-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Perayaan Ekaristi Live Streaming: Media Baru Perjumpaan Iman (Upaya Penangkalan Covid-19)

Senin, 30 Maret 2020 | 01:55 WIB Last Updated 2020-04-01T06:22:46Z
Perayaan Ekaristi Live Streaming: Media Baru Perjumpaan Iman (Upaya Penangkalan COVID 19)
Ilustrasi; katolisitas.org

Oleh: Jondry Siki, CMF
(Mahasiswa Fakultas Filsafat, UNWIRA Kupang)

Saat ini kita sedang dalam era industri 4.0. Satu masa di mana segala lini kehidupan tidak terlepas dari pengaruh teknologi dan informasi. Sedih rasanya, menyaksikan banyak gereja yang kosong pada perayaan hari Minggu Prapaskah IV, Minggu Laetare, 22 Maret 2020 dan Minggu Prapaskah V, 29 Maret 2020. Namun dengan sepinya gereja dari kerumunan umat, bukan berarti tidak ada perayaan Ekaristi. Di banyak tempat perayaan Ekaristi dilakukan secara online. Hal ini menunjukan era baru dalam gereja telah terbit, di mana kita dapat berjumpa dengan Tuhan kapan saja dan di mana saja.  Barangkali di antara kita ada yang risih mendengar Perayaan Ekaristi Online tetapi itulah yang terjadi sekarang. Industri 4.0 bukan lagi pembicaran profan di mana unsur iman tidak diikutsertakan di dalamnya. 

Tulisan ini sekadar menyadarkan kita betapa bermanfaatnya teknologi di tengah situasi kita saat ini dalam perang melawan Virus Corona. Pandemi covid-19, virus yang membawa perubahan paradigma gereja. Kita tidak lagi tertutup dengan penggunaan media komunikasi, tetapi kita gunakan sebagai sarana untuk memuliakan Tuhan. Segala sarana yang ada adalah alat untuk memuliakan Tuhan. Kini saatnya kita menjadikan segalanya baru di dalam Tuhan. Segala apa yang lama kita baharui demi hidup dan keselamatan dunia. Hari ini gereja melangkah cukup jauh menuju fajar baru dalam iman.

Ecclesia Revormanda Est

Konsili Vatikan II yang bergulir sejak 11 Oktober 1962 - 8 Desember 1965, membawa angin segar dalam perjalanan iman Gereja. 55 tahun yang lalu para Bapa Konsili melihat situasi dunia berhubungan dengan penggunaan teknologi. Ada kekhawatiran dari pihak gereja dalam penggunaan teknologi zaman ini. Namun di balik rasa cemas itu ada seberkas cahaya yang memancar keluar dari teknologi. Cahaya itu sedang menyinari gereja saat situasi dunia diliputi kegelapan akibat wabah virus corona.

Melihat situasi dunia yang semakin maju, para bapa konsili turut membicarakan penggunaan teknologi sebagaimana yang tertuang dalam Dekrit tentang upaya-upaya komunikasi sosial (Inter Mirifica). Dalam dokumen ini para bapa konsili menulis bahwa gereja didirikan oleh Kristus  demi keselamatan semua orang dan terdorong oleh kewajiban untuk mewartakan Injil, diputuskan bahwa gereja memandang sebagai kewajibannya, untuk juga dengan memanfaatkan media komunikasi sosial menyiarkan warta keselamatan. Maka pada hakikatnya, Gereja berhak menggunakan dan memiliki semua jenis media itu, sejauh diperlukan (Inter Mirifica no. 3).

Selain itu para bapa konsili mengingatkan  semua putera dan puteri Gereja serentak dan secara sukarela mengusahakan agar upaya-upaya komunikasi sosial dengan cekatan dan sensitif mungkin dimanfaatkan secara efektif dalam aneka macam karya kerasulan, menanggapi tuntutan situasi setempat dan semasa (IM 13). Artinya bahwa penemuan teknologi merupakan satu langkah untuk mewartakan keselamatan bagi banyak orang. 

Gereja selalu dibaharui. Pernyataan ini adalah satu bentuk dukungan bagi gereja berhadapan dengan tantangan Gereja dewasa ini. Gereja sedang mengarungi badai zaman. Dan setiap zaman mempunyai tantangannya tersendiri. Saat ini dunia diguncang dengan ancaman covid-19. Ada begitu banyak cara yang sedang digunakan untuk menghambat laju penyebaran virus ini. Salah satu  cara untuk menghambat laju penyebarannya adalah dengan meniadakan kerumunan dan karamaian.  Gerja telah mengambil langkah konkrit dengan meniadakan misa publik. Lantas apakah perayaan Ekaristi di tiadakan? Jawabannya tentu tidak sebab para imam dipanggil untuk merayaan Ekaristi setiap hari walaupun tanpa dihadiri oleh umat (KHK 904). 

Berhadapan dengan situasi dunia saat ini, gereja hendaknya berjalan bersama situasi zaman tanpa menghilangkan spiritualitas dan wibawa dalam menggembalakan umat. Gereja harus selalu dibaharui seturut perkembangan zaman dan tetap pada koridor sebagai institusi rohani dan media perjumpaan dengan Tuhan. Gereja harus turut merasakan penderitaan dunia saat ini, seperti gembala berbau domba. Gereja selalu dan senantiasa dibaharui, Ecclesia Revormanda Est. 

Perayaan Ekaristi Online: Tanggapanan Atas Tuntutan Situasi, Tempat dan Masa

Dokumen Konsili Vatikan II khususnya Inter Mirifica merupakan jawaban gereja atas situasi dunia yang sedang kita alami saat ini. Wabah covid-19 adalah tuntutan di mana cara pencegahannya adalah dengan membubarkan kerumunan umat. Terhitung tanggal 22 Maret, Gereja akhirnya dengan rendah hati menggunakan sarana teknologi untuk pewartaan Iman khususnya Perayaa Ekaristi. Pada no. 13 dokumen tersebut,  kita melihat bagaimana peran teknologi dalam melancarkan perayaan iman.

Dalam dokumen Gereja Aetatis Novae (terbitnya era baru)  yang dipublikasikan pada 22 Februari 1992, dijelaskan bahwa era baru sedang kita hadapi di mana kita hidup dalam satu dunia yang diliputi oleh teknologi. Dan yang paling nyata adalah gadged yang sedang beredar luas di pasaran. Dan aplikasi-aplikasi baru dalam dunia maya merupakan satu bentuk era baru sebagaimana yang diinstruksikan dalam Aetatis Novae.

Pada posisi ini, Gereja harus bijak dalam menanggapi hal ini. Saat ini era baru telah dimulai semenjak covid-19 menguasai dunia. Kita harus tetap bersyukur atas penemuan-penemuan teknologi canggih yang juga adalah sarana demi penyebaran iman akan Tuhan. Maka sangat tepatlah bila perayaan Ekaristis secara Live Streaming sebagai bentuk atas tuntutan era baru yang telah terbit bagi kita. 

Surat Cinta Untuk   NTT

Saudara-saudari sekota Kupang yang saya kasihi. Mayoritas penduduk dunia saat ini sedang menderita akibat wabah covid-19. Negara-negara Eropa dan Amerika telah membuat keputusan untuk lockdown negeri mereka, guna menghambat penularan virus jahat yang sedang melanda kita. Presiden Jokowi pada awal maret sudah mengumumkan secara resmi bahwa Indonesia juga negara yang positif terjangkit covid-19. Dan jumlah kasus virus ini meningkat setiap hari.

Dalam berita di media jumlah yang terinfeksi mengalami peningkatan. Jumlah pasien yang meninggal di negara kita lebih banyak daripada yang sembuh. Tentu ini adalah satu tanda untuk menjaga diri kita dari ancaman virus ini. Saudara yang terkasih, para Uskup Indonesia telah memutuskan untuk meniadakan perayaan Ekaristi untuk beberapa hari ke depan dengan tujuan menghambat penyebaran virus ini.

Hari Minggu 22 dan 29 Maret 2020, kita menyaksikan banyak gereja yang sepi tanpa umat, itu menunjukan bahwa gereja peduli dengan kesehatan kita. Namun sangat disayangkan bahwa NTT sampai saat ini masih dipenuhi dengan hiruk pikuk seolah covid-19 adalah suatu kabar angin. Apakah kita akan benar-benar di dalam rumah kita setelah menyaksikan saudara-saudari,  ibu dan bapa kita menjadi korban covid-19?  Tentunya harapan kita tidak demikian. Gubernur NTT, Victor Bungtilu Laiskodat sudah menutup pintu perbatasan negara, dan sekolah-sekolah serta universitas-universitas sudah diliburkan namun mengapa Bandara dan  Pelabuhan masih  beroperasi?

Apakah masalah covid-19 adalah satu kabar burung? Ingat Negara Italia saat ini menderita dengan tingkat kematian terbesar sebab pada awalnya mereka cuek dan masa bodoh dengan virus ini. Jadi saudara-saudara sekalian mari kita tetap di rumah untuk menjaga masa depan anak-anak, cucu dan karya kita. Jangan pernah menganggap remeh Virus Corona. Kita, NTT belum siap untuk menerima dan menangani kasus covid-19 karena keterbatasan sarana dan prasarana. Mari kita menjaga diri dan menjauhkan diri dari keramaian dengan kembali ke rumah kita masing-masing.
×
Berita Terbaru Update