-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Mgr. Siprianus Ditahbiskan di Padang Pencobaan

Kamis, 19 Maret 2020 | 11:38 WIB Last Updated 2020-03-19T04:45:06Z
Mgr Siprianus Ditahbiskan di Padang Pencobaan
Selamat dan Profisiat untuk Bapa Uskup, Mgr. Siprianus Hormat (Foto diambil dari group WA Keluarga Montfortan)

Tahbisan Mgr. Siprianus Hormat, uskup keuskupan Ruteng dilaksanakan ditengah kegetiran pandemi global, covid 19 dan juga kegembiraan masyarakat Manggarai karena memiliki uskup baru. Dua nuansa yang memberikan arti bagi perjalanan Gereja di Keuskupan Ruteng.

Tanpa direncanakan, gembira dan sedih satu kesatuan dalam peristiwa iman ini. Keberanian dan ketenangan adalah sikap iman meskipun menyadari akan resiko wabah covid 19. Banyak mata menyorot ke perayaan ini, banyak juga mulut yang berkomentar dari berbagai pelosok, memuji dan mencela. Tetapi bagi saya sendiri peristiwa ini sangat mengesankan dan sangat dalam hikmahnya, tentu saja dari kacamata iman kristiani.

Gereja di Padang Gurun

Dunia sedang sakit. Termasuk kesakitan spiritual dan fisiologis. Kesakitan spiritual misalnya ketakutan, rasa kemanusian yang dangkal, ketidakadilan dan miskin cinta kasih dan belarasa.

Sebagai ilustrasi, ketika bangsa Israel dibawa ke tengah padang gurun, reaksi yang muncul ialah mereka mempertanyakan Tuhan, dimanakah Allah? Hanya sedikit orang yang tetap mengimani dan setia dalam menghadapi penderitaan dan gersangnya padang gurun. Orang-orang mencari keselamatan sendiri-sendiri. Orang-orang menjadi takut dan ingin lari dari kehidupan dan kegetiran.

Situasi yang sama juga melanda Gereja Katolik Manggarai, mereka dibawa ke padang gurun, dicoba dan mengalami fase kekeringan spiritual bahkan moral baik karena kemiskinan maupun oleh kedosaan pemimpin masyarakat, penyelewengan moral, dekadensi spiritual yang tereksplisit melalui berita bunuh diri, human traficking dan sebagainya.

Situasi saat ini sangat berbicara kepada Mgr Sipri sebagai pelayan Gereja. Situasi pahit, getir dan ketidakberdayaan manusia secara global atau bahasa teologisnya situasi padang gurun menyertai tongkat kegembalaannya.

Rangkaian peristiwa ini mungkin menunjukan kepada Gereja lokal, sebuah pandemi juga. Pandemi itu baik berupa virus yang mematikan maupun virus yang mematikan rohani masyarakat. Dalam bahasa Mgr Sipri sendiri "insignifikansi dan irelevansi" Gereja terhadap situasi di sekitarnya.

Omnia in Caritate

Tanpa mengabaikan fakta dan rasa kwatir sebagai manusia biasa, terpapar oleh pengaruh psikologis dan fisiologis dari wabah global, yang saya lihat dari peristiwa pentahbisan uskup Ruteng ialah, Gereja yang berani mengambil resiko dengan sadar, dengan penuh pertimbangan, bukan karena kehendak dan selera pesta, tetapi karena dorongan iman memberi api harapan untuk masyarakat lokal, Manggarai. Kegembiraan itu besar daripada bahaya virus.

Gereja yang berbelas kasih, gereja yang solider tetapi berani mengambil resiko, itulah pesan yang kuat dari pentahbisan Bapa Uskup Ruteng. Wabah barangkali membunuh satu atau ribuan orang, tetapi api harapan dan keintiman sebagai sesama manusia akan jauh lebih bertahan memperkuat masyarakat yang dilanda bencana.

Secara manusia tetap kwatir tetapi melihatnya dalam kacamata iman. Iman yang menular dan keberanian untuk hidup, keberanian untuk tetap gembira sebagai imunitas jiwa.

Kita memang membutuh imunitas badan supaya mampu menghadapi virus, tetapi imunitas rohani, kegembiraan dan harapan serta iman juga akan menolong kita dalam situasi yang menggetirkan ini.

Pesan kegembiraan menguatkan kita dalam menghadapi kegetiran, kepanikan dan ketakutan. "Jangan takut, percayalah, aku menyertai kalian" sabda-Nya. Aku ingat akan kekuatan ini dalam kerapuhan dan ketakberdayaan.

Semoga para uskup, para imam dan umat Manggarai yang merayakan kegembiraan iman ini diluputkan dari berbagai cobaan dan tantangan dunia khususnya wabah Covid-19. Tuhan bersama kita! Jangan takut!

Selamat atas tahbisanmu bapa uskup, Mgr. Siprianus Hormat, uskup Ruteng. Saya terenyuh melihat kegembiraan umatmu, ase kae daku (adik-kakak/saudara) sekeuskupan Ruteng. Andai dihantam wabah, aku akan tersenyum melihat orang-orang kecil tersenyum dan bergembira. Omnia in Caritate.

Tuhan ijinkan kami bergembira sehari saja, mungkin setelah itu kami diliputi kesepian, ketakutan karena wabah dan rumah-rumah kami dikunci dan kami tidak bersalaman lagi.

-------
"Mengetuk pintu Tuhan" dari dalam rumah yang terkunci. Halo dunia sudah pada Lock Down? Dunia kedatangan tamu pembunuh anak sulung israel!

Oleh: Pater Tarsy Asmat, MSF
×
Berita Terbaru Update