-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PAN Memberi "Hati Politik" ke Paket HATI

Minggu, 15 Maret 2020 | 23:54 WIB Last Updated 2020-03-15T16:54:23Z
PAN Memberi "Hati Politik" ke Paket HATI
Sil Joni, Pemerhati masalah sosial dan politik

Kita lupakan sejenak 'perdebatan' seputar siapa ketua tim penggerak PKK jika perempuan menjadi bupati. Mari, arahkan pikiran ke 'dapur politik' Partai Amanat Nasional (PAN) Mabar. Teka-teki kepada siapa 'tiket politik' diberikan, sudah mulai tersingkap. Setidaknya, publik bisa membaca 'sandi politik' yang dikirim oleh para petinggi partai di tingkat Kabupaten.

Wakil Ketua PAN Mabar, Tan Hasiman dalam orasinya ketika menghadiri Acara Deklarasi Kaum Milenial untuk Paket HATI di Wersawe, Sabtu (14/3/2020) menegaskan bahwa PAN Mabar akan mendukung Paket HATI. Bagaimana seharusnya kita membaca 'pernyataan politis' semacam ini? Apakah pernyataan sang Wakil Ketua ini 'mewakili' sikap partai atau hanya berupa harapan personal?

Saya kira, sebelum SK definitip dari DPP Partai dikantongi oleh pasangan calon, konstelasi politik masih bersifat dinamis. Tetapi, apa yang diutarakan Hasiman itu, tetap dibaca sebagai 'sinyal politik' kira-kira paket mana yang diusung oleh partai itu.

Jika pernyataan Hasiman dijadikan referensi, maka pelbagai spekulasi dan prediksi publik soal 'arah dukungan politik PAN' dalam pelbagai forum diskusi, mulai berguguran. Sebelumnya, berhembus kabar bahwa kemungkinan PDIP dan PAN akan berkoalisi dalam kontestasi politik Pilkada Mabar tahun 2020 ini.

Dugaan itu dilatari oleh pertimbangan 'relasi dan komunikasi politik yang relatif mesrah' antara Agustinus Ch. Dulla yang selain sebagai bupati Mabar, juga sebagai ketua DPD PAN Mabar dengan Maria Geong sebagai 'wakil bupati Mabar' saat ini. Gusti Dulla tentu saja dalam tanda petik 'mempunyai' tanggung jawab moral-politis untuk mendukung Maria Geong, guna mengisi posisi politik yang sebentar lagi akan ditinggalkannya. Sangat logis dan realitis jika PAN akan menerima tawaran PDIP untuk berkoalisi dalam mengusung Ibu Maria sebagai calon bupati.

Kita tidak tahu persis apakah antara PDIP dan PAN pernah membangun 'deal politik' perihal skenario terbaik dalam merebut kekuasaan politik di level lokal. Analisis politik yang berseliweran dalam ruang publik hanya mengacu pada fakta 'kedekatan politik' antara Gusti Dulla dengan Maria Geong. Selain itu, asumsi koalisi antara keduanya juga berangkat dari kenyataan bahwa baik PDIP Maupun PAN hanya meraih 3 kursi dalam pemilihan legislatif kemarin. Jumlah itu, tentu saja belum cukup untuk memenuhi persyaratan minimal 6 kursi untuk bisa mengusung satu pasangan calon dalam kompetisi politik Pilkada. Jika keduanya berkoalisi, maka persyaratan teknis-administrasi formal itu sudah terpenuhi.

Ada juga opini lain yang memprediksi bahwa DPP PAN akan 'menyorong' figur alternatif untuk dipasangkan dengan Maria Geong, jika PDIP tetap berhasrat membangun koalisi politik dengan PAN. Padahal, kita tahu bahwa PDIP sudah merekomendasikan 'kadernya sendiri', Sil Syukur untuk berduet dengan Maria Geong. Tagline dari pasangan itu adalah 'paket MISI', akronim dari nama keduanya Maria-Sil. Seandainya, 'keinginan PAN' disetujui oleh PDIP, maka risikonya paket MISI mesti bercerai. Sebuah pilihan politik yang dilematis dan komplikatif.

Boleh jadi, lobi dan negoisasi yang berujung kebuntuan antara PDIP dan PAN bisa ditafsir sebagai konsekwensi logis dari kondisi komunikasi politik yang dilematis dan komplikatif semacam itu. Kepentingan politik antara keduanya agak sulit diakomodasi secara total dalam sebuah kapal koalisi. Karena itu, memilih untuk 'berpisah arah' menjadi sebuah opsi politik yang taktis.

Kini, kuat dugaan bahwa PAN akan merapat dengan Golkar guna memuluskan skenario pencalonan paket Hamsi-Tobi (HATI). Pertanyaan kita adalah mengapa PAN lebih 'memilih' Paket HATI ketimbang berkoalisi dengan PDIP? Apakah pilihan itu ada kaitannya dengan 'pola kerja politik yang bersifat transaksional'? Kepentingan politik apa yang hendak dikejar oleh PAN ketika pilihannya jatuh ke paket HATI? Soalnya adalah PAN tidak mempunyai semacam 'alat tawar' untuk berkoalisi dengan Golkar. Tidak ada kader PAN yang bisa ditawarkan untuk berpasangan dengan Hamsi. Apakah masih ada kemungkinan paket HATI dibongkar dan dipasangkan dengan kader PAN? Sulit untuk memberi sebuah jawaban yang konklusif.

Oleh: Sil Joni
Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik
×
Berita Terbaru Update