-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Menguatnya 'Naluri Animalitas' (Refleksi Peristiwa 'Adu Jotos' Dua Kabag Mabar)

Kamis, 05 Maret 2020 | 20:10 WIB Last Updated 2020-03-05T14:51:59Z
Menguatnya 'Naluri Animalitas' (Refleksi Peristiwa 'Adu Jotos' Dua Kabag Mabar)
Menguatnya 'Naluri Animalitas' (Refleksi Peristiwa 'Adu Jotos' Dua Kabag Mabar)

Oleh: Sil Joni*

Filsuf sekelas Sokrates agaknya keliru ketika bergumul dengan 'tesis inteletualisme etis' dalam membaca 'level keadaban manusia'. Pasalnya, Sokrates begitu 'percaya diri' dengan hipotesisnya bahwa semakin tinggi tingkat intelektualitas seseorang, maka derajat penghayatan moralitasnya pun semakin baik. Dengan formulasi lain, Sokrates melihat ada korelasi yang erat antara entitas intelek dengan moralitas.

Publik Manggarai Barat (Mabar) 'dihebohkan' dengan video dan berita tentang dua kepala bagian (Kabag) yang terlibat 'duel fisik', di tempat paling terhormat di Kabupaten ini, Kantor Bupati (Daerah) Mabar. Tempus terjadinya bentrok itu pun menimbulkan problem yang serius. Mereka 'adu jotos' pada jam efektif untuk bekerja secara profesional di kantor publik sebagai 'pelayan negara' yang kompeten. Waktu efektif untuk memperlihatkan kecakapan teknis dan etis dalam bekerja, berubah menjadi 'kesempatan' memamerkan otot secara agresif.

Kantor bupati dalam sekejab berubah menjadi 'arena tarung bebas' entah dengan motif dan tujuan apa. Nalar sehat kita sulit mencerna secara objektif 'aksi premanisme' yang diperagakan oleh dua pejabat publik itu. Bayangkan, keduanya bukan 'bocah ingusan' yang sedang berebutan gula-gula sehingga perkelahian jadi 'opsi primer', tetapi dua individu dengan predikat atau pangkat yang prestisius (Kabag).

Tetapi, entah mengapa 'naluri animalitas' dipertontonkan secara telanjang dalam ruang bermartabat itu. Mereka 'gagal' mengelola 'sisi emosional' secara kreatif. Rasionalitas seolah 'tak berkutik' di hadapan entitas emosi sesaat itu.

Saya sangat yakin bahwa dua Kabag yang berseteru ini dibekali dengan 'senjata intelektual' dan pelatihan penginternalisasian kode etik sebagai 'aparatus negara' sebelum menduduki posisi karier seperti itu. Siapa pun tahu bahwa 'tidak semua Aparatur Sipil Negara (ASN) diberi 'mandat' untuk menempati pos Kepala Bagian di Kabupaten ini.

Tetapi, dengan kejadian ini, kita menjadi ragu 'apakah keduanya' memang layak menduduki jabatan itu? Saya berpikir, bupati Mabar mesti bersikap tegas dan mengevaluasi kinerja dan performa 'emosional' keduanya. Apakah pribadi yang temperamen dan emosional semacam itu layak menjadi Kepala Bagian?

Peristiwa perkelahian dua Kabag itu, tentu menjadi 'preseden' buruk perihal kompetensi etis dan intelektual yang dimiliki oleh para pejabat publik kita. Karena itu, bupati perlu memikirkan 'mekanisme pengujian sisi  mental-psikis' seorang ASN sebelum ditunjuk untuk menempati jabatan tertentu. Kritiria yang berbasis eselonisasi, senioritas, dan jenjang pendidikan (S2, S3) tidak cukup untuk 'mengukur' kematangan emosional seseorang.

Kita tidak ingin kantor-kantor publik dihuni oleh 'sekawanan makluk immoral'. Era otoritas 'otot' sudah berlalu. Sedapat mungkin para pejabat publik menggunakan 'rasionalitas dan hati yang jernih' dalam merespons dan mencari solusi terhadap sebuah persoalan.

Adu jotos adalah 'cara khas binatang' dalam menyelesaikan sebuah perkara. Memang, jauh hari Aristoteles mendefinisikan manusia sebagai 'binatang yang rasional (berakal budi). Entitas kebinatangan itu, memang tidak lenyap ketika kita menjadi 'pejabat publik'. Namun, sebetulnya, 'rasio, intelek' mesti diaktifkan dan dijadikan pengendali setiap aktivitas kebinatangan itu. Ketika manusia 'abai mengoptimalisasi akal budinya', maka pada saat itulah statusnya kembali 'terjun bebas' selevel dengan binatang yang lain.

Kasus 'adu otot' dua Kabag menjadi 'cermin' untuk melihat tingkat kecerdasan emosional pejabat publik. Kita memetik semacam 'pelajaran berharga' bahwa cara kerja binatang bukan 'pilihan yang cerdas' dalam mengatasi konflik. 

Sudah saatnya para pejabat kita dibekali dengan 'pola manajemen konflik' yang bersifat produktif. Berharap kantor-kantor publik tidak lagi menjadi 'panggung' ekshibisi pegawai yang berbakat jadi binatang.

*Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Politik.
Editor: Nasarius Fidin
×
Berita Terbaru Update