-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Paket Praja Pun 'Gugur'

Sabtu, 21 Maret 2020 | 19:31 WIB Last Updated 2020-03-21T12:32:18Z
Paket Praja Pun 'Gugur'
Sil Joni

Oleh : Sil Joni *)

Garis sejarah manusia kadang tidak 'selurus' dan serasional seperti yang dipikirkan Hegel. Guratan historisitas kemanusiaan kita kadang bengkok bahkan 'patah'. Pada titik ini, ungkapan klasik, manusia boleh merencanakan tetapi Tuhan-lah yang menentukan, tidak jauh dari kebenaran. Kita berjalan di atas 'titian sejarah' yang rapuh tersebut.

Pasangan calon W.F. Pranda dan Belasius Jeramun atau yang populer disebut 'paket Praja' terpaksa tak bisa melanjutkan 'perjalanan sejarah' pada panggung politik lokal. Kita semua tahu bapak W.F. Pranda sudah 'beralih' dari dunia fana ini beberapa hari yang lalu. Kejadian semacam itu, dalam terminologi regulasi teknis Pilkada, masuk dalam kategori 'calon berhalangan tetap'.

Pihak KPUD Mabar sebagai 'lembaga penyelenggara kredibel dan legitim', seperti yang dilansir sejumlah media daring sudah 'membaca dan menafsir' ketentuan kunci baik yang tertuang dalam UU Pilkada maupun  dalam Peraturan KPU tentang 'masa depan' dari paket calon yang berhalangan tetap semacam itu. Merujuk pada bunyi regulasi formal tersebut, maka pihak KPUD kemungkinan 'membatalkan' pencalonan paket Praja dalam kontestasi pilkada Mabar 2020.

Jika isu ini benar, maka pelbagai spekulasi dan teka-teki keberlanjutan kiprah paket ini, sudah terjawab tuntas. Regulasi menjadi 'panglima' yang tidak bisa diganggu gugat. Diskusi seputar apakah almarhum Pranda diganti oleh 'figur lain' untuk menemani Belasius Jeramun, tidak perlu diteruskan lagi. Semuanya sudah jelas, paket Praja dinyatakan 'gugur'.

Sebetulnya, isu yang lebih seksi adalah bukan soal 'siapa pengganti almarhum Pranda', tetapi soal perubahan konstelasi politik pasca-kepergian mantan bupati Mabar itu. Pertanyaan kuncinya adalah ke arah mana 'bandul politik' yang bakal dihembuskan oleh para pendukung fanatis Pranda. Harus diakui bahwa 'figur Pranda' sesungguhnya masih mempunyai 'nilai jual politik' yang tinggi dalam kontestasi ini.

Karena itu, daya tarik paket Praja sebenarnya ada pada sosok Pranda. Ketika figur ini 'berhalangan tetap', maka siapa pun penggantinya (tentu jika regulasi memungkinkan hal itu), saya kira 'tidak sebanding' dengan tingkat elektabilitas yang dimiliki oleh seorang Pranda. Sosok pengganti tersebut tidak serta-merta menyamai reputasi dari almarhum dalam lapangan politik lokal.

Alih-alih berdiskusi tentang 'siapa pengganti Pranda' dalam paket Praja, justru yang lebih relevan adalah akan 'bermigrasi' ke pasangan calon manakah suara dari para pendukung fanatis almarhum selama ini? Adakah figur kandidat bupati yang bisa menjadi semacam 'pelipur lara' bagi para calon pemilih paket Praja?

Satu yang pasti bahwa 'peta persaingan politik', semakin dinamis pasca-kepergian Pranda. Hampir tidak ada lagi paket calon yang dianggap dominan dalam hal elektabilitas dan popularitas. Pasangan calon yang beredar luas selama ini, tentu mempunyai 'kans' yang sama untuk memenangkan pertarungan politik tersebut.

Figur mana atau paket calon mana yang bisa 'menaklukan hati' dari para pendukung Pranda, berpotensi menjadi kampium dalam kontestasi ini. Kita tidak sabar menunggu dan menyaksikan 'aneka strategi dan trik' para paket untuk merebut suara dari para pendukung paket Praja. Fenomen 'hijrahnya' para loyalis Praja ke paket lain, tentu menjadi bahan analisis dan diskursus publik yang sangat menarik ke depannya.

Akhirnya, mari kita mengheningkan cipta untuk mendoakan arwah dari 'sang Pahlawan Mabar, W.F. Pranda' yang telah 'pergi' mendahului kita semua. Dengan kepergian itu, maka Paket Praja yang sempat digadang-gadang sebagai paket yang diperhitungkan dalam Pilkada Mabar, dinyatakan 'gugur'. Jika di kemudian hari, Belasius Jeramun tetap mengikuti kontestasi ini dan berpasangan dengan figur lain, entah diusung oleh partai politik atau tetap melalui jalur perseorangan, itu bukan paket Praja. Paket Praja hanya satu dan yang satu itu 'telah gugur'. Riwayat paket Praja, sudah tamat.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.

Tulisan ini sudah dimuat di Floresnews.net
×
Berita Terbaru Update