-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Pandemic Virus Corona (Covid-19) dan Berkat "Urbi et Orbi Papa Francesco

Minggu, 29 Maret 2020 | 17:44 WIB Last Updated 2020-04-01T06:23:57Z
Pandemic Virus Corona (Covid-19) dan Berkat "Urbi et Orbi Papa Francesco
Foto Pater Fidelis Wotan, SMM saat berada di Milan

Oleh: Pater Fidelis Wotan, SMM

Dunia dalam Cengkeraman Maut Corona (Covid-19)

Tahun 2020 bukanlah sebuah masa atau kurun waktu yang menyenangkan bagi dunia. Sejak akhir tahun 2019 dunia dihebohkan dengan adanya virus corona (Covid-19). Untuk pertama kalinya virus itu muncul di daratan Tiongkok, persisnya di Wuhan, Provinsi Hubei dan kemudian menyebar ke mana-mana di seluruh dunia. Setelah virus itu menular ke mana-mana, dunia tampak mulai panik gelisah atau takut. Satu kajian yang dilakukan para peneliti China, yang diterbitkan oleh jurnal medis The Lancet, mengklaim kasus pertama virus corona terjadi pada 1 Desember, jauh lebih awal dari keterangan resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Pihak berwenang China awalnya melaporkan bahwa kasus virus corona pertama terjadi pada 31 Desember 2019 dan banyak dari kasus-kasus awal infeksi yang menyerupai pneumonia ini terhubung dengan pasar makanan laut dan hewan di Wuhan.

Mengetahui bahwa Corona (Covid-19) adalah jenis virus yang sudah menyebar ke berbagai daratan di muka bumi, WHO (World Health Organization) menetapkan status virus corona (Covid-19) sebagai sebuah pandemik global atau wabah patogen baru yang menyebar dengan mudah dari orang ke orang di seluruh dunia. Penyakit ini tidak hanya muncul dalam wilayah tertentu yang menetap dalam waktu yang lama (baca: endemik), tetapi sudah menjadi pandemik yang tersebar ke seluruh kawasan dunia. Semua orang terbelalak matanya dan menyadari bahwa corona yang satu ini bukan sekedar virus biasa bagaikan flu dan demam seperti yang biasa dialami manusia. Virus ini bahkan bisa disebut sebagai “super virus” yang sangat berbahaya. Jenis virus ini amat menakutkan dan sangat mengerikan (è una cosa terribile), sebab kapan dan di mana pun virus itu akan masuk dan menelan korban jiwa tanpa memilah-milah atau memilih siapa saja. Tak ada pengecualian, artinya semua orang bisa terjangkit dan meninggal karena virus itu.

Hari demi hari, virus itu seakan tidak mau berhenti mencari mangsa yang baru dan generasi tua adalah sasaran empuk baginya. Manusia dan penghuni jagat raya ini “seakan tidak mampu lagi menghadapi wabah salah satu virus yang terganas saat ini, corona (Covid-19).” Virus ini tidak pernah berhenti menjejakkan kakinya memasuki satu tempat ke tempat yang lain. Dia seakan tidak mau puas mendiami suatu wilayah dan suku bangsa tertentu. Ia tidak menetap di satu tempat saja. Dengan kecepatannya, ia terus “membombardir” suku-suku bangsa dengan serangan-serangannya yang mematikan. Serangannya benar-benar melumpuhkan segala-galanya (segala aktivitas societas dan pelayanan publik menjadi terganggu) dan puncaknya ialah merenggut nyawa manusia. Bisa dibayangkan bahwa dalam hitungan waktu yang tak begitu lama virus itu membidik satu per satu manusia yang ada di bawah kolong langit ini.

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, China, tepatnya di Wuhan, Provinsi Hubei adalah titik episentrum awal persebaran corona ke seluruh dunia. Dikatakan bahwa setelah China, muncul tiga negara pertama yang terpapar cukup parah virus corona ialah Italia, Iran dan Korea Selatan. Kemudian virus itu merangsek masuk ke negara-negara lain baik di Eropa, Asia, Amerika, maupun Afrika dan wilayah-wilayah lain di dunia. Puluhan ribu manusia mati dalam keadaan yang mengharukan bahkan mengerikan di hampir seluruh dunia. 

Dari beberapa sumber informasi yang ada dikatakan bahwa penyebaran virus yang belum ditemukan penawarnya itu sampai detik ini tak terkendali. Sudah 200 lebih negara di dunia melaporkan adanya kasus terpapar virus corona. Menurut beberapa informasi dari media massa diketahui bahwa Italia merupakan negara yang paling parah terpapar Covid-19. Kasus-kasus yang terjadi di sana jauh melebihi apa yang sudah terjadi di China. Di Italia, hampir setiap saat terdengar bunyi sirene Ambulance dan dentangan lonceng gereja. 

Angka kematian di Italia bisa mencapai 700 – an lebih per hari. Data terakhir: 80.339 orang terinfeksi Covid- 19, kemudian 8.165 orang yang meninggal (per 26 Maret 2020), meskipun ada banyak juga yang sembuh (10.361 per 26 Maret 2020) dan 3612 orang yang sedang dalam proses terapi intensif (per 26 Maret 2020). Data tersebut bisa saja meningkat dari hari ke hari. Pada tanggal 28 Maret 2020 diberitakan bahwa total korban meninggal di Italia mencapai 10.023 (sementara di Spanyol jumlah yang meninggal mencapai 6000 orang). Semunya ini terjadi begitu singkat dan melumpuhkan semua orang. Roma yang tadinya terkenal sebagai “la citta’ eterna” (Kota Abadi), bak tersulap menjadi kota mati. Demikian juga kota-kota atau wilayah lainnya di Italia yang tadinya menjadi begitu ramai berubah drastis menjadi sepi, sunyi dalam hitungan minggu, hari bahkan jam. 

Wilayah yang terpapar virus corona paling parah negeri Pizza ini ialah Lombardia (Italia Utara). Kota Bergamo dan juga Milan adalah kota-kota dengan tingkat kasus Covid-19 paling parah di Italia. Menurut informasi (Republika.co.id, Bergamo), penyebaran corona di Italia diduga muncul saat laga sepak bola antara dua club sepak bola Atalanta vs Valencia yang diadakan di Stadion San Siro, Milan di mana hampir sepertiga warga Bergamo melakukan perjalanan ke Milan. Selain itu, ada hampir 2500 fan Valencia yang melakukan perjalanan dari Spanyol ke Italia. Media menyebut bahwa dua hari kemudian, ditemukan kasus pertama positif Covid-19 di Bergamo. Dari situ, para ahli menilai bahwa pertandingan sepak bola tanggal 19 Februari itu jadi alasan kuat mengapa Bergamo jadi pusat pandemik corona. Bahkan dikatakan demikian, “hampir 35 persen tim Valencia dinyatakan positif virus yang berasal dari Wuhan, China tersebut”.

Setelah virus ini menyebar dengan begitu cepat ke mana-mana di wilayah Italia, lantas dalam hitungan waktu Italia berubah menjadi begitu sepi dan situasinya terasa mencekam. Kalau Anda pernah ke Italia, di sana ada seribu satu macam objek menarik yang bisa dinikmati. Saya paling suka menelusuri tempat-tempat bersejarah di kota Roma dan juga termasuk kota Bergamo dan Milan (2016-2018.) Ketiga kota itu terasa hadir kembali dalam ingatanku ketika menulis artikel ini. Ragaku seakan hadir kembali di tempat-tempat itu. Hal yang saya bayangkan saat ini misalnya begini: dengan adanya Covid-19, maka tak ada lagi cerita menghadiri misa di Basilika-basilika atau di gereja-gereja, malah itu berubah secara online, livestreaming. Tidak ada lagi cerita melakuan audiensi umum dengan Bapa Suci di halaman Santo Petrus dan juga menanti berkatnya secara langsung. Tak ada lagi cerita berdiri antrian memasuki museum Vatikan atau mengunjungi Basilica St. Petrus yang megah. Tak ada lagi cerita melempar koin ke dalam kolam terkenal; fontana di trevi (fountain trevi) di Roma. Tak ada lagi antrian panjang melihat dari dekat Colloseum Roma, tak ada lagi kisah berdesak-desakan menumpangi jasa MRT (la metro) di Roma. Tak ada lagi para pengamen jalanan yang memanjakan para pengunjung dengan iringan musik yang aduhai dan tarian yang indah, dll. Oleh karena Covid-19, maka tak ada lagi kisah menyusuri jalan-jalan indah di sudut-sudut kota di Roma, Milan, Firenze, Napoli, Bergamo, dll. Tak ada lagi cerita menyaksikan pertandingan hebat antara Milan dan Juventus di kota Milan, dll. Oleh karena corona, semunya menjadi bisu, hening, diam dan sepi yang mencekam. Demikian pun sekolah, universitas dan perkantoran, restoran dan bar serta sejumlah tempat-tempat publik lainnya pun ditutup. Saya bisa membayangkan situasi tersebut, betapa tidak mudah bagi orang Italia menghadapi situasi ini setiap saat. Roma dan seluruh Italia (bahkan dunia saat ini) bak sebuah kuburan kosong tak berpenghuni. Penduduk setempat pun dibuat “tak bergerak” alias terkurung di dalam rumah, biara, gereja dan atau tembok-tembok bersejarah. Setiap hari dan saat terdengar tangisan pilu dan rauman sirene bersahut-sahutan mengantar jenazah ke tempat peristirahatan yang terakhir. Semua terjadi dalam diam. Saat kematian bagi mereka menjadi sebuah tragedi di dalam ‘kesunyian’, tak ada seorang dari anggota keluarganya pun menyempatkan diri untuk mengucapkan kata-kata terakhir kepada orang yang dicintainya.

Situasi serupa telah merambat ke wilayah yang lain bahkan pelan-pelan sudah menyelinap masuk ke Indonesia. Di bumi nusantara, kasus ini pertama kali ditemukan pada dua warga Depok, Jawa Barat awal Maret lalu. Data hingga Sabtu, 28 Maret 2020 jumlah warga yang dinyatakan positif terkena Covid-19 mencapai 1.155 dan 102 di antaranya meninggal dunia. Tentu informasi terakhir ini menunjukkan tingkat kasus orang yang terinfeksi di Indonesia bisa dikatakan mengkhawatirkan. Ada yang mengatakan bahwa penyebaran virus yang begitu cepat hingga ke tanah air ini sebagaimana dikatakan Juru Bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto karena ada banyak warga yang tak mengindahkan himbauan pemerintah untuk tetap di rumah. Sebetulnya masing-masing orang kalau berdisiplin dengan dirinya sendiri dan menaati kebijakan seperti itu untuk diam di rumah, tentu tingkat penyebaran virus itu tidak akan se-masif saat ini. Peningkatan jumlah kasus positif menjadi seribuan di Indonesia karena terjadi penularan di luar rumah (rumah warga). Padahal pemerintah menginstruksikan masyarakat agar sebisa mungkin melakukan apa yang disebut dengan social distancing atau social distance measure (baca: menjaga jarak). Kealpaan mengikuti larangan seperti ini tentu berdampak buruk pada penularan virus itu. Penularannya mungkin akan bisa lebih meningkat lagi jikalau warga masyarakat tidak disiplin diri dan tidak taat. Jikalau tidak diatasi dengan baik, mungkin saja kasus penularan virus ini di Indonesia akan jauh melebihi negara lain seperti China, Italia, Spanyol, Amerika Serikat, dll. Saya melihat bahwa terkadang orang masih menyepelehkannya atau memandangnya sebagai sebuah “badai kecil” yang tidak akan bertahan lama. Mentalitas yang demikian, biasanya akan mengundang sikap-sikap masa bodoh terhadap segala macam kebijakan dan instruksi yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk mencegah penularan virus tersebut secara masif.

Senjata Pamungkas dan Harapan Baru

Ketika dunia berduka, ia seakan-akan kehilangan arah dan pegangan hidup. Teror kematian terus- menerus terdengar dan dirasakan setiap hari, setiap saat. Kematian itu begitu dekat. Dunia ini memang sedang “sakit” dan “berduka” oleh karena wabah virus tersebut memporakporandakan segalanya. Sudah seharusnya, ia perlu disembuhkan dan dipulihkan. Semua orang sepakat mengatakan bahwa wabah ini harus dilawan dan dibasmi dari muka bumi. Manusia ingin ke luar dari situasi chaos di dalam dirinya sendiri. Dunia ingin melepaskan diri dari cengkeraman maut Covid-19 dan memang saat ini dunia sudah dan sedang berperang melawannya. Hanya saja perang melawannya adalah “perang dalam keheningan”, sebab musuh yang dihadapi “tak hadir secara kasatmata”. Lalu dengan senjata apakah dunia mampu melawannya? Rasa-rasanya belum ditemukan satu jenis senjata andalan yang dapat dipakai untuk melawan dan mematahkan serangan Covid-19. Meskipun demikian sudah muncul berbagai upaya dan cara-cara yang ditempuh oleh pihak pemerintah dan lembaga-lembaga swasta lainnya. Di mana-mana muncul berbagai himbauan, anjuran dan larangan yang sudah dikeluarkan oleh berbagai pihak penting. Himbauan itu pertama-tama datang dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan para pemimpin dunia. Mereka giat mencari cara yang paling efisien dan efektif agar bisa mengatasi situasi ini. Maka, upaya-upaya terstruktur sampai hari ini terus dilakukan, misalnya bagaimana mencari vaksin virus tersebut. Tentu saja Amerika dan China menjadi dua dari sekian negara yang berlomba- lomba untuk menjadi yang pertama dan terhebat menciptakan vaksin tersebut. Selain itu, sudah dan sedang diupayakan ialah anjuran untuk selalu mencuci tangan dengan air dan sabun berbahan dasar alkohol, mengenakan masker (ada larangan menyentuh mulut, hidung dan mata), menjauhi keramaian atau tempat- tempat umum (stay at home), larangan berjabatan tangan – social [physical] distance measure, bahkan lockdown (karantina wilayah atau diri). Semuanya ini memang dimaksudkan untuk menekan dan menghambat laju penyebaran virus Covid-19.

Terisolasi Sekaligus Terkoneksi

Dengan semakin tersebar luasnya Covid-19, dunia yang tadinya oleh karena pengaruh globalisasi terkoneksi satu dengan yang lain, kini tampak terisolasi. Beberapa negara membuat kebijakan yang serupa misalnya, menutup wilayahnya masing-masing (lockdown) seperti Italia, China meskipun kini negeri Tirai Bambu ini membukanya kembali, dan Filipina, dll. Sekalipun terisolasi, dunia tetap terhubung satu dengan yang lain. Media komunikasi begitu cepat terhubung antar negara berkat adanya internet. Hal ini memfasilitasi seluruh dunia bahu-membahu membangun suatu jembatan solidaritas untuk mewujudkan cinta dan rasa kemanusiaan tanpa peduli apakah dia adalah musuhku, atau apakah dia berbeda dariku (suku, ras, agama, budaya, golongan, dlsb).

Munculnya virus ini, di satu sisi memang membawa kerugian dan penderitaan yang besar bagi sejarah peradaban manusia di abad ini, namun di pihak lain justru membawa berkah bagi bangsa-bangsa untuk menumbuhkembangkan sisi kemanusiaannya, menanamkan rasa kesetiakawanan atau menguatkan rasa solidaritasnya dengan saudara-saudarinya di ruang dan waktu yang berbeda. Di tengah pandemik global ini, rupanya salah satu bahasa kunci yang bisa dipakai untuk menjaga interkonektivitas atau keterhubungan antara satu dengan yang lainnya ialah “bahasa kemanusiaan” tanpa memandang apa suku, budaya dan agamanya.

Selain itu, dampak positif lain yang bisa dirasakan komunitas mondial saat ini, yakni bergerak kembali ke panggilan dasariah hidup sebagai makhluk ciptaan Tuhan, yakni antusiasme dan kerinduan untuk bertobat dan kembali ke cara hidup yang benar (memandang dari kacamata makhluk beriman) termasuk tahu menjaga pola hidup yang sehat. Dalam konteks kehidupan beriman, ada yang mengatakan bahwa wabah ini terjadi mungkin sebagai sebuah bahan refleksi dan permenungan global bahwa dunia saat ini sedang diuji cinta dan kesetiaannya pada Sang Pemilik Kehidupan. Mungkin situasi chaos ini terjadi oleh karena acapkali dunia enggan mendengar suara-Nya atau kurang mengandalkan-Nya. Tapi, apakah memang Tuhan sedang menguji iman dan kesetiaan dunia (manusia) pada-Nya melalui wabah yang satu ini? 

Kadangkala orang cepat beranggapan bahwa ini terjadi karena Tuhan marah, atau bencana dan malapetaka terjadi karena manusia tidak lagi berdoa kepada-Nya. Hal ini terjadi karena manusia membangkang dan memunggungi-Nya. Dari situasi tersebut, terkadang muncul pertanyaan klasik a la filsuf Jerman Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716) mengenai letak cinta dan kebaikan atau bahkan keadilan Allah bagi manusia (teodicea/teodisea: “theos”, Allah dan “dike”, keadilan) dan seluruh ciptaan-Nya. Pertanyaan teodicea itu mungkin bisa dirumuskan demikian: “kalau Allah ada, mengapa ada penderitaan atau kejahatan di muka bumi”. Sebagai orang beriman, mempertanyakan relasi dengan Tuhan merupakan hal yang lumrah, sebab orang beriman memiliki konsep tentang Allah yang Mahabaik, Mahamurah, Mahaadil, dsb. Kini, konsep tentang kemahabaikan Allah itu dihadapkan secara paradoks dengan realitas lain di luar diri-Nya. Adanya bencana alam atau pun seperti wabah virus Covid-19 saat ini adalah suatu kondisi yang bertentangan dengan kebaikan yang ada di dalam diri Allah. Jadi, bisa saja orang bertanya apakah Allah yang Mahabaik, Mahakasih itu mengendaki bencana seperti yang tengah terjadi saat ini? Lalu apa sebabnya Dia yang Mahabaik itu mengizinkan terjadi suatu bencana dalam hidup manusia. Pandangan atau pun persepsi seperti inilah yang seakan-akan “menuduh” Allah sebagai sumber malapetaka dan kejahatan. Padahal tidaklah demikian dan justru sebaliknya Dialah yang menjadi sumber segala kebaikan, cinta dan kemurahan (bdk. Mzm 108:8-14; Rm 8:28; Luk 6:36). Memang ada yang beranggapan bahwa ini terjadi karena sebab-sebab atau faktor-faktor alamiah tanpa ada kaitannya dengan Sang Pencipta. Bagaimana persisnya jawaban atas hal ini? 

Sebetulnya masing-masing orang bisa merenung dan menjawab pertanyaan tersebut. Namun, yang pasti bahwa apapun latar-belakang dan sebab alamiah munculnya virus ini, kehadirannya menjadi bahan pelajaran bagi komunitas dunia agar tidak pernah melupakan arah dan tujuan final hidupnya. Dunia atau manusia sejatinya lemah dan rapuh bahkan bisa saja mengalami apa yang disebut dengan “disoriented life”, hidup tanpa arah yang jelas. Hidup manusia pada dasarnya pun terbatas dan siapa pun akan melewati tahapan terakhir dalam hidupnya (mati).

Setiap orang bisa saja kehilangan arah dan harapan dalam hidupnya bahkan menjadi putus asa bila tidak bersandar pada satu titik pijak yang penting. Alam ciptaan dan segala isi kandungannya, termasuk mahkota ciptaan tertinggi, yakni manusia tidak akan pernah abadi. Semuanya terbatas. Di tengah kerapuhan, kelemahan, ketidakberdayaan ini, sebagai orang beriman, Tuhan mestinya menjadi pilihan akhir dari segala macam opsi untuk bersandar dan menggantungkan harapan pada-Nya. Sebab Dialah pencipta kehidupan (bdk. Kej 1:1-31), Dialah bukit batu, kubu pertahanan dan penyelamat, tempat manusia berlindung (bdk. Yer 18:3) dan Dialah sumber air hidup (bdk. Yoh 4:14) serta satu-satunya “Jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6). Mungkin di tengah runyamnya situasi hidup manusia dewasa ini, ada semacam gerakan global untuk menyadari kerapuhan dan keterbatasan hidup sebagai manusia di hadapan Sang Penciptanya. Geliat semacam ini, lantas mendorong orang untuk mencari pertolongan dan perlindungan pada-Nya.

Berkat Urbi et Orbi Papa Francesco dan Metafor La barca (Perahu)

Persis di tengah merebaknya wabah Covid-19 yang menyerang hidup manusia, pada tanggal 27 Maret 2020, tepatnya pukul 18.00 waktu Roma, Vatikan, Bapa Suci Paus Fransiskus yang terdorong oleh cintanya yang besar untuk warga kota Roma dan dunia, mengadakan doa bersama dengan segenap umat Katolik di seluruh dunia. Doa ini disiarkan secara langsung oleh Media Vatican Live dari kota Vatikan. Doa ini mungkin bisa juga menjadi suatu ajakan bagi komunitas agama lain untuk turut mendoakan dunia yang sedang sakit dan gelisah. Sore itu, Paus ditemani beberapa umat beriman hadir untuk mendoakan agar pandemik Covid-19 segera berakhir. Meski rintik-rintik hujan membasahi kota Vatikan, Bapa Suci tampak tenang, sekalipun dengan rautan wajahnya yang tampak sedih, ia mulai mengadakan doa bersama dan Adorasi Sakramen Mahakudus. Saat itu, di depan Basilica St. Petrus ditempatkan sebuah Salib Teramat Suci (La croce miracolosa). Dikatakan bahwa pada tahun 1519 terjadi kebakaran gereja dan salib itu selamat dari peristiwa tersebut. Kemudian beberapa tahun berikutnya, orang Roma membawa salib ini dalam suatu prosesi untuk melawan wabah dahsyat kala itu. Selain salib, di depan Basilica pun dipasang sebuh ikon Bunda Maria, Salus populi Romani (Maria, keselamatan orang Roma) yang terbungkus dalam kaca guna menemani doa Paus Fransiskus. Dikatakan pula dalam salah satu situs bahwa ikon Bunda Maria ini dulunya pernah dipakai oleh Paus Gregorius Agung pada 593 dalam prosesi mengusir wabah yang hebat di Roma. Kemudian, pada 1837, Paus yang sama memohon bantuan Tuhan untuk mengakhiri epidemi kolera dengan menggunakan ikon suci Perawan Maria tersebut.

Doa Paus yang berdurasi hampir sejam itu sungguh menyentuh hatiku dan barangkali bagi Anda sekalian yang sempat mengikutinya. Bagi orang Roma atau Italia mungkin doa dan renungan Bapa Suci sore itu akan lebih mengena karena berbicara langsung dalam bahasa setempat dan secara langsung pula menyentuh pengalaman hidup mereka saat ini. Saya sangat tersentuh mengikuti doa Bapa Suci tersebut. Renungannya begitu mendalam, meski tidak semua kalimat, kata per kata saya cermati satu persatu, tapi paling kurang saya menangkap beberapa inti atau poin penting dari renungannya itu terkait dengan wabah virus corona saat ini.

Di dalam homilinya selama Adorasi Sakreman Mahakudus itu, Bapa Suci mengatakan bahwa virus corona telah menyatukan kita di dalam kemanusiaan kita sebagai saudara dan saudari. Saya mengutip beberapa kalimat yang terucap dari mulutnya: “Ci siamo trovati impauriti e smarriti, siamo stati presi alla sprovvista da una tempesta inaspettata e furiosa, ci siamo resi conto di trovarci sulla stessa barca tutti fragile e disorientati ma allo stesso tempo importanti e necessari. Tutti chiamati a remare insieme, tutti bisognosi di confortarci a vicenda. Su questa barca ci siamo tutti, tutti. Non possiamo andare avanti ciascuno per conto suo …ma solo insieme.” Bapa Suci berkata bahwa kita sekalian merasa takut dan tersesat, kita terkejut oleh gelombang badai yang panas. Kita telah menyadari bahwa kita berada di dalam perahu yang sama, kita semua rapuh dan bingung, tetapi pada saat yang sama kita harus menyadari bahwa kita semua dipanggil untuk tinggal bersama, semua perlu saling menghibur. Pada perahu itu kita semua hadir. Kita tidak dapat mendayung sendirian, akan tetapi kita mendayung secara bersama-sama.

Dalam renungan itu, Bapa Suci menggunakan kisah para murid di atas perahu yang diceritakan oleh Penginjil Markus (Mrk 4:35-41), di mana mereka diterjang oleh badai yang tak terduga, dan Yesus tertidur di buritan. Ketika mereka memanggil Yesus, para murid sebetulnya membuktikan pula iman mereka bahwa Yesus pasti akan membantu, namun ternyata Yesus menegur mereka karena Dia tahu bahwa iman mereka masih kurang. Paus mengatakan bahwa sebetulnya para murid Yesus masih lemah dalam imannya, padahal mereka tidak pernah berhenti percaya pada-Nya. Malahan, mereka datang memanggil-Nya untuk meminta bantuan. Akan tetapi, kita melihat di sini “bagaimana” cara mereka memanggil-Nya: “Guru, apakah Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” (ay. 38). “Apakah Engkau tidak peduli ….” Para murid berpikir bahwa Yesus tidak tertarik akan nasib hidup mereka, tidak merasa peduli terhadap mereka. Padahal, menurut Bapa Suci, “Dia lebih dari siapa pun. Dia sangat peduli dengan kita”.

Renungan Bapa Suci memang masih panjang, akan tetapi ada beberapa hal yang bisa dikatakan dari refleksinya itu. Seperti yang ditekankan Paus, Tuhan memanggil kita sebagai manusia untuk beriman meskipun acapkali kita seperti para murid yang tidak terlalu percaya bahwa Tuhan sungguh-sungguh hadir dan terlibat di dalam situasi (hidup) manusia. Namun sekalipun demikian, Paus mengatakan bahwa manusia tetap terdorong untuk datang pada-Nya dan tetap percaya kepada-Nya. Bapa Suci berkata: “Ci chiami a cogliere questo tempo di prova come un tempo di scelta. Non è il tempo del tuo giudizio, ma del nostro giudizio: il tempo di scegliere che cosa conta e che cosa passa, di separare ciò che è necessario da ciò che non lo è. È il tempo di reimpostare la rotta della vita verso di Te, Signore, e verso gli altri”. Jadi menurut Paus, apa yang disebut dengan saat “pencobaan” adalah “waktu untuk memilih” dan itu bukannya waktu penghakiman bagi diri kita sendiri, melainkan penghakiman kita bersama, yakni waktu untuk memilih apa yang penting dan apa yang berlalu, waktu untuk memisahkan apa yang perlu dari yang tidak. Bapa Suci mengatakan bahwa ini merupakan waktu untuk mengembalikan hidup kita ke jalur yang benar, yang berkenan untuk hidup kita, untuk Tuhan dan untuk sesama manusia.

Kita sekalian juga bagaikan hidup dalam ‘perahu’ itu seperti perahunya para murid Yesus tatkala berlayar di danau. Dunia kita belakangan ini terombang-ambing oleh berbagai macam kekuatiran dan kegelisahan, salah satunya yang paling menakutkan ialah merebaknya virus corona (Covid-19). Meskipun demikian, seperti kata Bapa Suci, sebetulnya kita yang ada di dalam perahu ini (baca: hidup) tidak bisa berjalan sendiri, melainkan selalu berjalan maju secara bersama-sama (baca: mendayung perahu bersama): “non possiamo andare avanti ciascuno per conto suo …ma solo insieme”. Kesulitan dan tantangan dunia kita saat ini dengan adanya virus tersebut merupakan badai yang tengah mengamuk dan menghantam “perahu iman kita kepada Allah”. Sekalipun demikian, saya yakin bahwa “perahu iman” ini tidak akan hancur karena Yesus ada bersama kita, Dia hadir bersama dunia, Dia tidak tidur, tetapi bangun dan menghardiknya dan dunia menjadi tenang dan aman: “Diam! Tenanglah!” (Mrk 4:39).

Setelah menyelesaikan doa-doanya dalam Adorasi Ekaristi itu, Paus mengangkat Ekaristi Suci dan memberkati kota Roma dan dunia atau yang dikenal dengan nama “Berkat Urbi et Orbi”. Dengan berkatnya itu, dunia berharap segala macam kekuatiran, kegelisahan, dan ketakutan dalam hidupnya dapat diatasi. Dengan demikian, manusia hidup tenteram dalam bimbingan dan perlindungan Tuhan. Hal ini bisa dibayangkan seperti ketika Yesus bangun dari tidurnya dan menghardik air danau agar kembali tenang dan para murid pun dapat meneruskan perjalanan mereka dengan aman. Melalui berkat ini juga, dunia mendapat indulgensi penuh atas dosa-dosanya. Selain itu, melalui berkat yang sama pula dunia berharap agar wabah virus inipun segera berakhir.

“Allah menginginkannya, Dia bisa dan Dia melaksanakannya” (Dio la vuole, potuto e la fatto)

(Artikel – refleksi ini saya tulis setelah Berkat Urbi et Orbi dari Paus Fransiskus dari Vatikan, Roma 27 Maret 2020) – Seminari Montfort, “Ponsa” Malang [28 Maret 2020]

Rujukan:

Detiknews, sabtu 28 Maret 2020

Https://www.vaticannews.va/it/papa/news/2020-03/editoriale-tornielli-papa-francesco-preghiera-fine- coronavirus.html.

Https://www.ilfoglio.it/salute/2020/01/29/news/-il-coronavirus-senza-allarmismi-complotissmi-e-

Libreriaeditricevaticana.va

Media Vatican Live (Video Berkat Paus Urbi et Orbi 27 Maret 2020). Republika.co.id

Saduran terjemahan (diformulasikan ulang oleh RP. Fidel, SMM) isi kotbah Paus Fransiskus oleh P. Dr. Markus Solo Kewuta, SVD (Staf Penasehat pada Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Umat Beragama).
×
Berita Terbaru Update