-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Opini Publik dan 'Tim Sukses' yang Tersinggung

Senin, 16 Maret 2020 | 21:39 WIB Last Updated 2020-03-16T14:39:09Z
Opini Publik dan 'Tim Sukses' yang Tersinggung
Sil Joni

Oleh: Sil Joni*

Kekuasaan itu semanis gula. Tidak heran jika sekawanan 'semut' akan segera mendekat guna mengecap manisnya 'gula kekuasaan' itu. 

Analogi di atas bisa dipakai untuk 'menggeledah motivasi politik' ketika sekelompok orang begitu bergairah menjadi anggota 'tim sukses' dari paket calon bupati-wakil bupati tertentu dalam kontestasi pilkada. Umumnya, energi politik yang tercurah di musim pilkada tidak tanpa pamrih personal. Daya juang itu dilatari oleh motif 'merasakan' nikmatnya berada dalam pusaran gula kuasa itu. Ada semacam keyakinan bahwa dalam dan melalui kekuasaan politik itu, pelbagai ambisi dan interes pribadi bisa termanifestasi dengan sempurna. Jika sang 'jagoan politik' menang dalam Pilkada, maka 'rejeki politik' bakal mengalir deras dalam dapur pribadi para tim sukses tersebut.

Ambisi untuk masuk dalam 'gula kekuasaan' itu kadang tidak rasional. Cara-cara irasional dipakai untuk sekadar "melindungi" paket calon faforit dari aneka 'kritik publik'. Para anggota 'tim sukses' kerap mudah 'terbawa arus sentimentalisme dan fanatisme sempit' terhadap kandidat pujaannya sehingga tidak bisa secara obyektif dan kritis merespons setiap opini publik tentang 'talenta politis' yang dipunyai oleh calon tersebut.

Padahal kita tahu bahwa kebebasan mengungkapkan pendapat baik secara verbal maupun lewat media tulisan, dirayakan secara antusias pasca-tumbangnya rezim otoritarianisme Suharto tahun 1998. Sebagai 'warga Negara', kita berhak menyatakan pendapat tentang apa saja terutama berkaitan dengan pelaksanaan aneka proyek yang bersentuhan langsung dengan dimensi kebaikan publik. Berbicara atau beropini adalah 'hak asasi' yang dijamin pelaksanaannya oleh konstitusi negara kita.

Pelbagai 'drama' jelang Pilkada Mabar tentu bisa menjadi 'menu' diskursus. Publik dengan bebas menanalisis fenomena politik yang tersaji di panggung politik lokal. Pelbagai opini publik menggelinding secara kreatif dalam pelbagai kanal diskusi.

Jika kita terlibat aktif dalam setiap sesi 'perdebatan publik', kita akan gampang mengidentifikasi 'warna politis' dari para partisipan diskursus itu. Mereka yang sudah 'diikat' dalam satu kubu politik, pasti begitu mudah 'tersinggung dan emosional' ketika arah diskusi kurang 'menguntungkan kandidat pujaannya'.

Biasanya, mereka secara membabi-buta 'memuntahkan lahar emosi' kepada publik yang beropini secara bebas di ruang politik. Sebetulnya, mereka tak punya kecakapan untuk berdebat secara bermartabat. Tetapi, karena sudah terlanjur 'merapat' pada satu kandidat, maka mereka bertindak seolah-olah 'pendebat yang bringas' dengan nihil argumentasi dan minus data verifikatif.

Sebetulnya, opini publik di ruang interaksi sosial, selain sebagai wujud kemerdekaan dalam mengekspresikan kepedulian politis, juga dilihat sebagai bentuk penguatan dan konsolidasi  kultur demokrasi yang bersifat substansial. Maka ketika publik beropini tanpa adanya intimidasi dan restriksi dari 'kelompok politik', sebenarnya mereka sedang merawat tumbuhnya iklim demokrasitisasi dalam domain politik. Bukankah pelbagai 'kajian politik' yang bernas itu bisa dijadikan masukan positif bagi tim pemenangan dalam membangun & merumuskan isu strategis dan krusial ketika memasarkan produk politik dari calon yang kita usung?

Karena itu, alih-alih tersinggung, sebenarnya kita mesti mengapresiasi "setiap catatan kritis dari publik" yang peduli dengan 'perjalanan politik' dari calon jagoan kita. Pelbagai kritikan itu boleh menjadi cermin untuk mengevaluasi diri sekaligus menggarap strategi yang lebih efektif, kreatif, inovatif dan progresif.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
×
Berita Terbaru Update