-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Nemba Bongot di Manggarai Tahun 1918, Apakah Sama Dengan Corona?

Selasa, 10 Maret 2020 | 05:16 WIB Last Updated 2020-03-10T00:10:38Z
Nemba Bongot di Manggarai Tahun 1918, Apakah Sama Dengan Corona?
Jon Kadis bersama para sahabat dalam acara adat di Manggarai

Tak ada koran tanpa berita virus corona tiap hari pada bulan-bulan terakir ini. Semua sudah tahu bahwa virus ini semacam flue yang mematikan, dan berita terakir ternyata merambah ke berbagai belahan dunia. Berita menghebohkan terkini, entah benar atau tidak, virus ini sudah terdeteksi ada di Washington, USA. Kening wajah Donald Trump tampak berkerut tajam. Di Korea utara, pemimpinnya menembak mati warga terinfeksi corona yang bolos dari rumah sakit. Diberitakan pula bahwa penemu nama virus corona ini adalah seorang dokter ahli di Timur Tengah pada tahun 2013. Jika ini benar, maka monster virus ini sudah mulai menggeliat sejak 7(tujuh) tahun lalu. Tahun ini baru gencar-gencarnya.

Nemba Bongot

Tulisan ini saya buat mengingat cerita orang tua saya waktu kecil dulu tahun 1960an. Ayah Nobertus Nuba dan mama Marta Mael yang lahir tahun 1920an itu bercerita bahwa pada sekitar tahun 1918 terjadi 'nemba bongot' manusia (bahasa Manggarai = kematian tuli, sunyi tanpa ratap tangis). Sebagaimana adat budaya duka di Manggarai, ketika anggota keluarga meninggal, maka seluruh warga kampung melakukan ratap tangis dengan suara (lorang bahasa Manggarainya). Bukan saja warga sekampung, tapi anggota keluarga yang tinggal di tempat jauh datang melakukan ratap tangis yang dimulai sejak memasuki gerbang depan kampung, berlangsung dan berhenti di rumah duka. Suara tangisan di kampung itu terdengar hingga ke kampung sebelah. Kampung berduka. Lanjut mama saya, bahwa nemba bongot ini terjadi pada orang dewasa, bukan pada anak-anak dan remaja.  Saya kira budaya ratap tangis ini juga ada di Korea, China dan beberapa negara Asia, bahkan hingga di kawasan Timur Tengah. 

Mengapa disebut nemba bongot (Kematian Sunyi)? Karena ketika wabah itu dulu, warga sekampung sudah tidak melakukan ratap tangis lagi, karena kematian beruntun. Cerita mama saya, "setelah menguburkan yang satu, begitu balik ke kampung, ada lagi yang mati, dan begitu seterusnya. Telinga seperti tuli (bongot) sehingga sekitarnya terasa sunyi, sepi, tak terdengar lagi suara tangisan. Tapi mama saya tidak menceritakan, mengapa ada yang bertahan hidup. Tapi sudahlah, yang penting dari peristiwa itu adalah wabah kematian begitu banyak manusia. Dan menurut ceritanya pula, bahwa ternyata di kampung lain juga demikian. Karena waktu itu transportasi dan komunikasi telpon tidak seperti zaman now, ternyata dari kabar lisan, nemba bongot itu melanda seluruh Manggarai dan Flores.

Flue Spanyol

Saya buka Google hari ini, ternyata peristiwa yang terjadi tahun 1918 itu melanda seluruh dunia. Tentu berawal di Spanyol, dan dalam ilmu kesehatan disebut juga Pandemic 1918. Itu juga semacam flue yang pada waktu itu ternyata melanda seluruh dunia. Jutaan manusia meninggal di berbagai negara. Kita tahu bahwa pada tahun itu terjadi perang dunia pertama yang berawal di Eropa. Apa penyebab flue ini? Ya, semacam virus-lah. Untuk flue di Spanyol ini, Google mencatat. "Pandemik Flu 1918 (biasa disebut Flu Spanyol) adalah Pandemik Influenza kategori 5 yang mulai menyebar di Amerika Serikat, muncul di Afrika Barat dan Prancis, lalu menyebar hampir ke seluruh dunia. Penyakit ini disebabkan oleh Virus Influenza Tipe A subtipe H1N1. Kebanyakan korban Flu ini adalah Dewasa Muda".

Tulah Firaun di Mesir

Dalam cerita kuno di Kitab Suci Kristen, terjadi juga wabah penyakit yang mematikan banyak manusia di Mesir. Pada waktu itu bangsa Israel tinggal di Mesir, hidup di tepi danau dan menjadi budak Firaun. Nabi Musa memohon kepada Firaun agar bangsa Israel keluar dari Mesir untuk kembali ke tanah Kanaan di Israel, tetapi Firaun tidak mengizinkannya. Bangsa Israel yakin bahwa Tuhan selalu menyertai mereka. Apa yang terjadi ketika Firaun tidak tidak mengizinkannta? Terjadilah wabah penyakit yang banyak mematikan manusia. Apa penyebab kematian itu? Karena cerita ini berkaitan dengan Tuhan, maka penyebabnya adalah dosa menentang Tuhan. Ya, kalau mau sebut virus, ya virus dosa-lah namanya, sinvirus.

Virus Corona

Membaca dan mendengar berita tentang virus corona ini, tampaknya tak jauh beda dengan yang terjadi pada tahun 1918 itu, atau yang pernah terjadi pada zaman Firsun di Mesir. Jika melihat jarak waktu dari tahun 1918 hingga 2020, rupanya virus ini muncul pada siklus 100 tahunan. Jika dihitung tepat pada angka 100 tahun, bisa diduga virus ini sudah mulai muncul pada tahun 2018.

Kalau melihat virus mematikan menyebar ke seluruh dunia ini, bukan tidak mungkin akan sampai ke kampong-kampung, termasuk sampai ke kampong-kampung di Manggarai, NTT. Jadi jangan buru-buru dulu bahwa virus corona itu hanya ada di China, Asia, Timur Tengah, Eropa, Amerika, tapi bisa jadi akan mengena pada hampir seluruh manusia di dunia. Kalau nanti terjadi kematian beruntun di kampung-kampung Manggarai, yah, mungkin itulah si Nemba Bongot come back setelah 100 tahun menghilang. 

Upaya pencegahannya? Yah, kemajuan dunia kedokteran zaman now sudah bisa mengatasinya. 
Menurut saya, sebaiknya menjaga stamina. Dulu mama saya pernah bilang, biasakan makan makanan bergizi. Pada zaman orang tua saya dulu, mereka selalu stock daging dendeng kerbau, kuda, rusa atau daging apa saja. Jika kini kita tak dapat mengelaknya, yah,  berdoalah saja agar jiwa ada persiapan memasuki sorga sebelum hari H kematian tiba. Kalau di Manggarai dulu, nemba bongot membuat kampung berduka dalam situasi bongot (tuli, sunyi), maka dengan yang namanya corona ini membuat dunia berduka.

Disadari bahwa tulisan ini tidak ilmiah, tapi hanya bersumber pada cerita lisan orang tua Manggarai tahun 1960-an. Kalau melihat tanda-tandanya, wabah virus corona ini sama dengan nemba bongot di Manggarai 100 tahun lalu, yaitu tahun 1918, yang dalam dokumentasi kedokteran bahwa itu yang disebut pandemic 1918 atau flue Spanyol yang mematikan jutaan manusia di seluruh dunia.

Oleh: Jon Kadis
Labuan Bajo, Manggarai Barat
×
Berita Terbaru Update