-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Meninjau Pengelolaan Bekas Tambang dan Pengelolaan Sapi Terintegrasi

Senin, 09 Maret 2020 | 18:31 WIB Last Updated 2020-03-09T11:56:12Z
Meninjau Pengelolaan Bekas Tambang dan Pengelolaan Sapi Terintegrasi
 Yohanis Fransiskus Lema, S.IP, M.Si

Selasa (3/3/2020), Tim Kunjungan Kerja Komisi IV DPR RI melakukan kegiatan Reses Komisi di Bangka Belitung yang langsung dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Bapak Dedy Mulyadi.

Tiga agenda utama dalam kegiatan Reses Komisi IV DPR RI di Bangka Belitung yakni, Pertama, melakukan peninjauan ke Desa Belilik, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah, terkait kegiatan RHL di lokasi bekas tambang.

Kedua, melakukan peninjauan ke kawasan ternak sapi yang sudah terintegrasi langsung dengan pakan dan pengelolaan limbahnya.

Ketiga, melakukan peninjauan dan pertemuan di Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SKIPM) kelas I Depati Amir, Pangkal Pinang, Bangka Belitung.

Dalam peninjauan, ditemukan bahwa lokasi bekas tambang dapat diolah menjadi lahan perkebunan jeruk sunkist. Dari 100 buah yang ditanam, 15 diantaranya dapat berbuah.

Pada kesempatan itu, saya meminta kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk melakukan study banding ke wilayah Bangka Botanical Garden dalam hal pengelolaan wilayah bekas tambang agar dapat dikembalikan kelestarian alamnya.

Sapi-sapi yang berada di kawasan ternak sapi adalah merupakan sapi pembenihan yang didatangkan di Bangka dengan usia sapi rata-rata 1,6 atau 1,8 tahun. Pertumbuhannya relatif sangat baik, rata-rata bobotnya sudah mencapai 500kg-750kg.

Saya menilai sistem yang dibangun di sana sudah berjalan cukup baik. Kalau nantinya sistem ini akan diterapkan ke masyarakat penerima bantuan, harus disiapkan terlebih dahulu infrastrukturnya (disiapkan saung dan area rumputnya). Sistem dan pengelolaan yang baik akan menghasilkan sapi-sapi dengan kualitas serta bobot yang ideal.

Kunjungan Komisi IV ke SKIPM bertujuan untuk menyoroti seberapa kuat kemampuan SKIPM dalam menyeleksi barang yang masuk dan barang yang keluar. Setelah diamati, saya menemukan dua kelemahan dalam sistem yang diterapkan SKIPM.

Pertama, kelengkapan laboratorium yang masih jauh dari harapan sehingga ada kalkulasi angka sekitar Rp 6 miliar yang dibutuhkan.

Kemudian yang kedua, pada bagian tenaga dan tim analis. Saya menegaskan bahwa tim analis merupakan ujung tombak karantina. Administrasi yang baik harus juga didukung oleh tim analis yang berkompeten. Dua hal ini harus menjadi fokus utama karantina.

Oleh: Yohanis Fransiskus Lema, S.IP, M.Si
×
Berita Terbaru Update