-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PILIHAN YANG ARIF

Selasa, 31 Maret 2020 | 20:34 WIB Last Updated 2020-04-01T06:38:09Z
PILIHAN YANG ARIF
Romo Edy Minori, Pr

Oleh: Romo Edy Minori, Pr

Hidup adalah pilihan. Dalam arti kehidupan ini selalu menawarkan kepada kita aneka pilihan. Suka atau tidak suka, gampang atau sulit, beresiko atau tidak ada resikonya kita tetap diminta untuk memilih.

Dalam kehidupan harian misalnya, kita harus memilih baju warna apa dan model apa yang kita pakai. Kita harus memilih jenis makanan tertentu dari sekian menu makanan yang tersedia. Kita harus memilih satu dari sekian calon untuk menduduki kursi DPR. Kita harus memilih satu dari calon-calon yang bersaing untuk dipilih rakyat. Tidak memilih memang hak kita juga. Tetapi hal ini bukan tanpa konsekuensi. 

Bila kita tidak memilih menu makanan yang tersedia, alias tidak makan, kita akan kelaparan. Bila kita tidak memilih pakaian yang sesuai, kita tidak 'pede' untuk tampil. Bila kita tidak memilih dalam pemilu maka kita tidak punya andil dalam mengusahakan hadirnya pemimpin yang baik. 

Pilihan kita mencerminkan keinginan, kepentingan, kebutuhan dan keyakinan pribadi. Kita memilih bisa karena kita suka atau karena kita punya kepentingan tertentu atau kita merasa pilihan tersebut sangat dibutuhkan oleh orang banyak atau kita yakin orang yang kita pilih itu baik dan bisa dipercayai. 

Kedewasaan dan kearifan kita dalam memilih ditentukan oleh alasan kita memilih. Pilihan yang egois akan mengedepankan pertimbangan subyektif- emosional. Pilihan yang menimbang kualitas dan kompetensi dari yang dipilih tergolong pilihan yang rational. Pilihan yang menimbang dampak dari pilihan tersebut bagi kebaikan banyak orang dan kedamaian dalam hidup bersama adalah pilihan yang arif dan dewasa. 

Sang Guru Agung masuk kota Yerusalem menjemput kematian. Ia memilih mengorbankan dirinya demi keselamatan umat manusia. Pilihan yang menimbang kehendak Bapa di Surga dan kebaikan semua orang. 

Kita akhirnya menikmati keselamatan karena pilihan sang Guru yang beresiko untuk diriNya. Ia tidak sayang pada dirinya, pada keluarganya, pada kepentingan pribadinya. Malahan semua itu dikorbankan demi kebaikan umat manusia.

Kita dihadapkan pada sebuah pilihan yang penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yakni PEMILU. Suasana menjelang paska kiranya menandai suasana batin kita. Semangat pengorbanan Sang Guru Agung menginspirasi kita untuk berpikir dan berkorban demi kedamain, kesejahteraan dan kejayaan bangsa Indonesia. Tinggalkan kepentingan sempit Partai (dan partai yang berkepentingan sempit), keluarga, suku dan agama untuk kepentingan yang lebih besar yakni kepentingan bangsa Indonesia.
×
Berita Terbaru Update