-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Menyoal 'Ekspresi Kelegahan' Pasca-UNBK

Jumat, 20 Maret 2020 | 20:38 WIB Last Updated 2020-03-20T13:38:17Z
Menyoal 'Ekspresi Kelegahan' Pasca-UNBK
Sil Joni

Oleh : Sil Joni *)

Tahun 2020 menurut 'agenda pendidikan' yang ditetapkan oleh pihak kementrian pendidikan (kemembud) merupakan tahun terakhir pelaksanaan program 'evaluasi akhir' secara nasional atau yang populer disebut Ujian Nasionan (Berbasis Komputer) untuk tingkat SD, SMP, SMA/SMK. Tes kompetensi minimal dan survei karakter pribadi menjadi 'instrumen evaluasi' untuk menggantikan UN itu. Kita belum tahu pasti seperti apa detail penjabaran dari dua model 'penilaian' itu.

UN(BK) tingkat Sekolah Menengah Kejuruan sudah berakhir hari ini, Kamis (19/3/2020). Kita bersyukur sebab pelaksanaan UNBK di wilayah Mabar tahun ini berlangsung aman, tertip dan lancar. Isu Covid-19 yang kian 'menakutkan' saat ini, tak terlalu berpengaruh bagi kesuksesan sekolah khususnya para siswa kelas XII dalam mengikuti UNBK ini. Bahkan 'berita penyebaran' virus Corona itu tak 'menyurutkan' semangat para siswa untuk mengadakan semacam 'selebrasi massal' pada hari terakhir pelaksanaan UNBK itu.

Sudah menjadi 'fenomena klasik' bahwa seusai UNBK, kita pasti menyaksikan 'pemandangan' yang kadang membuat bulu roman merinding. Betapa tidak, para siswa kelas XII yang baru menyelesaikan ujian akhir itu pasti 'mempertotonkan' aneka ritual sebagai ekspresi kelegahan sebab 'tantangan akademik' terberat dalam hidup mereka selama tiga tahun berhasil dilewati.

Yang paling heboh adalah 'pawai massal disertai tingkah ugal-ugalan di jalanan utama dan coret-coret atau sobek pakaian seragam'. Para siswa begitu antusias 'memperlihatkan' perilaku aneh kepada dunia sekitarnya. Mereka seolah-olah 'memproklamasikan' kepada dunia luar bahwa UNBK sudah berakhir. Untuk sementara hasil yang bisa dipetik adalah 'pameran' perilaku yang meresahkan masyarakat dengan mengatasnamakan kebebasan 'merayakan momen kebahagiaan'.

Tentu kita menghargai hak siswa untuk mengekspresikan rasa bahagianya ketika UN selesai. Namun, kita juga perlu menggugat dan mengawal model selebrasi yang 'merusak diri' dan mengganggu ketertipan umum. Kebebasan tidak bisa ditafsir sebagai 'berbuat sesuka hati'. Pengaktualisasian kebebasan itu selalu dikaitkan dengan 'hak orang lain'. 

Pihak lembaga kadang kesulitan untuk 'mengontrol' model pengungkapan kebahagiaan yang berlebihan dari para siswa tersebut. Oleh sebab itu, saya kira sangat masuk akal jika pihak kepolisian diajak untuk bekerjasama menertipkan perilaku siswa pasca-UN. Hasilnya adalah aksi agresivitas siswa kelas XII SMK di kota Labuan Bajo dan sekitarnya, dapat dikendalikan dengan baik.

Kondisi ini bisa menjadi 'preseden baik' untuk mengantisipasi aksi coret-coret seragam dan ugal-ugalan di jalan dari para siswa kelas XII SMA dan kelas IX SMP yang tidak lama lagi akan melaksanakan UN(BK). Pihak sekolah, orantua, dan para aparat keamanan bisa bersinergi untuk 'menyadarkan siswa' agar tidak melakukan tindakan tak terpuji setelah UN selesai.

Sebetulnya, ekpresi kreatif dan spontan yang diperlihatkan oleh para siswa bisa bernilai positif jika menggunakan cara yang benar. Justru kita mengapresiasi aneka kreativitas tersebut jika dibuat dalam situasi, waktu, dan tempat yang tepat. Bernyanyi, makan, dan foto bersama di taman sekolah atau di halaman rumah, merupakan contoh-contoh pengungkapan rasa bahagia yang bersifat konstruktif.

Akhirnya, kita mengucapkan selamat dan profisiat kepada para siswa kelas XII yang telah mengikuti UNBK (yang terakhir) tahun ini. Berharap anda mendapat hasil yang memuaskan dalam UN kali ini. Anda 'berhak' merayakan pencapaian tersebut. Tetapi, sedapat mungkin perayaan tersebut tidak bersifat kontraproduktif dan destruktif baik bagi diri, keluarga, sekolah, dan masyarakat pada umumnya.

*) Penulis adalah staf pengajar SMK Stella Marìs Labuan Bajo.
×
Berita Terbaru Update