-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Mereka Kehabisan Anggur (Refleksi Tentang Maria Sebagai Penyalur Rahmat Allah)

Minggu, 01 Maret 2020 | 23:18 WIB Last Updated 2020-03-01T16:25:37Z
Mereka Kehabisan Anggur (Sebuah Refleksi Tentang Maria Sebagai Penyalur Rahmat Allah)
Para biarawan Montfortan bersama Kerabat St. Montfort

De maria numquam satis (tentang Maria tidak pernah selesai) merupakan diskursus mengenai Maria tidak pernah cukup. Demikianlah salah satu kalimat yang terkenal dalam buku Santo Montfort yang termasyur, Bakti Sejati Kepada Maria no.10. Ungkapan khas Montfort ini hendak mengatakan kepada kita bahwa diskursus atau pembicaraan tentang Maria tidak pernah selesai. Pertanyaan yang muncul dalam benak kita adalah ada apa dengan nama Maria? 

Santo Montfort rupanya telah menjawab sebagian besar dari pertanyaan ini dengan menulis berbagai macam buku dan kidung seturut perjumpaan pribadinya dengan Maria, seperti Bakti Sejati Kepada Maria, Rahasia Maria, Rahasia Rosario dan masih banyak buku lainnya. 

Sebagai penyalur rahmat, Maria hadir sebagai orang yang dipilih untuk menemani orang-orang kecil atau kaum anawim. Orang kecil yang dimaksudkan dalam refleksi ini tidak hanya melulu tentang orang yang miskin dalam tataran harta, melainkan bagaimana saya melihat semangat ketergantungan dan kepengantaraan Maria terhadap kuasa Tuhan untuk kemudian disalurkan dalam diri orang kecil. Ringkasnya dapat saya rangkum dalam judul kecil ini yakni “Mereka Kehabisan Anggur” (bdk. Yoh 2:3). 

Lebih lanjut saya juga mengulas tentang siapakah Maria bagi kaum anawim dan apa kontribusinya bagi kita yang bergelut dalam generasi milenial yang hari-harinya bercengkrama dengan gadget.

Maria sebagai Penyalur Kasih Allah

Dari sudut pandangan ini, “wanita” itu adalah gambaran dan arketipe dari seluruh bangsa manusia: ia menghadirkan kemanusiaan yang menjadi milik semua orang, baik pria maupun wanita. 

Pada peristiwa anunsiasi, dengan memberikan “fiat”nya, Maria mengandung seorang manusia yang adalah anak Alllah, sehakekat dengan Bapa. Oleh karena itu, ia sepenuhnya Bunda Allah, sebab kebundaan menyangkut seluruh pribadi, bukan hanya badan dan bukan juga hanya “kodrat” manusia. 

Dengan cara ini nama “Theotokos” –Bunda Allah – menjadi nama yang cocok untuk kesatuan dengan Allah yang dianugerahkan kepada Perawan Maria. (Surat Ensiklik Mulieris Dignitatem- Martabat Kaum Wanita, No. 4). Artinya gelar Maria sebagai Bunda Allah hemat saya menjadi awal bagi Maria untuk dengan terbuka memohonkan rahmat Tuhan kepada semua orang yang memohonkannya lewat Maria.

Gelar Bunda Allah yang disematkan dalam diri Maria menjadi jalan tersalurnya rahmat Allah. Maria pantas disebut sebagai penyalur kasih atau rahmat Allah kepada manusia. Dengan demikian, gelar Theotokos (Bunda Allah) yang disematkan padanya menjadi tanda bahwa Maria juga mempunyai kuasa untuk memohonkan rahmat Allah bagi kita. 

Pada waktu Maria menyambut kata-kata utusan surga dengan “fiat”-nya, ia yang adalah “penuh rahmat” merasa perlu untuk menyatakan relasi pribadinya terhadap pemberian yang telah dinyatakan kepadanya dengan berkata: “Sesungguhnya, aku ini adalah hamba Tuhan” (lih. Luk 1:38). Relasinya dengan Tuhan sebagai hamba terlihat dalam sikapnya yang selalu berharap sepenuhnya dalam penyelenggaraan Allah. Inilah kekhasan yang sebenarnya menjadi pancaran bagi gereja dewasa ini. 

Peristiwa yang di Kana menjadi tanda bahwa Maria mempunyai kuasa untuk memohonkan rahmat kepada Puteranya demi keselamatan kita. Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: "Mereka kehabisan anggur". Kata Yesus kepadanya: "Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba." Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!" (Yoh 2: 3-5). 

Maria dalam konteks ini sunguh-sungguh hadir sebagai ibu yang peka terhadap kebutuhan di sekitarnya. Kepekaan Maria akan kekurangan manusia menjadi terpenuhi, asalkan kita yakin bahwa Maria mempunyai kuasa untuk memohonkannya kepada Tuhan. 

Kepekaan Maria sungguh suatu peristiwa yang menyelamatkan. Dikatakan demikian karena Maria hadir sebagai penolong atau penyalur rahmat Allah tatkala tuan pesta kehabisan anggur. Sebab jika tidak, tuan pesta pasti akan dipermalukan oleh tamu-tamunya karena kekurangan anggur. 

Dari kisah ini dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa Maria sungguh sebagai Bunda bagi orang yang berkekurangan. Lebih tepatnya adalah bunda bagi orang kecil. 

Lalu bagaimana tanggapan kita? Hemat saya kita hendaknya menyadari bahwa melalui Maria, Tuhan akan menyediakan segala-galanya bagi kita asalkan kita percaya sepenuhnya kepada Maria. Sebagaimana Maria percaya pada kuasa Allah. Namun, harus disadari bahwa iman Maria dan iman para murid dan kita semua sungguh-sungguh berbeda. Letak perbedaannya adalah lagi-lagi soal iman. Iman Maria tidak sebanding dengan iman para murid. Alasannya adalah Maria tidak pernah mempertanyakan soal kuasa Allah. Maria hanya mengatakan: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu (Luk1:38). 

Maria dalam arti yang lebih kompleks tidak pernah meragukan atau mepertanyakan kuasa Allah. Jika kita menyimak dengan baik, Maria hanya meminta satu kali saja kepada Tuhan “mereka kehabisan anggur”. Lalu bagaimana reaksi Tuhan “mau apakah engkau daripada-Ku ibu, saat-Ku belum tiba”. 

Maria seakan tidak peduli dengan perkataan Tuhan ini sehingga Maria dengan sangat yakin menyuruh pelayan-pelayan itu supaya “apa yang dikatakan kepadamu buatlah itu”. Jelas sekali bahwa Maria mengajarkan kepada kita untuk sunguh-sungguh yakin bahwa Allah pasti menyediakan segalanya bagi kita.

Kualitas iman para murid tidak seperti iman Maria yang sangat kuat lagi kokoh. Dalam peristiwa Yesus di atas gunung yang memberi makan kepada Lima ribu orang tampaknya bahwa para murid pada waktu itu tidak sungguh-sungguh mengenal siapa Yesus sehingga mereka sangat meragukan soal siapa yang memberi makan kepada orang banyak yang berbondong-bondong mengikuti Yesus (lihat. Luk 9:12-14). Akan tetapi Yesus menyuruh para muridnya untuk mengumpulkan roti dan ikan yang ada pada mereka untuk digandakan oleh Yesus. 

Menjadi jelas bahwa iman para Rasul menjadi gambaran iman kita juga yang selalu meragukan akan kuasa Allah sehingga selalu mengkhawatirkan banyak hal. Dengan demikian, menjadi tampak perbedaan antara iman Maria dan iman para Rasul. Bahwa iman Maria sungguh-sungguh dalam dan karena itu Maria menjadi bunda penyalur rahmat bagi orang-orang kecil yang sangat membutuhkan kerahiman Allah. Sikap yang dibutuhkan dari kita adalah terbuka dan percaya sepenuhnya kepada kuasa-Nya.

Penutup

Diakhir refleksi kecil ini, saya menarik suatu kesimpulan bahwa berkat Tuhan dapat tersalurkan kepada kita apabila kita sungguh percaya dan beriman teguh kepada Tuhan. Beriman kepada Tuhan tentunya tidak hanya sebatas sebagai pengikut setia Tuhan saja, layaknya para Rasul. 

Jika demikian halnya maka pada saat tertentu pula kita adalah orang pertama yang meragukan kuasa Tuhan. Agar tidak terjadi demikian baiklah kita berguru kepada Maria yang adalah teladan iman bagi Gereja. Mencecap sedikit kekayaan dari Maria barangkali menjadi kekuatan bagi kita untuk percaya sungguh kepada Allah. 

Sebab, Maria hanya karena imannya kepada Tuhan ia mampu menghadirkan suatu mukjizat Tuhan kepada orang kecil sebagaiman mukjizat yang terjadi di Kana. 

Oleh: Fr. Maksimianus Jandu, SMM
Penulis adalah biarawan Serikat Maria Montfortan (SMM) tinggal di Seminari Montfort Pondok Kebijaksanaan Malang, Kulia di STFT Widya Sasana Malang.

Editor: Nasarius Fidin
×
Berita Terbaru Update