-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Pertautan Antara Maria dengan Kristus dan Gereja: Maria sebagai Bunda, Anggota dan Model Gereja

Sabtu, 28 Maret 2020 | 15:05 WIB Last Updated 2020-03-29T00:23:20Z
Pertautan Antara Maria denga Kristus dan Gereja: Maria sebagai Bunda, Anggota dan Model Gereja
Perarakan Patung Tuan Ma (Foto; eviindrawanto)

Oleh: Pater Fidel Wotan, SMM

Pengantar

Maria adalah sosok yang penting dalam kristianitas. Kehadiran dan perannya di dalam kehidupan umat beriman begitu berarti. Banyak orang berbondong-bondong datang kepadanya dan gemar mencari perlindungan dan pertolongan kepadanya, sebab dalam dirinya hadir sosok seorang yang penuh belaskasihan (misericordiosa / madre della misericordia). Daya tarik Maria begitu tinggi sehingga umat beriman tidak merasa sungkan, dan malu apabila mendatangi dan memohon bantuannya. Sebagai sosok yang tidak pernah tidak diingat oleh kaum Kristiani, Gereja pun dalam beberapa dokumen resmi memandang dan menegaskan pentingnya kehadiran Maria bagi umat Kristiani. Dikatakan bahwa hubungan Maria dan Gereja meliputi tiga hal khusus, pertama, Maria adalah Bunda Gereja, kedua, Maria adalah bagian dari Gereja sebagai anggota istimewa dari Tubuh Mistik, dan ketiga, Maria adalah prototype (model) Gereja. Untuk mengenal ketiga aspek penting ini dalam diri Maria, adalah tidak berlebihan apabila kita menggali, mempelajari dan mendalaminya dalam dokumen-dokumen Gereja – selain tentu perlu mengenalnya dalam Kitab Suci, Ajaran para Bapa Gereja – secara baik. Melalui pembacaan tentang Maria di dalam beberapa sumber tersebut, setiap orang dapat menimba kekayaan tentang figur Maria sebagaimana yang dipikirkan, direfleksikan di dalamnya. Dari sebab itu, pandangan Gereja tentang siapakah Maria, akan sangat membantu kita juga dalam penelurusan lebih mendalam tentang sosok yang satu ini.

Tulisan ini – dalam segala keterbatasan yang ada – berupaya membantu para pembaca agar dapat dihantar masuk ke dalam jantung pemikiran Gereja tentang Maria. Untuk itu, sebelum membahas tema spesifik tentang Maria dan Gereja, adalah perlu mengenal siapakah sosok Maria dalam kristianitas, bagaimana Maria menunjukkan partisipasinya dalam misteri hidup Allah dan kemudian para pembaca akan dihantar masuk ke dalam ulasan tentang relasi atau pertautan antara Maria dengan Kristus dan Gereja.

I. Siapakah Maria Itu?

Dalam penghayatan hidup rohani, orang Katolik menyadari betapa pentingnya kehadiran dan bimbingan Bunda Maria dalam upaya menyatukan diri dengan Yesus Puteranya. Meskipun demikian, adalah tidak mudah mendialogkan konsep, pandangan dan refleksi tentang Maria dengan kaum non Katolik, misalnya kaum Protestan, sebab kerapkali pembicaraan tentang Maria bagi mereka merupakan suatu batu sandungan. Kaum non Katolik sering memahami Kitab Suci dengan mentalitas “atau/atau”, misalnya ada yang mengatakan kepada orang Katolik demikian: “Anda mencintai Yesus atau Maria; mengikuti Yesus atau Paus.” Menurut Frank Chacon, mentalitas “atau/atau” merupakan akar dari segala perbedaan ajaran antara Gereja Katolik dan bukan Katolik. Pendekatan Katolik persis berseberangan dengan pola pendekatan non Katolik tersebut. Pendekatan Katolik adalah menggunakan formula “baik/maupun”, di mana Kitab Suci dan Tradisi, baik iman maupun karya dan hal-hal lainnya dipegang teguh. Dari sebab itu, pendekatan “atau/atau” bisa saja betul, akan tetapi itu tidak dapat diterapkan terhadap Maria, sebab Kitab Suci tidak pernah memperlawankan Yesus dan Maria. Kitab Suci justru dengan gamblang menyatakan bahwa Maria harus dihormati dengan penghormatan khusus. Jadi, ketika orang Katolik menghormati Maria, maka sebetulnya mereka menghormati Yesus yang memberikan keistimewaan kepada Maria. Jikalau demikian, maka penghormatan kepada Maria pada gilirannya nanti akan dipersembahkannya (Maria) kepada Tuhan (bdk. Lk 1:46-55).

Gereja Katolik mengakui dan menghormati Maria sebagai sosok atau figur yang penting dan punya peran yang sangat besar dalam sejarah keselamatan manusia. Ia sudah diramalkan sejak dahulu kala (bdk. teks- teks Kitab Suci Perjanjian Lama yang berbicara tentang nubuat-nubuat tentang Maria). Maria dinubuatkan menjadi sosok yang penting dan pantas dihormati. Ia menjadi seorang “ibu” yang dicintai oleh siapa saja. Kehadirannya sebagai ibu tidak hanya dibatasi dari sisi biologis (bukan sekedar ibu yang melahirkan Yesus, Puteranya), melainkan juga berperan dalam hal rohaniah. Ia telah disiapkan Allah menjadi Bunda Tuhan dan Ibu dari semua orang yang beriman kepada-Nya, menjadi Bunda Spiritual (bdk. Yoh 19:26-27). Kebenaran ini diafirmasi oleh Paus Paulus VI di mana Maria betul-betul diimani sebagai Bunda Spiritual kaum beriman Kristiani. Dalam Anjuran Apostolik Marialis Cultus n. 21 Paus menamakan Maria sebagai “singulis christianis pietatis magistra”, “maestra di vita spirituale”, guru rohani setiap kaum Kristiani. Dalam konteks ini, kehadiran Maria sebagai seorang ibu memiliki peran yang sangat penting. Melihat dan merenungkan pentingnya peran Maria dalam sejarah keselamatan, Miri Rubin mengatakan bahwa sejarah misi awal di Asia, Afrika dan Amerika ternyata sangat menekankan posisi sentral Maria sebagai Bunda Kristus. Dalam konteks misi, adalah jelas bahwa Maria pada waktu itu dilihat sebagai “a key factor in attracting potential converts to Catholicism.” Dengan demikian, kehadirannya menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi misi pewartaan iman pada saat itu. Selanjutnya, sosok Maria juga dipandang sebagai “figur wanita yang amat berpengaruh di abad modern.”

Kalau berkaca pada apa yang diimani atau diyakini oleh Gereja dan diverifikasi secara historis, maka semestinya adalah mudah dan sederhana bagi seorang Kristiani bila menjawab pertanyaan mendasar yang satu ini: “Siapakah Maria?” Kita mengetahui bahwa sesungguhnya Maria adalah sosok sesudah Yesus yang paling sering dikenal dalam kristianitas dan dalam sejarah hidup manusia. Sosiolog Amerika, Andrew Greeley mengafirmasi bahwa Maria adalah representasi “simbol budaya yang lebih berpengaruh dan amat terkenal di dua ribu tahun terakhir.” Meskipun demikian, jauh sebelum darinya, yakni hampir pada millenium pertama adalah seorang yang bernama Bernardo Chiaravalle menamakan Bunda Tuhan sebagai “l’affare di tutti secoli”, sosok yang penting di segala zaman.

Kesan seperti ini sesungguhnya sudah melekat kuat dalam hati umat beriman, kaum Kristiani pun sangat mengamini dan merasakan betapa Maria itu begitu dekat dan sangat terlibat, aktif dalam hidup beriman mereka. Berkenaan dengan ini, adalah tidak berlebihan bila menyoroti praktik hidup devosional kaum Kristiani terhadap Maria. Di situ bisa dilihat, diamati dan betapa dahsyatnya kerinduan hati mereka untuk datang kepada Maria, memohon rahmat-rahmat yang dibutuhkan demi kehidupan mereka. Begitu eratnya persatuan rohani antara umat dan Maria di satu sisi membuat kita sebagai orang Katolik (bahkan mungkin yang non Katolik) seakan-akan memandang dan menganggap sosok Maria sebagai satu- satunya figur yang paling utama dalam hidup beriman. Kemudian di sisi lain, persatuan yang demikian erat, mesra tersebut justru dipersepsi sebagai sesuatu yang ‘berlebihan’ karena ada yang beranggapan bahwa kehadiran Maria telah mengalahkan reputasi Puteranya sendiri Yesus Kristus yang adalah Juru Selamat dan Tuhannya (bdk. Kidung Magnificat Maria). Dualisme pemikiran ini mungkin saja menghibur, meneguhkan iman seseorang, tetapi bisa juga mengganggu dan mengacaukan keberimanannya. Oleh karena itu, adalah sangat penting dan amat berguna apabila kita belajar mengenal dan memahami siapakah Maria itu bagi umat Kristiani, terlebih lagi belajar mengerti dan memahami Maria dalam kacamata biblis dan menyelami peran serta kedudukannya dalam Tradisi iman Katolik atau dalam ajaran resmi (magisterium) Gereja Katolik.

II. Maria Berpartisipasi dalam Misteri Hidup Allah

Gereja secara sangat jelas menunjukkan bahwa Bunda Maria adalah sosok yang penting ketika ia berbicara tentang misteri Allah. Hal ini bisa dilihat dalam salah satu dokumen Gereja Lumen gentium (LG). Dalam LG 55, di sana dikatakan bahwa baik Kitab-kitab di dalam Perjanjian Lama maupun Kitab Perjanjian Baru, serta Tradisi yang agung, memperlihatkan peran Bunda Penyelamat dalam tata keselamatan. Hal ini tampak secara jelas disajikan untuk kemudian direnungkan. Dalam Kitab Nabi Yesaya, Maria telah dipersiapkan oleh Allah (ia dinubuatkan oleh Yesaya) menjadi Ibu Tuhan Yesus (lih. Yes 7:14; bdk. Mi 5:2-3). Nubuat atau ramalan ini secara konkret tampak dalam sebutan Maria sebagai Ibu yang melahirkan Yesus Kristus (bdk. Mat 1:22-23). Atas perkenaan Allah ini, maka Gereja merefleksikan bahwa Maria adalah wanita yang unggul di tengah umat Tuhan yang rendah dan miskin, yang penuh kepercayaan mendambakan serta menerima keselamatan dari pada-Nya. Ini berarti Bunda Maria, pada tempat yang pertama dalam Tata Keselamatan Allah telah dibidik, dipilih oleh Allah untuk menjadi Bunda Yesus Kristus. Konsili Suci mengatakan demikian: “Dialah yang unggul di tengah umat Tuhan yang rendah dan miskin, yang penuh kepercayaan mendambakan serta menerima keselamatan dari pada-Nya. Akhirnya, ketika muncullah ia, Puteri Sion yang amat mulia, sesudah pemenuhan janji lama dinanti-nantikan, genaplah masanya. Mulailah tata keselamatan yang baru, ketika Putera Allah mengenakan kodrat manusia dari padanya, untuk membebaskan manusia dari dosa melalui rahasia-rahasia hidup-Nya dalam daging.”

Dari kutipan tersebut, dapat dikatakan bahwa sesungguhnya Maria telah masuk dalam rencana besar Allah, ia telah menjadi sarana kehadiran atau kedatangan Allah di dunia, dia yang insani berkenan disucikan Allah untuk kemudian menampung Dia yang tidak dapat ditampung oleh semesta alam dalam rahimnya yang rendah dan bersahaja itu. Dengan demikian, menurut hemat penulis, Maria pun pantas dikatakan telah masuk atau berpartisipasi dalam misteri kehidupan Allah, tepatnya, ia telah masuk secara penuh dan utuh untuk bekerjasama dengan Allah. Hal ini bisa dilihat dalam “fiat” Maria yang begitu monumental nan mengagumkan itu: “Aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu….” (Lk 1:38). Pengarang Injil Lukas sebetulnya dengan mencatat hal itu tidak hanya sekedar menunjukkan bahwa Maria hanya berelasi (taat) kepada Sang Bapa, tetapi juga berelasi secara kuat dengan Yesus Kristus yang hendak dikandungnya. Andaikata demikian, maka menurut Jose Cristo Rey Garcia Paredes, Maria melakukan sesuatu yang penting di situ, yakni dia menunjukkan ketaatannya kepada puteranya yang adalah Tuhannya sendiri. Itulah sebabnya mengapa Maria menyebut dirinya sebagai “the Lord’s servant” (hamba Tuhan): ‘Aku ini hamba Tuhan.’ Sebagai ‘hamba Tuhan’, Maria lantas ingin menunjukkan bahwa selanjutnya dia juga tetap taat kepada Allah. Ketaatan Maria kepada Allah juga sebetulnya memperlihatkan kepada kita bahwa dia pun bersedia secara lepas-bebas (liberos) meninggalkan segala sesuatu, dan itu betul-betul ditunjukkannya. Maria tidak pernah berhenti atau menarik diri atau bersikap pasif terhadap kehendak Allah. Ia justru, dalam semangat kerendahan hati, penuh iman dan ketaatan yang dalam mempersembahkan hidupnya supaya selalu hadir dan terlibat aktif dalam perjalanan Puteranya, Sang Kebijaksanaan yang menjelma di sepanjang karier hidupnya.

Partisipasi Maria dalam misteri hidup Allah tidak hanya berhenti pada fase hidup tertentu. Partisipasinya dalam kehidupan Allah mulai tampak pada peristiwa Anunsiasi (Penjelmaan, 25 Maret), kemudian berlanjut dalam misteri Natal (25 Desember), saat di mana Sang Kebijaksanaan berkenan dikandung, dilahirkan dan masuk dalam ruang dan waktu manusia (bdk. Lk 2:1-7; Yoh 1:14, Gal 4:4). Dari sini bisa dilihat bahwa persatuan Bunda dengan Puteranya dalam karya penyelamatan Allah terungkap sejak saat Kristus dikandung olehnya sampai wafat-Nya. Pertama-tama, ketika Maria berangkat dan bergegas mengunjungi Elisabet, dan diberi ucapan salam bahagia olehnya karena Maria beriman akan keselamatan yang dijanjikan, dan ketika Yohanes melonjak gembira dalam rahim ibunya (lih. Lk 1:41-45). Kemudian pada saat kelahiran Yesus, Bunda Maria dengan penuh sukacita menunjukkan kepada para gembala dan para Majus Puteranya yang sulung, dan menurut Konsili, itu samasekali tidak mengurangi keutuhan keperawanannya, melainkan justru menyucikannya. Partisipasinya tidak hanya berhenti di situ, Maria tetap melibatkan diri, mengambil bagian dalam perjalanan hidup Allah tatkala Ia berada di Bait Allah. Segera setelah ia menyerahkan persembahan kaum miskin, menghadapkan-Nya kepada Tuhan, ia mendengarkan Simeon sekaligus menyatakan, bahwa Puteranya akan menjadi tanda yang akan menimbulkan perbantahan dan bahwa suatu pedang akan menembus jiwa Bunda-Nya, supaya pikiran hati banyak orang menjadi nyata (bdk. Lk 2:34- 35). Selain itu, Maria juga hadir (dengan segala kekuatirannya sebagai seorang ibu) mencari-Nya di tengah para peziarah. Ketika ia dan Yosef suaminya, mencari Putera mereka yang hilang, mereka menemukan-Nya di Bait Allah sedang berada bersama para ahli Kitab Suci sambil berdialog tentang perkara-perkara Bapa-Nya bersama mereka. Maria sebagai seorang ibu, samasekali tidak memahami apa yang dikatakan oleh Puteranya. Sekalipun demikian, ia menyimpan itu semua dalam hatinya dan merenungkannya (bdk. Lk 2:41-51).

Dalam hidup Yesus di muka umum, Maria pun masih setia menyertai Puteranya. Dokumen Konsili berkata: “tampillah Bunda-Nya dengan penuh makna, pada permulaan, ketika pada pesta Perkawinan di Kana yang di Galilea ia tergerak oleh belaskasihan, dan dengan perantaraannya mendorong Yesus Almasih untuk mengerjakan tanda-Nya yang pertama (lih. Yoh 2:1-11) … .” Kita dapat merefleksikan bahwa Maria memulai berkarya bersama Kristus Puteranya ketika Ia tampil di hadapan umum. Maria sungguh-sungguh percaya dan memasrahkan diri pada perkataan atau Sabda Puteranya. Dalam pewartaan Yesus, Maria menerima Sabda-Nya, ketika Puteranya mengagungkan Kerajaan di atas pemikiran dan ikatan daging serta darah, dan menyatakan bahagia mereka yang mendengar dan melakukan Sabda Allah (lih. Mrk 3:35 dan paralel; Lk 11:27-28), seperti dijalankannya sendiri dengan setia (lih. Lk 2:19.51).

Demikianlah Bunda Maria melangkah maju dalam peziarahan iman. Ia ingin menyertai Puteranya sampai akhir karya pelayanan-Nya di muka bumi. Dengan setia ia mempertahankan persatuannya dengan Puteranya hingga di salib, ketika ia sesuai dengan rencana Allah berdiri di dekatnya (lih. Yoh 19:25). Di situlah ia menanggung penderitaan yang dahsyat bersama dengan Puteranya yang tunggal. Dengan hati keibuannya, dan dengan kesetiaan serta kelemahlembutan kasihnya yang penuh rahim itu, ia menyatukan dirinya dengan korban Puteranya yang penuh kasih menyetujui persembahan korban yang dilahirkannya. Pada akhirnya Yesus Kristus juga, menjelang wafat-Nya di kayu salib, mengangkat Maria, Ibunya sebagai Bunda dari murid yang dikasihi-Nya, yang juga adalah simbol dari Bunda Gereja. Pada poin ini, Maria dikurniakan kepada Yohanes, murid itu menjadi Bundanya dengan kata-kata ini: “Ibu, inilah anakmu” (lih. Yoh 19:26-27).

Kehadiran Maria, keterlibatan Maria atau partisipasi Maria dalam Misteri Allah, tepatnya keikutsertaannya dalam banalitas hidup Puteranya pun dilanjutkan secara spiritual sesudah Ia bangkit dari kematian, naik ke surga. Dalam hal ini, bisa dikatakan bahwa misteri keselamatan dari Allah diwahyukan kepada manusia secara resmi ketika Maria dan para rasul lainnya berkumpul di Ruang Atas (Senakel) menantikan kedatangan Roh Kudus yang dijanjikan oleh Kristus. Penantian ini direfleksikan sebagai sebuah penantian penuh antusias (baca: passion) dan aktif, sebagaimana Maria itu senantiasa aktif dan bersemangat di dalam Allah. Melalui doa- doanya, Maria pun bersama para rasul lainnya memohon kurnia Roh (Kis 1:14) yang sebetulnya jauh sebelum itu ia sendiri sudah mengalaminya pada waktu peristiwa anunsiasi.

Bunda Maria, akhirnya tetap mengambil bagian dalam Misteri ilahi tatkala ia diangkat dengan jiwa dan raganya masuk ke dalam kemuliaan surgawi. Ini terjadi persis setelah pengembaraannya di muka bumi berakhir. Kita bisa mengutip beberapa pernyataan para paus tentang hal ini: “Akhirnya Perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat melalui kemuliaan di surga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan (lih. Why 19:16), yang telah mengalahkan dosa dan maut.”

Partisipasi Maria dalam keseluruhan hidup Allah menurut hemat penulis tidak hanya berhenti setelah ia diangkat dengan jiwa dan raganya ke Surga, akan tetapi tetap dilanjutkan atau Maria tetap menghidupinya bahkan setelah ia naik ke surga. Setelah masuk ke dalam Singgasana Puteranya, Maria masih menjadi corong kebaikan dan kasih kerahiman Bapa dan Puteranya ke dalam dunia. Maksudnya bahwa Maria tetap hadir bersama manusia sekalipun ia sudah berada di surga. Melalui penampakan - penampakannya secara fisik di beberapa tempat di berbagai belahan dunia, secara sangat sederhana itu bisa direfleksikan sebagai bukti nyata bahwa Maria tetap dipakai Allah. Ia tetap dilibatkan Allah untuk mengalirkan Kasih dan Cinta Kerahiman Allah bagi manusia, sebab melalui aneka penampakan itu, Maria secara langsung juga mengundang manusia untuk hidup dalam kasih dan kebaikan Allah, misalnya manusia diajaknya untuk memperbaiki tingkah-lakunya yang buruk (bertobat) dan hidup dalam dekapan Kasih Allah. Hal ini, yang secara spiritual pun masih menjadi keyakinan semua umat bahwa Maria tetap ingat dan meluluskan aneka permintaan manusia dalam doa-doa dan novena-novena yang diarahkan kepadanya. Di situ, bisa dilihat bahwa Maria memang seorang yang sungguh sangat dekat dengan Allah, dan tidak pernah membiarkan manusia merana dalam lembah duka nestapa. Itulah yang bisa kita lihat dan rasakan dalam doa yang diarahkan kepadanya, yang kemudian tetap menjadi keyakinan banyak umat Katolik bahwa Maria selalu hadir dan menyerati hidup manusia dan di dalamnya ia secara luar biasa mengalirkan Kerahiman Ilahi, Belaskasihan Allah bagi manusia yang membutuhkan. Doa-doa yang diarahkan kepadanya tidak pernah diabaikan, artinya Maria selalu mendengarkan dan mengabulkan keluh-kesah atau permohonan manusia. Doa klasik tentang permintaan manusia kepada Maria selalu dikabulkan, selalu menjadi doa favorit umat dan itu sudah muncul di abad ke-15, dan ini dikaitkan dengan St. Bernardus, pendiri Biara Monastik.

III. Maria dalam Misteri Kristus dan Gereja

Sebetulnya kalau sub ini dipikirkan secara terpisah atau tertutup dari misteri keilahian dalam kaitan dengan Bapa dan Roh Kudus, maka pada dasarnya pembicaraan tentang Maria tidak punya nilai apa-apa, sebab berbicara tentang Maria pasti selalu terkait dengan misteri Allah, tepatnya ia dipikirkan dalam hubungannya dengan Bapa, dengan Roh Kudus dan tentunya dengan Yesus Kristus. Meski demikian, pada poin ini kita tidak akan membahas semuanya itu, penulis hanya membatasi diri dengan mencoba mendalami kaitan antara Maria dengan Kristus dan Gereja sebagaimana tema yang disodorkan dalam tulisan ini. Tentu hal ini tidak bermaksud mengurangi makna relasi Maria dengan Allah Bapa dan Allah Roh Kudus.

1. Maria dalam Misteri Kristus

Berbicara tentang Maria dalam misteri Kristus pada dasarnya merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan karena Maria dan Kristus itu selalu terkait dan saling mengandaikan. Konstitusi Dogmatis Lumen gentium (LG) Bab VIII berjudul: “Santa Perawan Maria Bunda Allah dalam Misteri Kristus dan Gereja.” Judul ini sesungguhnya mengekspresikan sebuah hasil permenungan para Bapa Konsili mengenai tempat dan peran Bunda Maria. Permenungan mereka sebetulnya bertolak dari sebuah diskusi dan perdebatan yang panjang dan melelahkan tentang peran dan fungsi Maria di dalam misteri Kristus dan Gereja. Apa yang kemudian dikenal dengan Bab VIII Lumen gentium menyangkut peranan Maria dalam misteri Kristus dan Gereja, sebetulnya teks finalnya muncul dari suatu proses diskusi yang panjang dengan latar belakang teologis yang “agak” berbeda antara dua kelompok Bapa-bapa Konsili. Pertama, kelompok yang menekankan cristotipica (mariologi tipe Kristus); melihat Maria selaras-sejajar dengan Kristus. Kedua, kelompok yang mengedepankan ecclesiotipica (mariologi tipe Gereja); Maria masuk sebagai anggota Gereja.

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, judul Lumen gentium bab VIII adalah naskah diskusi (perdebatan) dari dua aliran: kelompok yang melihat posisi Maria berada di atas Gereja dan mereka yang melihat Maria dalam hubungannya dengan Gereja. Melalui sebuah proses pergumulan, permenungan yang panjang, diskusi tentang posisi Maria (apakah analog-selaras dengan Kristus atau berada di dalam Gereja), dengan itu Konsili justru ingin menunjukkan sebuah horizon baru tentang mariologi. Dengan penuh keyakinan, Konsili pada akhirnya menyatakan bahwa Maria tidak dilihat sebagai pribadi yang isolatif (cristotipica) sebagaimana yang ditegaskan oleh teologi pra-Konsili, akan tetapi justru dipersepsi sebagai figur yang memiliki persatuan-relasi yang erat dengan kaum Kristiani. Dalam konteks inilah, Maria direfleksikan oleh para Bapa Konsili sebagai anggota Gereja (ecclesiotipica). Sekalipun demikian, pada akhirnya kedua aliran itu dapat didamaikan dengan membicarakan Maria dalam kaitannya dengan misteri Kristus dan Gereja.

Dalam Bab VIII LG 52, Konsili Vatikan II dengan jelas menyatakan “setelah genap waktunya, Ia mengutus Putera-Nya, yang lahir dari seorang wanita … supaya kita diterima menjadi anak.” Kemudian dikatakan lagi, “Untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita Ia turun dari sorga, dan Ia menjadi daging oleh Roh Kudus dari Perawan Maria.” (Gal 4:4-5). Dari pandangan ini, dapat dikatakan bahwa ternyata relasi Bunda Maria dengan Kristus bersentuhan langsung dengan perannya sebagai Bunda Allah Putera yang sudah dimulai sejak Penjelmaan. Di dalam menjalankan peran itu, Maria melibatkan seluruh potensi dirinya. Keterlibatan aktif Maria diawali dengan menunjukkan rasa hormat dan tanggungjawabnya sebagai pribadi yang taat melalui “fiat”-nya kepada Allah: “Sesungguhnya, Aku ini adalah hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.” (Lk 1:38). Kualitas Maria dengan demikian dapat diverifikasi dengan baik sekali tatkala ia menjawab “ya” terhadap tawaran Allah. Dari sini bisa diamati bahwa pertautan antara Maria dan Kristus tampak kuat dalam relasi intim di antara keduanya. Maria menunjukkan kerja samanya yang aktif dengan Kristus yang segera dimulai pada saat Penjelmaan, seperti yang disimpulkan dalam Surat kepada Umat di Ibrani: “Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki - tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku” (Ibr 10: 5).

Penjelmaan (Inkarnasi) merupakan rencana dan kehendak bersama Allah Tritunggal yang bersifat tetap. Dalam terang pemikiran Santo Louis Marie Grignion de Montfort (selanjutnya disebut Montfort), semua misteri yang menyelamatkan justru mengalir dari misteri Penjelmaan, menurut rencana dan kehendak Allah. Sepanjang seluruh karya tulisnya, terutama tentang Perawan Suci, Montfort menegaskan prinsip Penjelmaan ini. Di sana Maria memperlihatkan perannya yang luar biasa besar dan mendalam.

Oleh karena ia menerima tawaran Allah, maka ia pun pantas menjadi Bunda Kristus. Di sini tampak sebuah relasi, kerja sama yang solid, utuh dan penuh cinta antara Allah dan Maria.

Apa yang menjadi kebundaan Maria tidak hanya dibatasi pada proses biologis dalam melahirkan, karena kebundaan itu mencakup juga dimensi lainnya, yakni dimensi psikologis dan dimensi spiritual. Maria tidak hanya sekedar menjadi seorang Bunda Allah begiu saja, dalam artian bahwa Allah hanya memperoleh tubuh manusiawi-Nya melalui dia lalu selesai. Kebundaan Maria justru mencakup beberapa dimensi lainya, yakni jiwa, kehendak, akal budi, hati, serta seluruh hidupnya. Jacques bur menulis: “The motherhood of Mary is not limited to the biological process of giving birth, since it carries with it a psychological and spiritual dimension. Mary did not become mother of God only found his human body through her. Mary’s motherhood involved the whole of her soul, her will, her intelligence, her heart, her whole being.” Menurutnya, Inkarnasi itu terjadi atau terlaksana bukan karena kehendak pribadi Maria. Ia justru menerima secara bebas peran sebagai ibunda Kristus; menyetujuinya dengan mengatakan ‘ya’. Jawaban bebas ini memungkinkan Maria mampu bekerja sama dengan Allah tanpa syarat.

Jacques Bur melihat bahwa Konsili Vatikan II menekankan secara kuat persetujuan bebas Maria sebagaimana yang diperlihatkannya pada waktu Peristwa Anunsiasi: “Adapun Bapa yang penuh belas kasihan menghendaki supaya penjelmaan didahului oleh persetujuan dari pihak dia yang telah ditetapkan menjadi Bunda-Nya.” (LG 56) Menurutnya, Allah meminta Maria agar bisa menjadi rekan kerja Allah; dalam konteks ini, Ia samasekali tidak membuat Maria sebagai sebuah instrument atau alat impersonal, yang samasekali tidak memiliki kehendak. Ringkasnya, Maria tidak dijadikan sekadar ‘boneka’ atau ‘robot’ buatan Allah yang tinggal dikontrol, dikendalikan secara otomatis. Justru sebaliknya, Maria dalam kehendak bebasnya dan penuh iman, ia menjawab tawaran Allah. Bagi Jacques, tindakan iman Maria ini merupakan sebuah konsekuensi rahmat panggilan pribadinya. Jadi, bisa dilihat bahwa betul seperti dikatakan Jacques bahwa Maria melepaskan kehendak pribadinya hanya untuk kemudian mengenakan (mengikuti) Kehendak Allah. Sembari mengutip pandangan St. Agustinus, Jacques meyakini bahwa Maria mengandung Kristus dalam rohnya sendiri oleh karena berkat imannya sebelum ia melahirkannya. 

Apabila kita melihat pilihan Allah dan jawaban Maria tersebut, maka sesungguhnya Maria telah berpartisipasi aktif dalam misteri hidup Kristus sendiri. Sekalipun dia adalah ibunda-Nya, kita perlu menyadari – samaseperti keyakinan Gereja Katolik – bahwa Maria bukan hanya ibu secara jasmaniah, melainkan juga secara rohaniah (bdk. Yoh 19:26-27). Paus Paulus VI menyebutnya sebagai “Mestra di vita spirituale” (Guru kehidupan rohani). Ia adalah seorang ibu sejati, ibunda manusiawi Yesus yang sungguh bertanggung jawab. Kendatipun dia tidak mempunyai relasi badani dengan Yosef untuk menjadi seorang ibu, dalam kebebasan dan kehendaknya yang murni, mau menerima dan melaksanakan peran keibuannya. Oleh karena hal itu, maka sesungguhnya kita pun dapat berbicara mengenai keibuan yang sungguh bertanggung jawab (responsible human motherhood).

Kedekatan relasi Bunda Maria dan Tuhan Yesus juga diungkapkan oleh penginjil. Hal ini bisa ditelusuri dalam Matius: “Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. …” (Mt 2:11). Selain di dalam ayat ini, kita juga dapat menemukan penyebutan Maria sebagai Ibu Yesus di dalam Matius 1:18; 2:13, 14, 20, 21; 12: 46; dan 13: 55.

Partisipasi Maria dalam karya agung Allah tersebut menegaskan makna keterbukaan hatinya kepada tawaran kasih Allah di dalam peristiwa Penjelmaan (bdk. Lk 1:38). Ia sangat rendah hati dan taat pada Kehendak Allah, dan oleh karena itu, dengan mudah pula ia menjalankan perintah- perintah-Nya.

2. Maria dalam Misteri Gereja

Katekismus Gereja Katolik art. 963 menggambarkan dengan sangat jelas perihal keibuan Maria dalam hubungan dengan Gereja, dan ini mengalir dari sifat keibuannya terhadap Kristus dan persatuannya yang tetap, utuh serta tak tergantikan dengan-Nya. Persatuan ini, sebagaimana dinyatakan dengan jelas oleh Lumen gentium: “Terungkap sejak saat Kristus dikandung oleh Santa Perawan Maria hingga wafat-Nya.” Kesatuan yang tak terpisahkan itu justru menjadikan Maria sebagai seorang Bunda baik sebagai Bunda Kristus maupun sebagai Bunda Gereja. Ia menjadi Bunda Gereja dari orang-orang beriman sebagai yang pertama dalam tatanan rahmat. Santo Agustinus, malahan mengatakan demikian bahwa Maria sungguh-sungguh telah menjadi “Bunda para anggota Tubuh Mistik Kristus … karena dengan cinta kasih, ia menyumbangkan kerja samanya, sehingga dalam Gereja lahirlah kaum beriman, yang menjadi anggota-anggotanya dari kepalanya, yaitu Kristus.” Sekalipun Maria adalah Bunda Gereja, ia tetap saja dipandang sebagai anggota Gereja, meskipun “seutuhnya ia seorang yang sangat luar biasa dan istimewa.” Maria menjadi “saudari” seluruh anggota Gereja karena hakekat kemanusiaannya. Ia menjadi yang unggul di antara anggota yang lain dan juga menjadi teladan mereka.

Sebagaimana diketahui bahwa Konsili Vatikan II dengan jelas memandang Maria sebagai pribadi yang tidak terisolir dari Gereja atau sosok yang berada jauh di atas Gereja – sebagaimana tendensi teologi pra- konsili – melainkan justru menjadi bagian utuh dari Gereja, tepatnya menjadi anggota Gereja. Ia masuk di dalam persekutuan bersama anggota Gereja yang lain. Dengan demikian, sebetulnya Konsili secara telak menggarisbawahi arti penting kehadiran Maria di dalam Gereja. Hal itu sudah dipaparkan dalam bab khusus dari konstitusi dogmatik Lumen gentium bab VIII seperti yang sudah disinggung pada poin sebelumnya. Pentingnya Maria di dalam Gereja sungguh tampak di mana kepadanya seluruh anggota Gereja dipanggil untuk memandangnya secara istimewa dengan memberikan suatu penghormatan khusus atau istimewa. Dalam konteks ini, Gereja patut menghormati Maria karena derajat, statusnya yang unggul dan mulia dari segala malaikat dan manusia. Maria dengan demikian adalah contoh teladan Gereja dalam misinya sebagai umat beriman yang sedang berziarah. Para Bapa Konsili berkata: “Berkat rahmat Allah, Maria diangkat di bawah puteranya, di atas semua malaikat dan manusia, sebagai Bunda Allah yang tersuci, yang hadir pada misteri-misteri Kristus; dan tepatlah bahwa ia dihormati Gereja dengan kebaktian yang istimewa… .”

Kultus (kebaktian) ini dikhususkan oleh Gereja untuk menghormati Bunda Allah. Menurut Corrado Maggioni, SMM, – pakar liturgi yang kini bekerja di Vatikan Roma – Maria itu pantas dimuliakan sesudah puteranya melampaui para malaikat dan manusia oleh karena ia memperoleh rahmat Allah dan sesungguhnya karena ia adalah Bunda Allah yang sudah mengambil bagian di dalam misteri-misteri Kristus. Inilah alasan dasarnya mengapa kultus tersebut ditujukan kepada Maria.  Gereja memberikan kebaktian yang khusus kepada Maria oleh karena ia adalah seorang kudus. Kultus yang diarahkan kepadanya sesungguhnya merupakan suatu bentuk penghormatan yang begitu istimewa dan sangat berbeda dengan kultus yang diarahkan kepada Allah Tritunggal. Alasannya ialah karena “penyembahan” itu hanya diberikan kepada Allah Tritunggal dan kepada Maria hanya diberikan suatu “penghormatan” (veneration- hyperdulia).

Berkenaan dengan ini, dikatakan bahwa sebetulnya kultus marial tidak lahir belakangan, akan tetapi sudah sejak awal dihidupi dalam Komunitas Kristiani. Dalam Perjanjian Baru kita dapat menemukan beberapa indikasi atau gejala devosi marial yang menunjukkan geliat atau bentuk penghormatan kepada Maria (bdk. Lk 1:42.45; 11:27). Selanjutnya, kultus marial ini berkembang secara luar biasa ke Konsili Efesus (430), di mana para Bapa Konsili saat itu berkata:

“…sejak Konsili di Efesus, kebaktian Umat Allah terhadap Maria meningkat secara mengagumkan, dalam penghormatan serta cinta kasih, dengan menyerukan namanya dan mencontoh teladannya menurut ungkapan profetisnya sendiri, “Segala keturunan akan menyebutku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan karya-karya besar padaku” [Lk1:48].

Kultus marial ini dipraktikkan oleh karena Maria memiliki dimensi keibuan ilahi (her divine maternity) dan itu sudah dikenal, dihayati dalam hidup Gereja sejak zaman paling kuno (fin dai tempi più antichi). Kultus marial (kebaktian marial) – sebagaimana yang dikatakan oleh Konsili dalam no. 66 – mengandung empat (4) kata sifat: veneration, love, invocation dan imitation (penghormatan, cinta, seruan dan mencontoh teladannya). Dengan kata lain, jikalau kita berbicara tentang kebaktian Umat Allah kepada Maria, maka keempat kualifikasi itu mestinya diingatkan dan selayaknya diapropriasi (diintegrasikan) di dalam kehidupan sehari-hari. Unsur “penghormatan” (veneration) itu dikombinasikan dengan dimensi “cinta (love), khususnya dengan sikap sebagai seorang anak terhadap seorang ibu. Dalam konteks ini, penghormatan kepada Maria senantiasa dihayati dalam semangat kasih sayang kepadanya. Menurut Corrado Maggioni, “seruan” (invocation) akan nama Maria sebagai Bunda Allah diikuti dengan sikap meneladani (imitation) keutamaan-keutamaannya. Itu berarti bahwa setiap orang yang hendak memohon kepada Maria, hendaknya mencontohi, meniru keutamaan-keutamaan Maria. Dari sini dapat digarisbawahi bahwa devosi kepada Maria – dalam konteks seperti ini – tak bisa terpisah dari keempat kualifikasi tadi. Itulah sebabnya mengapa devosi marial pada hakekatnya bukan suatu bentuk pengabdian, penghormatan yang dicirikan oleh tindakan-tindakan lahiriah belaka, melainkan terutama bersentuhan langsung dengan relasi mesra dengan Maria yang termanifestasi dalam sikap batiniah yang terarah kepadanya (menerimanya secara intim) sehingga dia pun dapat hidup di dalam diri kita. Tentang ini, Maggioni mengatakan bahwa devosi kepada Maria dalam ekonomi keselamatan itu bukan menyangkut hal-hal lahiriah, melainkan soal penerimaan kehadiran Maria secara intim sembari membiarkannya hidup dalam eksistensi hidup sehari-hari.

Apa yang dikatakan oleh para Bapa Konsili dalam LG 66 tentang keempat sifat tersebut; veneration, love, invocation, dan imitation terhadap Maria didorong oleh tindakan Allah bagi setiap orang dalam hidupnya masing-masing. Kebaktian ini sebetulnya tidak hanya dirasakan dan dialami oleh orang-orang tertentu saja, akan tetapi seluruh keturunan dari Adam. Itulah sebabnya mengapa Maria dalam Kidung Pujiannya (Magnificat) mengarahkan penghormatannya kepada Allah.

Dalam terang LG 66, pakar liturgi, Maggioni memahami bahwa sebetulnya ada perbedaan antara kebaktian (kultus) Marial dan penyembahan kepada Allah. Dijelaskan bahwa devosi kepada Maria adalah sesuatu yang bersifat mendasar, demikian juga penyembahan kepada Allah. Dalam konteks ini, dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya Maria itu adalah seorang manusia biasa seperti manusia lain dan itu jelas menunjukkan bahwa ia bukan seorang Allah. Dari sebab itu, penghormatan baginya bukanlah suatu bentuk penyembahan yang diwajibkan kepada Allah. Ringkasnya, kultus marial tidak bisa disejajarkan dengan kultus yang seharusnya diberikan kepada Allah. Maggioni menulis:

“Maria non è Dio, la sua venerazione non è come l’adorazione dovuta a Dio; tuttavia, il culto mariano non si colloca parallelamente al culto che ha Dio per fonte e destinatario, ma “dentro” l’attaggiamento cultuale che vincola l’uomo a Dio, ed ha il preciso scopo di promuoverlo, ossia di condurre ad offrire a Dio il culto che egli gradisce. In tal senso, il culto mariano è da interpretare nell’alveo del culto proprio della Chiesa di Cristo, giacché è ordinato e orientato a Dio” (Maria bukanlah Tuhan, penghormatannya tidak seperti penyembahan yang diharuskan kepada Allah; meskipun demikian, kebaktian Marial tidak sejajar dengan kebaktian (penyembahan) yang dimiliki Allah, tetapi “di dalam” daya tarik kebaktian yang mengikat manusia kepada Tuhan, dan memiliki tujuan khusus untuk memromosikannya, yakni mengarah pada tawaran bagi Allah, kebaktian yang berkenan padanya. Dalam pemahaman ini, kebaktian Maria harus ditafsirkan dalam kebaktian Gereja Kristus yang tepat, oleh karena ia disucikan dan berorientasi pada Allah”).

Dari pemaparan di atas dapat dikatakan pula bahwa penghormatan kepada Maria mestinya diaktualisasikan dengan cara menempatkan Injil secara baik dan benar dalam praksis hidup sehari-hari. Itu berarti hakekat dari suatu devosi, apakah itu baik dan benar atau salah mesti menjadi bahan evaluasi yang harus dicermati dengan baik dalam realitas hidup iman umat. Selain nomor 66, kultus marial (kebaktian kepada Maria) dapat ditemukan pula dalam nomor 67. Kutipan panjang artikel ini dapat dilihat sendiri dalam dokumen tersebut. Dalam nomor ini, para Bapa Konsili berbicara tentang norma-norma pastoral (the pastoral norms). Ada tiga unsur penting yang dapat digarisbawahi dalam nomor ini. Bagian pertama berbicara tentang rekomendasi Gereja bagi para Gembala dan kaum awam. Rekomendasi ini dibagi lagi ke dalam tiga bagian: pertama, berbicara secara khusus tentang “kebaktian kepada Santa Perawan, terutama yang bersifat liturgis” (especially the liturgical cult, of the Blessed Virgin). Kedua, berbicara tentang “penghargaan terhadap praktik-praktik dan pengalaman bakti kepadanya, yang di sepanjang zaman telah dianjurkan oleh wewenang mengajar Gereja” (the admonition to have the practices of piety and the pious marian exercises which is recommended over the centuries by the Magisterium). Ketiga, berbicara tentang observasi mengenai tradisi gerejawi di seputar gambar-gambar kudus. Selanjutnya, bagian kedua berbicara tentang anjuran bagi para teolog serta pewarta Sabda Allah agar dalam memandang martabat Bunda Allah yang istimewa, mereka juga secara sungguh-sungguh mencegah segala ungkapan berlebihan dan palsu seperti juga kepicikan batin. Bagian ketiga berbicara tentang rekomendasi atau anjuran bagi kaum beriman agar mengembangkan bakti yang sejati kepada Maria.

Melalui pemahaman di atas, praktik bakti yang sejati kepada Maria akan memungkinkan kaum beriman memahami dan menyadari dua aspek penting, yakni mengenal keunggulan (baca: keistimewaan) Maria dan dihantar pada suatu ungkapan kasih sayang seorang anak kepada Maria seraya meneladani keutaman-keutamaannya. Sebagai anggota Gereja, setiap orang Kristen diajak untuk meneladani Maria, sebab seperti sudah dijelaskan sebelumnya bahwa oleh Gereja Maria merupakan teladan bagi umat Allah yang masih dalam ziarah iman mereka akan pengharapan dan penghiburan di dunia yang akan datang, yang terus dinantikan itu.

Penutup

Dari pemaparan sebelumnya, kita dapat mengatakan beberapa hal. Tak dapat dipungkiri keyakinan ini bahwa antara Maria dan Gereja ada hubungan yang sangat erat (indissolubility) dan memainkan peran yang tak tergantikan di dalamnya. Menurut teolog Italia Angelo Amato, Maria pada dasarnya memiliki peran yang tak dapat disangkal lagi dan tak tergantikan (an undeniable and irreplaceable role). Dalam konteks ini, tidak mengherankan kemudian dengan sangat mantap Gereja selain menyatakan bahwa Maria adalah Bunda Gereja juga memproklamirkan dirinya sebagai typus Gereja (citra Gereja). Maria menjadi typus Gereja terutama karena dalam hal iman, kasih dan persatuannya dengan Kristus. Antara Maria dan Gereja ada titik temunya dalam hal “kebundaan.” Sebagaimana Maria dalam iman dan ketaatan menerima tawaran Allah dan kelak melahirkan Kristus, Kepala Gereja, demikian juga Gereja. Gereja terus-menerus melahirkan anggota-anggota Kristus dalam rangka iman kepercayaan melalui pewartaan dan permandian.

Maria menjadi typus Gereja juga dalam hal keperawanan. Sebagaimana Maria mengabdikan seluruh pribadinya pada cinta, pelayanan Ilahi dan tetap beriman pada Allah, demikian juga Gereja. Gereja tetap perawan dengan menjaga kemurnian iman, harapan yang kokoh dan cinta kasih yang berkobar-kobar. Jadi, Maria pantas menjadi model hidup Gereja. Kesatuannya dengan Kristus yang tak terpisahkan itu, tampak juga dalam relasinya dengan Gereja. Maria tidak lagi dilihat sebagai sosok yang jauh dari Gereja atau berada di atas Gereja, tapi justru menjadi begitu dekat dan bersatu dengan Gereja, berada di dalamnya sebagai anggota yang paling unggul dan istimewa. Keunggulan dan keistimewaannya inilah yang kemudian patut dijadikan model hidup, teladan hidup bagi kaum Kristiani. Hal itu berarti, bagi semua orang beriman, Maria merupakan contoh hidup yang mengilhami semua keutamaan dan pola kegiatan kerasulan di dalam Gereja.

Dengan meneladani Maria, Gereja dipersatukan dengannya dan dengan cara demikian disatukan pula dengan Kristus (Maria associata a Cristo), Puteranya. Inilah tujuan defenitif Gereja. Maria dengan demikian dipandang sebagai tokoh atau figur dan realisasi Gereja dalam tahap eskatologis, merupakan sumber yang menggembirakan sekaligus meyakinkan Gereja dalam ziarah panjangnya di dunia ini. Pada akhirnya, Konsili memberi pedoman praktis tentang devosi kepada Maria dan menganjurkan agar setiap orang Kristen tak jemu-temunya berdoa dengan perantaraan Maria. Kepengantaraannya samasekali tidak menghilangkan atau mengaburkan kepengantaraan tunggal satunya-satunya Yesus Kristus (1 Tm 2:5-6) [bdk. LG 67].

Daftar Rujukan

Magisterium Gereja

DOKUMEN KONSILI VATIKAN II, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, Lumen gentium, Dokumentasi dan Penerangan KWI, Obor, Jakarta 2002.
PIUS IX, Bulla Ineffabilis, 8 Desember 1854: Acta Pii IX, I, I, 616: DENZ. 1641 (2803).
PIUS XII, Ensiklik Mystici Corporis, 29 Juni 1943.
PIUS XII, Konstitusi Apostolik Munificentissimus, 1 November 1950: AAS 42 (1950).
PIUS XII, Ensiklik Ad coeli Reginam, 11 Oktober 1954: AAS 46 (1954).
PAULO VI, Esortazione apostolica per il retto ordinamento e sviluppo del culto della Beata Vergine Maria, Marialis Cultus n. 21 (2 febbraio 1974), in Enchiridion delle Encicliche [=EE], EDB, Bologna 1979.
GIOVANNI PAOLO II, Lettera enciclica sulla Beata Vergine Maria nella Chiesa in cammino, Redemptoris mater n. 48 (25 marzo 1987), in Enchiridion delle Encicliche (= EE], EDB, Bologna 1998, vol. 615-774.

Buku-buku dan Artikel

AMATO, A., Maria la Theotokos. Conoscenza ed esperienza, Libreria Editrice Vaticana, Città del Vaticano 2011.
BUR, JACQUES, How to Understand the Virgin Mary, SCM Press Ltd, 26- 30 Tottenham Road, London N1 4BZ 1994,
COYLE, KATHLEEN, Mary in the Christian Tradition, Contemporary Perspectives, Claretian Publications, Quezon City 1993.
CHACON, FRANK– JIM BURNHAM, Pembelaan Iman Katolik 3. Menanggapi Keberatan dan Serangan tentang Maria, Fidei Press, Jakarta 2003.
DE FIORES, STEFANO, Chi è per noi Maria? Riposta alle domande più provocatorie, Edizioni san Paolo, Cinisello Balsamo, Milano 2001.
DE MONTFORT, L. M. GRIGNION, Traité de la vraie devotion a la Sainte Vierge, dans M. GENDROT (sous la direction), Œuvres completes de saint Louis-Marie Grignion de Montfort, Éditions du seuil, Paris 1966.
  , Bakti Sejati kepada Maria, terj. Mgr. ISHAK DOERA, Pr, Serikat Maria Montfortan, Bandung 2000.
GARCIA PAREDES, JOSE CRISTO Rey, Mary and the Reign of God, A Synthesis of Mariology, terj. JOSEF DARIES, CMF - JOSEFINA MARTINEZ, MMB, Claretian Publications, Quezon City 1988.
GREELEY, A., I grandi misteri della fede. Un catechismo essenziale, Queriniana, Brescia 1978.
HAUKE, MANFRED, “The Mother of God” in MARK MIRAVALLE  (ed.),
Mariology: A Guide for Priests, Deacons, Seminarians, and Consecrated Persons, ttt.
KASPER, W., Jesus the Christ, Paulist Press, New York 1976.
MAGGIONI, C., “Il rapporto della Chiesa con Maria: culto e forme di devozione nel capitolo VIII della Lumen gentium”, in E. M. TONIOLO (a cura di), Maria nel concilio. Approfondimenti e percorsi a 40 anni dalla “Lumen gentium”, Centro di Cultura Mariana “Madre della Chiesa”, Roma 2005.
PERRELLA, S. M., “Percorsi teologici postconciliari: dalla Lumen gentium ad oggi”, in E. M. TONIOLO (a cura di), Maria nel concilio, approfondimenti e percorsi, Centro di Cultura Mariana, “Madre della Chiesa”, Roma 2005.
RUBIN, M., Mother of God: A History of the Virgin Mary, Yale University Press, New Haven, Conn 2009.
TONIOLO, E., La Beata Maria Vergine nel Concilio Vaticano II. Cronistoria del Capitolo VIII della Costituzione dogmatica “Lumen gentium”, e sinossi di tutte le redazioni, Centro di Cultura Mariana “Madre della Chiesa”, Roma 2004.

Tesis

WOTAN, FIDELIS B., Semana Santa and Devotion to Tuan Ma (Mary, Mater Dolorosa): An Inheritance of Faith in the Work of Evangelization of Dominican Missionaries in Larantuka, Flores-Indonesia, Thesis Submitted in Partial of the Requirements for the Licenciate in Sacred Theology with Specialization in Mariology, Pontifical Faculty of Theology, Marianum, Roma 2018.
×
Berita Terbaru Update