komunitas entah sosial, nasional, internasional dan gerejani.

Bettinelli melihat pula bahwa kehadiran kaum perempuan dalam konteks yang berbeda merupakan hal yang perlu bukan hanya karena antara pria dan wanita sama-sama memiliki suatu martabat tertentu dan seharusnya sama dalam hal keberuntungan, melainkan juga terutama karena, dia dipanggil pada sebuah misi khusus: memanusiawikan kehidupan. Berkaitan dengan partisipasi atau keterlibatan wanita dalam hidup bersama baik di dalam masyarakat maupun Gereja, Bettinelli mengutip pandangan F. Barbiero:

“Tempat bagi wanita ialah sedang bertumbuh dan tidak dapat dikurangi. Dewasa ini kita sedang menghidupi sebuah sejarah, suau fase evolusi dunia yang dicirikan lewat hadirnya kaum perempuan. Para wanita menentukan suatu pembalikan budaya yang baru, mereka telah mempengaruhi mentalitas, sosiologis. Demikian dalam Gereja dievaluasi pula dimensi keperempuanan itu. Elemen feminim diterjemahkan dalam suatu perhatian konkret mengenai kharisma di mana wanita adalah “portatrice” (red: pembawa). Perhatian diberikan tidak hanya dengan menyambut dan mendukung, tetapi lebih bersifat profetis dengan mempromosikan kehadiran yang lebih luas wanita yang dikuduskan [red: dibaktikan] dalam tugas-tugas tanggungjawab gerejawi, menciptakan ruang di mana dia dapat berkontribusi dengan sumbangan khasnya pada pengembangan budaya gerejani. Wanita yang diperdebatkan dalam sidang sinode itu bukan merupakan suatu pertanyaan “mengenai wilayah/bagian”, melainkan sebagai contoh guna menghadirkan cara yang lebih lengkap kesuburan Injil Yesus Kristus dan pewahyuan-Nya mengenai pribadi yang dijadikan (dibuat) pada citra [gambaran] Allah Tritunggal). Jadi, pertanyaan tentang ruang dibuat oleh kaum wanita pada Sinode lebih mengenai seruan pembenaran dan bergema sebagai kebutuhan akan kemungkinan-kemungkinan baru demi mengungkapkan Injil; sebagai peringatan akan karunia yang ditawarkan Kristus secara tetap kepada Gereja-Nya. Kesadaran baru kaum perempuan sangat “hidup”, bahkan juga di dalam kehidupan religius dipersembahkan sebagai tanda yang oleh Gereja disela tanpa berhenti dan tanpa keraguan. Seruan untuk meningkatkan kejeniusan feminim, panggilan untuk menawarkan keanggotaan di Gereja, mendukung konfrontasi sehingga “kaum religius” dipandang sebagai rujukan gerejawi yang baru dan merupakan suatu seruan agar tidak merasa puas dengan menonjolkan retorika, tapi menuntut suatu kesempatan (peluang) baru bagi sumber orisinalitas dan keperempuanan (feminine) dengan itu tanpa bermaksud meminggirkan manusia.”

3. “CHIRAGOGIA DI MARIA”, PENAMPAKAN ROH

Bettinelli mencatat salah satu pandangan yang dihasilkan dalam Sinode mereka dan dipresentasikan di hadapan Paus yang mengatakan demikian: “Para wanita yang disucikan [red; dibaktikan] kiranya dibimbing oleh teladan Perawan Maria yang Suci yang merupakan Ibu yang penuh cinta kasih bagi Putranya dan partner sempurna Sang Penebus dalam karya keselamatan kita dan dalam menstabilisasi serta menyebarkan Kerajaan Allah. Dengan cara ini, sukacita bagi kodrat keperempuanan (feminilitas), sungguh-sungguh bebas dari roh, mereka akan melakukan pekerjaan amal di antara para wanita yang putus asa dan hina.”

Dari kutipan itu, Bettinelli menangkap bahwa apa yang disebut dengan “donna consacrata” [red: wanita yang dikuduskan-dibaktikan] dibimbing oleh Maria dan memandang cara kerjanya. Dan dikatakan bahwa dia tidak tahu kalau dirinya adalah seorang wanita, namun menurut Bettinelli seorang wanita bersukacita akan feminilitas (kewanitaan atau keperempuanan) yang menjadi ciri khasnya. Dan kesan yang demikian, bagi Bettinelli “merupakan ungkapan pemenuhan, kesejahteraan, harmoni, hasil pembebasan batin yang telah terjadi – tidak bisa tidak dikomunikasikan, sebagai masalah sendiri pada wanita yang belum berada pada posisi untuk menyadari identitas dan martabatnya yang tak dimilikinya dapat menikmati kewanitaan mereka. Malahan dia mengutuknya.”

Berkenaan dengan ini, Bettinelli mengajukan pertanyaan seperti ini; apakah sebagai wanita yang dibaktikan (dikuduskan) tersebut memang perlu dibimbing oleh tangan Maria? Lantas, Lantas, menurutnya, apakah itu merupakan sebuah bimbingan yang aman dan menjadi contoh yang valid jikalau hidup seorang wanita berjalan di antara realitas kontradiktif (red: antara ya dan tidak).

Berkenaan dengan ini, Bettinelli mengajak kita membaca teks Luk 1:26-38. Dalam teks ini, tampak sebuah dialog yang intens antara Malaikat Gabriel dan seorang Perawan yang bertunangan dengan Yusuf dan di sana muncul beberapa pernyataan atau hal yang kontradiktif, yang tidak sepadan dengan realitas. Dikatakan bahwa pada salam dari Malaikat, “Salam, penuh rahmat” (ay. 28), “si gadis yang mendengarnya dengan penuh perhatian, memandang “miliknya yang tepat.” Merasakan “yang diharapkan”, itulah makna mendasar dari salam itu “ia terkejut” (mendengar salam itu) (ay. 29). Ia mengalami perasaan yang mendalam: sementara dia mendengar suatu undangan untuk bersukacita yang sudah disediakan oleh para nabi untuk “Putri Sion”, yang memaklumkan kedatangan Sang Mesias, (bdk. Sef 3:14-17; Gal 2:21-22; Zak 9:9). Bettinelli berkata bahwa sebetulnya tidaklah jelas arti nama yang disapa oleh Gabriel kepada Maria. Nah, itulah sebabnya - kata Bettinelli seperti yang dijelaskan oleh Origenes - bahwa Maria mengetahui demikian: “tak seorang pun pernah disapa dengan kata-kata tersebut.” Tentu saja hal itu membuatnya terkejut. Bettinelli melihat bahwa memang Maria Terkejut, namun tidak sepenuhnya merasa kecewa karena jikalau tidak, maka dia tidak dapat bertanya. Hal pertama yang ditawarkan (disampaikan) oleh Gabriel sendiri: “Kamu telah memperolah kasih karunia di hadapan Allah” (ay. 30) yang akan menjadikannya tempat di mana harapan mesianis akan terlaksana. Bahkan menurutnya: “ketika Maria memahami “makna” dari pesan itu: dia sendiri yang akan menjadi ibu dari Putra yang Mahatinggi, ia menunjukkan keberanian yang mengesankan sebelumnya: ia mempertanyakan misteri: “bagaimana mungkin hal itu terjadi, sementara saya belum mengenal laki-laki”? (ay. 34). Ia hendak memahami “bagaimana” peristiwa itu, yakni modalitas atau cara di mana akan terwujud keinginan Sang Ilahi.

Atas pertanyaannya itu, Bettinelli menunjukkan kepada kita bahwa memang jawaban atas pertanyaan dari Maria hanya ada pada Allah sendiri bahwa akan ada intervensi dari Roh Kudus. Ia menjelaskan bahwa Roh Kudus pada hari-hari penciptaan (bdk. Kej 1:2) akan kembali melayang-layang karena chaos yang kali ini bukan lagi menjadi masalah, melainkan manusia membuat ciptaan baru; “awan” bercahaya di Sinai yang berarti lambang kehadiran Allah (bdk. Kel 13, 22; 19:16; 24:16) akan hadir dan berkarya di dalam Maria, namun sekarang berada di luar simbolisme apa pun. Allah dan Roh-Nya “menaungi” Maria yakni berupa “awan” yang memenuhi suatu intervensi yang benar dan berdaya guna (bdk. Mzm 17:8; 57:2; 140:8).”

Bettinelli mengatakan lebih lanjut bahwa Maria dengan penuh keberanian mau menanyakan misteri tersebut, ia menyatukan permohonan dan jawaban dari Allah: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (ay. 38).

Bagi Bettinelli, apa yang disebut dengan kondisi penuh “rahmat” tidak lain adalah sang hamba itu sendiri, yakni Maria. Kondisi-kondisi tersebut pada dirinya sendiri, antitesis. Namun, antinomi (antinomia) yang paling kuat berada pada kenyataan perawan – ibu dan bunda sang Putra Allah di mana bahkan kita sendiri bertanya: bagaimana itu mungkin terjadi? Bettinelli mengatakan bahwa memang kita tidak dapat mengetahui tak satupun logika yang membiarkan satu pun kontradiksi tetap ada. Dia juga bertanya, “bagaimana mungkin lamanya penantian mesianis menjadi realitas dalam kegelapan rahim dari seorang wanita muda? Bagaimana mungkin ruang dan waktu manusia menampung di dalam dirinya yang absolut tak terbatas dan abadi?

Kemudian, masih ada pertanyaan lain lagi dari Maria yang ditunjukkan oleh Bettinelli sebagaimana tampak dalam dialog tersebut, yaitu sebuah “bagaimana” yang lain, sementara ia mengejutkan kita, yakni alasan (motif) sukacita-kegembiran dan kebanggaan.” Berkenaan dengan poin ini, Bettinelli pun mengajukan sebuah pertanyaan, yakni bagaimana mungkin Allah Tritunggal, dalam persekutuan-Nya dan perwujudan-Nya yang penuh, meminta pada seorang ciptaan – ciptaan wanita – berpartisipasi apa tanda keselamatan-Nya dan menanti daripadanya jawaban “ya”, yang sadar dan bertanggungjawab? “Tak ada yang mustahil bagi Allah” (ay. 37) melalui Roh-Nya. Menurutnya, “adalah Roh menyelidiki “hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah” (1 Kor 2:10) di mana pandangan kita tak mampu meraihnya, menyelaraskan kontradiksi - kontradisi dalam kehidupan Maria, dan selalu Dia yang mensintesiskan kontradiksi-kontradiksi tersebut. Menurut Bettinelli, “Ya, Dia karena, sejauh Allah memberi kehidupan, mampu mengubah sterilitas keperawanan Maria menjadi perawan yang subur, keibuannya.”

Selalu Dialah yang dalam kehidupan di dalam Allah Trinitas merupakan cinta personal, yang menebarkan dalam hati manusia Kasih Allah (bdk. Rm. 5:5). Konsekuensinya, menurut Bettinelli kasih dipandang sebagai gelar yang bersanding dengan Roh Kudus.

Persis seperti itulah, menurut Bettinelli adalah cahaya yang membimbing “tangan seorang ibu”, yang tampak melalui penciptaan suatu “ikon iman” (fedele icona). Menurut Bettinelli, “itulah Maria, mempelai wanita yang wajahnya terpancar, cahaya keilahian yang dinyatakan oleh Roh, oleh karena itu siapa yang mencari Maria, dia menemukan Roh.” Baginya, Sang Perawan, mempelai, ibu: dengan konotasi-konotasi tersebut, Maria senantiasa hadir bagi wanita, wanita yang dikuduskan (red: dibaktikan), menjadi teladan.

KESIMPULAN

Jadi, dapat disimpulkan bahwa bagi Bettinelli, dengan adanya term chiragogia-nya tersebut, Perawan Maria - melalui tuntunan tangannya - akan membimbing para wanita berjalan mendekati mereka. Dialah yang oleh Bettinelli dipandang sebagai figur yang membimbing kaum wanita yang dibaktikan pada perwujudan panggilan kewanitaan (keperempuanan) mereka dalam Gereja dan dalam dunia. Dia mendampingi para wanita tersebut dalam perjalanan keperawanan yang dihidupi di dalam Kristus Yesus seperti penerimaan, kesiapsediaan, partisipasi dalam melayani Tuhan, dan secara rohani menghadirkan bagi hidup mereka sendiri seorang sosok sebagai seorang ibu.

Dengan demikian, Bettinelli pun menegaskan bahwa Maria merupakan penampakan dari Roh yang adalah sumber hidup, ia mendampingi atau menemani kaum wanita dalam kekhususan feminitas mereka guna menemukan dan menghidupi elemen sumber keberadaan hidup mereka sendiri.

Sumber: 

1. CARLA BETTINELLI, “Maria e la donna consacrata”, in E. TONNIOLO (a cura di), La Vergine Madre e la vita consacrata, Centro di cultura mariana, “Maria Madre della Chiesa”, Roma 1995, hlm. 162.

2. ORIGENE, Selecta in Psalmos, In psalmum 36, omelia 1,4; PG 12, 1327.

3. CARLA BETTINELLI, “Maria e la donna consacrata”, hlm. 165.

4. F. FARBIERO, “De Re Nostra” in Consacrazione e Servizio, supplement al n. 12, 1994, hlm. 53-54. Lih. CARLA BETTINELLI, “Maria e la donna consacrata”, hlm. 166.

5. Dengan istilah “Chiragogia” tersebut, sebetulnya mau dikatakan bahwa Maria bukan saja seorang model, melainkan juga terutama merupakan seorang pribadi (ibu) yang “dekat dengan kita” dengan suatu relasi yang begitu lemah lembut, sangat dirasakan (tampak hangat) dan penuh dengan sensasi; suatu kontak atau hubungan yang memberikan kehangatan dan penuh dengan kasih sayang sebagai seorang pribadi. Jadi, istilah ini dipakai pertama kali oleh Edith Stein untuk menggambarkan bimbingan dan kasih sayang Maria yang memimpin setiap orang dengan tangan secara spiritual. Dalam artikel ini, penulis Carla Bettinelli meminjam istilah Edith Stein untuk melukiskan figur Maria yang membimbing manusia secara spiritual “qual mano d’una mamma”, juga dalam kaitannya dengan apa yang dikatakan dalam Kitab Suci. Lih. CARLA BETTINELLI, “Maria e la donna consacrata”, hlm. 169. Bdk. E. STEIN, Poesie, cit. in Marianum, n. 145/2, hlm. 579.

6. Bettinelli mencatat: “Terjemahan yang muncul dalam “Consacrazione e servizio” cit., hlm. 59. Sebuah perbedaan kecil yakni terjemahan yang dilakukan oleh “Il regno”, n. 21, 1994, hlm. 665.

7. CARLA BETTINELLI, “Maria e la donna consacrata”, hlm.167.

8. M. MASINI, manoscritto (tulisan tangan).

9. CARLA BETTINELLI, “Maria e la donna consacrata”, hlm.168. Lih. ORIGENE, Homilies sur Luc, omelia VI, 7, Sources Chretienners, vil. 87, hlm. 148.

10. M. MASSINI, manoscritto.

11. M. MASSINI, Maria “la vergine dell’ascolto”, OR 1994, hlm. 49.

12. CARLA BETTINELLI, “Maria e la donna consacrata”, hlm. 169. Bdk. Ibid, hlm. 53.

13. E. STEIN, Poesie, cit. in Marianum, n. 145/2, hlm. 579.

*******

Oleh: Carla Bettinelli
Penulis adalah seorang biarawati karmelit, Milan (Italia). Beliau  adalah salah orang wanita di Italia yang memiliki pemikiran-pemikiran yang amat luar biasa. Tulisannya yang berjudul MARIA E LA “DONNA” CONSACRATA ini diterjemahkan dan dibahasakan kembali oleh Pater Fidel Wotan SMM yang secara khusus menekuni bidang Mariologi. 
×
Berita Terbaru Update