-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Pater Tuan Kopong; Adonara Tidak “Seburuk” Yang Kita Pikirkan

Senin, 09 Maret 2020 | 17:56 WIB Last Updated 2020-03-09T11:06:57Z
Pater Tuan Kopong; Adonara Tidak “Seburuk” Yang Kita Pikirkan
Pater Tuan Kopong bersama keluarga dalam acara pesta adat (Tarian hedung; tariang menyambut kedatangan tamu)

Tragedi kemanusiaan di desa Sandosi beberapa waktu lalu, membuat kita semua masyarakat Lamoholot pada umumnya dan Adonara pada khususnya tersentak kaget dan mulai muncul beragam komentar prihatin atas peristiwa itu dan juga mungkin ada sedikit “keceman” atau protes atas tindakan tersebut bahwa hanya karena sejengkal tanah nyawa manusia hilang.

Mungkin ada juga yang merasa malu sebagai orang Adonara yang terlihat secara kasat mata “kasar dan keras” karena persoalan tanah korban berjatuhan. Bahkan adapula yang mungkin dengan bahasa kritikan atau protes atas sebuah paham kebenaran berdasarkan koda atau bahasa adat Adonara bahwa kebenaran pemilik tanah yang disengketakan atau diperebutkan itu berdasarkan pada siapa yang menjadi korban di atas tanah tersebut. Artinya yang menjadi korban di atas tanah tersebut berarti dia bukan pemilik tanah tersebut, dalam arti kata dia atau merekalah yang salah.

Saya hanya mau mengajak kita semua untuk melihat Adonara secara lebih dekat terlebih dahulu menyangkut keyakinan pada adat budaya yang berhubungan dengan “koda”. Dari sisi adat budaya, meski Adonara sendiri sudah disirami oleh ajaran agama modern seperti agama Katolik dan Islam namun tidak membuat masyarakat Adonara dengan begitu mudahnya melepaskan paham dan ajaran adat budaya yang sudah turun temurun.

Mengapa saya menyebutkan agama Katolik dan Islam sebagai agama modern, karena menurut nenek moyang dan orang tua kita, sebelum penyebaran dan masuknya agama Katolik oleh para misionaris dan agama Islam oleh para kyai, mereka sudah memiliki agama sendiri yaitu adat dan kepercayaan yang sudah membudaya.

Bahasa yang selalu dilontarkan oleh orang tua nenek moyang kita ketika kita menyingung keyakinan dan kepercayaan mereka dalam konteks ajaran Katolik dan Islam adalah demikian; “agama Katolik dan Islam baru kemarin. Sebelumnya kita sudah memiliki agama (kepercayaan, adat dan budaya). Jika para misionaris dan kyai tidak masuk ke wilayah kita, maka tidak ada Katolik dan Islam”. Artinya dalam konteks ini keyakinan yang sedemikian kuat pada adat dan budaya sudah mempengaruhi kehidupan masyarakat Adonara bahkan hingga hari ini termasuk dalam diri dan hidup kita semua orang Adonara.

Harus diakui bahwa masyarakat Adonara meskipun sudah beragama namun tidak bisa dipisahkan dari adat istiadat dan budaya yang sudah dihidupi turun temurun. Bahkan menurut kita kaum intelektual bahkan rohaniwan sekalipun tidak serta merta karena alasan perkembangan zaman yang dalam bahasa kita “sudah tidak zamannya” lagi mengubah apa yang sudah terpola dan dihidupi turun temurun.

Seperti belis perkawinan dengan gading atau soal perebutan tanah yang menentukan kebenaran bahwa sang pemilik tanah adalah yang bukan menjadi korban di atas tanah itu sendiri. Hal ini adalah paham yang sudah membudaya yang kemudian disertai dengan tafsiran mimpi dan bau lolon.

Berhadapan dengan situasi perebutan tanah yang kadang berakhir dengan peperangan atau pembunuhan tidak serta merta kita kemudian mengatakan hilangkan kepercayaan bahwa siapa yang menjadi korban di atas tanah yang diperebutkan itu maka dia atau mereka bukan pemilik tanah itu. Tidak mudah karena paham yang sudah menjadi kepercayaan masyarakat Adonara ini bukan sekedar kesepakatan bersama tetapi melalui ritual adat yang menjadi kekuatan pemersatu yang disebut “nara” atau sekutu.

Sebagai anak Adonara saya mengajak kita semua melihat kasus ini secara arif dan tidak menghakimi paham ini untuk berusaha menghilangkannya. Saya sebagai anak Adonara sekedar mengusulkan bahwa isi dari paham itu yang harus dirubah bahwa paham itu tetap ada namun bukan lagi korban manusia. Kalau salah dan keliru, saya dengan segala kerendahan hati dan untuk Adonara saya meminta maaf. Saya mengusulkan demikian:

1. Ketika ada konflik atau sengketa tanah maka yang dilakukan bukan lagi dengan peperangan dan pembunuhan untuk menentukan kebenaran siapa pemilik tanah. Tetapi dalam bentuk korban hewan melalui ritual (maaf sekali lagi) “belo brekan” yaitu membunuh hewan korban dalam satu kali tebasan leher hewan tersebut langsung putus di atas tanah tersebut. Penetuan hewan korban, bentuk parang ditentukan oleh kedua belah pihak. Dan setelah proses selesai untuk menghilangkan dendam dilakukan upacara adat untuk perdamain seperti “hode limaka” (rekonsiliasi).

2. Bahwa peperangan atau pembunuhan hanya menjadikan korban di kedua belah pihak. Bukan sekedar korban nyawa namun korban dendam yang bisa menjadi celah masuknya provokator. Pada tahap ini pihak Gereja, Islam dan pemerintah bisa masuk memberikan pencerahan.

3. Gerakan sertifikasi tanah dan bangunan. Hal ini untuk meminimalisir konflik di kemudian hari dan ketika ada konflik bukan lagi perang yang didahulukan melainkan hukum positif menjadi jalur menemukan keadjlan dan kebenaran.

4. Sebagai masyarakat, mari kita hentikan perdebatan soal adat istiadat kita sendiri sebagai orang Adonara tetapi menghargai dan menerimanya karena bagaimanapun itu juga tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita sebagai orang Adonara dan menemukan celah atau jalan masuk untuk tidak menghilangkan tetapi memberi pencerahan.

Apapun yang terjadi hari ini saya tidak malu sebagai orang Adonara. Jika ada yang menghujat; masuk, hidup dan belajarlah bersama orang Adonara. Saya anak Adonara tetap bangga memiliki Adonara yang berbudaya dan beradat. Salam damai Adonaraku. Maaf kalau ada salah kata dalam tulisan ini.

Manila: 09-Maret-2020
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update