-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Pariwisata dan Penguatan Nilai Lokal di NTT

Jumat, 13 Maret 2020 | 08:04 WIB Last Updated 2020-03-13T01:12:07Z
Pariwisata dan Penguatan Nilai Lokal di NTT
Romo Edi Menori (Foto istimewah)

Yang mengejar mimpi tak pernah menundukkan kepalanya. Sebab mimpi mengarahkan pandangannya jauh ke depan. Mimpi memaksakan kepala untuk tengadah dengan mata terpana menggapai kaki langit.

Mimpi menyimpan kekuatan yang mendorong langkah untuk bergerak maju meraih bintang tanpa merisaukan rintangan. Mimpi adalah awal dari ziarah meraih keceriaan batin. Semua bermula dari mimpi. Tanpa mimpi langkah pasti mati, tak mau beralih, malah berbalik ke hari kemarin.

Mimpi mengusir ketakutan untuk maju. Ia menyendengkan telinga terhadap panggilan masa depan. Bayangan gelap masa lalu dianggap telah berlalu dan sebatas catatan masa lalu.

Mimpi menggairahkan langkah untuk pergi. Namun langkah itu tak pernah melayang. Setinggi apa pun mimpi digantungkan tetap saja ziarahnya berpijak di atas fakta dan realitas hari ini. Mimpi yang tidak berpijak pada kenyataan hari ini hanyalah bentuk halusinasi, sebuah cara menghindar dari dunia nyata. 

Mimpi selalu memaksa orang tengadah, berjalan meraih masa depan. Bayangan akan suka cita hari esok menguburkan derita hari ini bahkan meniadakan kesengsaraan sesama dan jelata. 

Namun membangun mimpi dengan menjual kata - kata manis akan memicu hasrat berhalusinasi. Mengharapkan penjual mimpi dan tukang mimpi mengubah situasi hari ini tentu mustahil. Kita butuh mimpi untuk melangkah maju. Mimpi sejati mengubah kesusahan hari ini; Mentranformasi kemandekan hari ini. Mimpi kita harus tetap realistis. Bukan pelarian. Bukan pula candu berhalusinasi untuk melupakan derita hari ini.

Andai kita punya mimpi memajukan pariwisata, tetap penting diajukan pertanyaan berikut, "Apakah mimpi ini realistis?"

Jawaban atas pertanyaan ini bisa beraneka. Bila pariswisata berdiri sendiri, terpisah dari sektor lain seperti; pertanian, pendidikan dan kesehatan, bisa saja mimpi itu dinilai realistis. 

Data menunjukan mayoritas masyarakat NTT adalah petani. Persoalan SDM, mutu pendidikan yang rendah, masalah di bidang kesehatan masih menggelisahkan masyarakat NTT. Potensi pariwisata dalam arti wilayah destinasi wisata menyebar di berbagai daerah tetapi masih sulit dijangkau. Singkatnya belum menjadi potensi andalan.

Mimpi memajukan pariwisata sebagai fokus dan prioritas pembangunan dalam konteks NTT yang demikian, mungkin bisa dibilang tidaklah realistis. Keluar dari realita masyarakat NTT. Mimpi semacam ini bisa dianggap hanyalah halusinasi atau candu yang membuat masyarakat melupakan kesangsaraannya.

Mimpi besar membangun pariwisata memunculkan pertanyaan berikut; Pariwisata untuk siapa dan menguntungkan siapa? Boleh saja kita asumsikan pembangunan pariwisata adalah pembangunan ekonomi rakyat. Apakah masyarakat yang mayoritas petani mendapat keuntungan langsung bila pariwisata dikembangkan? Apakah melalui program pengembangan pariwisata, taraf hidup para petani akan lebih sejahtera? 

Pembangunan di bidang pariwisata tentu bisa memicu kemajuan di bidang lain. Pariwisata dapat meningkatkan pendapatan petani sayur dan buah-buahan. Kebutuhan akan ikan bertambah. Namun berapa jumlah kebutuhan hotel bila dibandingakan dengan jumlah petani dan nelayan? Pilihan memprioritaskan pembangunan pariwisata membutuhkan diskusi dan kajian yang mendalam. Program pembangunan yang efektif dan realistis harus berpijak pada data dan kebutuhan masyarakat.

Pembangunan pariwisata sesuai konteks NTT harus terintegrasi dengan bidang pertanian. Memprioritaskan pariwisata tidak ada salahnya bila konsepnya sejalan dan berpijak pada konteks NTT yang nota bene mayoritas rakyatnya, petani.

Namun tetap dibutuhkan sebuah konsep yang strategis dan komprehensif dalam rangka mengintegrasikan pengelolaan pariwisata berbasis pertanian. Pengintegrasian pariwisata dalam cultur hidup petani mencakup pengembangan adat istiadat, kesenian, dan kegiatan bertani itu sendiri. Kehidupan petani dalam lingkaran budaya agraris ditandai oleh kesatuan tiga hal ini; kegiatan bertani, berkesenian dan ritual adat. 

Membangun pariwisata di wilayah dengan mayoritas rakyatnya petani harus menyentuh tiga aspek kehidupan masyarakat agraris di atas. Pembangunan pariwisata harus terintegrasi dengan pengembangan pertanian, kesenian rakyat dan adat istiadatnya.

Pembangunan pariwisata kiranya tidak disederhanakan sebatas mengembangkan kesenian rakyat dan kerajinan lokal, lalu melupakan dimensi pengembangan usaha pertanian, adat istiadat, nilai-nilai kebudayaan dan kearifan lokal.

Pariwisata yang berbasis pada masyarakat agraris kiranya menguatkan kebudayaan dan nilai-nilai kearifan lokal. Konsep pembangunan pariwisata yang integral kiranya itulah yang harus dikembangkan.

Oleh: Rm Edi Menori
Ketua Yayasan SUKMA Keuskupan Ruteng, Manggarai, NTT

Kontak: redaksisocietasnews@gmail.com
×
Berita Terbaru Update