-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Percikan Hidup Berkeluarga: Bunga Wijaya Kusuma

Kamis, 05 Maret 2020 | 21:33 WIB Last Updated 2020-03-05T14:46:46Z
Percikan hidup berkeluarga: Bunga Wijaya Kusuma
Percikan hidup berkeluarga: Bunga Wijaya Kusuma

Apakah anda pernah menyaksikan Bunga Wijaya Kusuma? Dugaan saya jarang orang menyaksikannya. Saya pun hingga usia begini, baru tahu bunga itu. Selama ini saya, dan mungkin anda juga, mengtahui nama itu sebagai nama jalan di kota atau nama lembaga pendidikan, nama Kereta Api, nama Rumah Sakit, dsbnya. Saya dan istri punya pengalaman tentang bunga ini. Jadi maaf, ini tentang cerita diri sendiri. Saya punya argumentasi, bahwa kalau cerita pengalaman orang lain, pakai nama orang lain, maka agak ribet mohon izin dan permisinya, belum lagi ia komplin karena tidak persis.

Jenis bunga Wijaya Kusuma, baru mekar bunganya tengah malam, sekitar jam 1-2 dini hari, menebarkan harum mewangi khas tiada tara,  itupun mekar hanya selama 1 jam. Tiga malam lalu di Labuan Bajo, salah satu kawasan obyek wisata premium itu, saya  dan istri pingin tahu, karena our good neighbour mengundang untuk menyaksikan mekar tutupnya. Menurut beliau, berdasarkan budaya Jawa, bahwa  bila sempat menyaksikan kuncupnya mekar dan tutup, maka akan ketiban rezeki yang besar. Mungkin saja! Jika kita memang benar-benar fokus pada usaha yang sedang dijalani, itu bisa terjadi. Namun bagi saya adalah, ini pertama kalinya dalam hidup ini saya dan istri mengetahui bunga Wijaya Kusuma, dan tahu bagaimana detik-detik mekar, mekar mengembang, harumnya, hingga tutupnya. Dan kami saksikan dini hari itu. Puas. Takjub. Kami puji-puji keluarbiasaannya, dan puji Tuhan Sang Pencipta.

Yah, saya foto-foto, selfi-selfi.  Esoknya tidak mekar lagi hingga hari ini. Mungkin mekarnya hanya terjadi sekali dalam setahun. Tunggu tahun depan lagi. Tapi bagi saya, keharuman dan wangi Bunga Wijaya Kusuma malam itu sudah terpatri dalam bunga hidup yang tak pernah layu, my lovely Wife

Tengah malam tadi saya baru bisa tidur. Saya melihat lagi foto jepretan saya di HP. Mengisi waktu, saya edit foto my lovely bunga, lalu kirim ke WA istri saya selagi ia tidur lelap, ngorok. 

Ia bangun duluan pagi ini, mungkin sudah baca pesan WA dari saya. Pagi tadi saya sengaja bangun kesiangan. Di meja, ini pertama kalinya my lovely bunga ternyata sudah menyajikan kopi hangat campur madu. My lovely bunga hidungnya kembang sedikit, pura-pura belum membuka WA. Saya hampir pastikan ia sudah baca. "Oooh... mose kilo one lino" (ooo.  hidup berkeluarga ini)", kata hati saya sambil rorop (sruput) satu kali teguk kopi khas Manggarai, sampai ada rapet (terlengket) ampas kopi di kumis. 

Keindahan dan keharuman bunga wijaya kusuma zaman now, tidak hanya nama jalan, rumah sakit, kereta api, tetapi juga bagi manusia yang mengharumkan nama bangsa, dengan sebutan bunga kusuma bangsa, entah sebagai pahlawan yang gugur dalam mempertahankan kedaulatan bangsa, atau prestasi tertentu dalam bidang olahraga. Kalau saya tak salah, ada lagunya yang berjudul Bunga Kusuma Bangsa sebagai penghormatan kepada mereka yang mengharumkan nama bangsa, Indonesia.

Labuan Bajo, 4 Maret 2020
Jon Kadis
×
Berita Terbaru Update