-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Permata Dari Surga, Tak Pernah Sendiri, Wanita Imajinasi, Mengagumimu

Selasa, 31 Maret 2020 | 07:22 WIB Last Updated 2020-03-31T09:50:25Z
Permata Dari Surga, Tak Pernah Sendiri, Wanita Imajinasi, Mengagumimu
Ilustrasi; pacapaku

PERMATA DARI SURGA

Malam itu
Angin berhembus deras
Pepohonan bergoyang riang
Burung-burung berkicau di sarangnya
Aku pun sepertinya ingin terbang

Aku masih duduk sendiri
Berteman sepi dengan segelas tuak
Sedikit demi sedikit aku menyeduhnya
Sedikit terasa ketika tenggorakan mulai panas

Balai bambu menjadi saksi
Tempatku menahan tangis di mata
Ihwal rindu yang tak kunjung temu
Dengan dia, calon ibu dari malaikat-malaikat kecilku

Bagiku dia bukan manusia 
Dia bak permata surga
Yang di kirimnya khusus buatku
Menemani hidup hingga menua bersama

Bagaimana aku tak rindu 
Jika dia yang ku sebut
Untuk melengkapi hidupku
Tak kunjung datang

Harus berjauhan dalam cinta
Serta jarak dan waktu jadi sekat dalam temu
Aku harap kamu baik-baik saja di situ

Aku disini juga cukup baik soal raga
Tapi sedikit sakit soal rasa
Tapi tak apalah aku 
Cukup kuat melewati nestapa ini

TAK PERNAH SENDIRI

Biarlah sunyi mendekati halaman mata
Memberi arti sebuah kesendirian
Memberi makna pentingnya penantian
Sebab yang gaduh dan bercahaya 
Tak selamanya nyata, bukan?

Meskipun raga berteman sepi
Hati tak pernah sendiri
Kendati aksara dan imajinasi
Mampu meredamkan sunyi
Lewat syair dan puisi

Sebab,
Di kala nafas dan aksaramu tak lagi memberi makna
Dan, seketika juga engkau di hempaskan oleh 
ketamakan sunyi yang mencekam
Janganlah takut, apalagi memilih pergi
Kendati, akan ada yang merangkul
Membawamu pergi dari kegelapan itu

WANITA IMAJINASI

Untukmu
Yang enggan kusebutkan namanya
Dulu,
Aku pernah berusaha mengejarmu
Tapi sikapmu dingin padaku
Aku pernah berusaha untuk mendapatkanmu
Tapi kamu bersikap acuh padaku

Namun,
Aku tak pernah menyerah
Aku terus membuktikan cintaku
Meski tidak pernah dianggap olehmu
Aku terus menggoda cintamu

Hingga semesta berkata padaku
Sudah, berhentilah untuk mengejarnya
Dia tidak pernah mencintaimu
Cintailah saja dirimu sendiri
Bersama puisi dan kopi yang kau dambakan

Berlahan,
Cintaku berkurang
Perjuanganku terkurung
Hingga akhirnya aku memilih berpaling 
Menjauh, dan pergi lalu hilang 

Lantas,
Dengan mata yang lebam
Kau mendekatiku
Membawa segudang cintamu
Kau mendekatiku
Memberi seberkas harap untukku

Namun semunya telah selesai
Ihwal cintaku padamu hanya imajinasi
Harapan cintamu padaku telah usai
Terperanjat di altar ilusi

MENGAGUMIMU

Senja memang indah tapi kamu melebihinya
Senja memang nyaman tapi kamu melebihinya
Kamu sungguh baik dan menawan
Begitulah aku mendeskripsikannya

Hmmm
Tapi bagaimana aku akan mengungkapkan itu
Mencarimu saja sukar untuk kulakukan
Menunggumu sedang aku jalani
Nyatanya kamu pun, tak kunjung datang

Lantas,
Aku semakin penasaran menujumu
Ingin mematuk naluri sesegara mungkin mengungkapkan itu
Bagaimana tidak, jika orang 
Yang kita kagumi belum sempat 
Tuk ungkapkan rasa cinta yang sedang kita pendam
Semoga lewat sajak yang ku tulis ini, bisa membuka dinding sekat di antara kita

ANTARA NYATA DAN TIADA

Masih pantaskah kita menjaga rasa. 
Menuntunnya menjemput makna yang selama ini kita dambakan.

Hati merintih, sedih dan pilu. 
Memungut segala harapan yang tergelatak di reruntuhan waktu. 
Inikah arti sebuah perjuangan? 

Hati rindu dalam pasrah
Kendati yang terjadi tidak seperti yang di inginkan. 
Niat hanya sebatas angan, diantara beribu harap.

Bercucuran air membasahi kelopak mata
Menjadinya lebam dan sayu
Seakan percaya dan tidak
Kesayangan yang kerap kali di dambakan
Mendua hati, lalu memilih berpaling.

Oleh: Chris Jata, tamatan STKIP-PI Makassar.
×
Berita Terbaru Update