-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Politik: Semakin Kotor Semakin Nikmat?

Jumat, 20 Maret 2020 | 08:22 WIB Last Updated 2020-03-20T01:22:57Z
Politik: Semakin Kotor Semakin Nikmat?
Sil Joni

Oleh: Sil Joni 

Kita sering mendengar 'anggapan umum' bahwa politik itu identik dengan 'penipuan'. Anggapan itu tentu berimplikasi pada 'suramnya citra diri (self-image)' seorang politisi. Politisi, seturut logika common sense di atas, berkonotasi pembohong.

Asumsi di atas, hemat saya tidak sepenuhnya salah jika dikonfrontasikan dengan dunia politik saat ini. Praksis politik kita masih diwarnai oleh perilaku yang manipulatif dan distortif.

Domain politik sepertinya mendapat 'previlese' untuk memamerkan dusta politik secara kreatif. Hanya dalam dunia politik (kekuasaan), kita dengan bebas 'memuntahkan aneka janji politik' yang kebanyakan tidak ditepati. Para politisi berkompetisi mengkreasi narasi politik yang bernuansa 'harapan' pada publik. Padahal, umumnya mereka hanya pandai menebar harapan palsu.

Ada semacam 'postulat' yang diterima begitu saja bahwa seorang politisi 'mesti' bermetamorfosis menjadi 'seekor ular yang licik'. Kita dituntut untuk memperagakan kreativitas iblis jika ingin mendapatkan kursi kekuasaan. Politik yang selaras dengan moralitas dan hati nurani, tak laku dalam pasar politik. Orang yang jujur, polos, dan naif, jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan 'kursi kekuasaan' itu.

Luangkan waktu sejenak untuk merenung tentang 'esensi politik' dan serentak memotret praksis politik para elit di kekinian. Apakah antara 'esensi' dan aplikasi itu selalu sinkron atau justru berbanding terbalik?

Tanpa bermaksud merayakan skeptisisme, agaknya kita sedang menyaksikan 'penggilasan' nilai luhur politik oleh para politisi yang terlampau 'terpukau' dengan kekuasaan. Nafsu merebut kuasa dijadikan 'pandu' dalam mendesain dan mengeksekusi rupa-rupa trik, tipu muslihat, manuver dan siasat licik yang tersaji pada panggung politik kita saat ini.

Politik sebagai 'instrumen'  untuk memperbaiki dan mengubah wajah kemaslahatan publik (bonum commune), hanya terpajang dalam etalase akademik dan sekadar menjadi 'menu diskursus' intelektual dalam pelbagai forum dan kanal diskusi publik. Dimensi kesucian politik nyaris tidak pernah 'menari secara elegan' dalam lapangan politik kita. Wajah politik kita masih belepotan dengan 'lumpur koruptif' dan debu egoisme dan pragmatisme yang akut.

Namun, sisi paradoksnya terlihat begitu terang. Bahwasannya semakin panggung politik itu kotor, para politisi semakin 'tergoda' untuk mengais kenikmatan dalam lapangan yang kotor itu. Daya tarik politik, dengan demikian, tidak terletak pada keluhuran maknanya, tetapi 'noda negatif' yang mesti dipeluk kala bergelut dalam bidang itu.

Kendati demikian, saya kira tidak fair juga jika kita 'melimpahkan kesalahan itu' pada para politisi. Saya kira, keterpikatan para aktor politik untuk 'melabrak' rambu-rambu etis, boleh jadi disebabkan oleh sistem politik yang koruptif. Sistem dan budaya politik itulah yang 'memaksa' seorang politisi bertindak curang dalam menggapai ambisi dan interes politik personalnya.

Selain itu, kita tetap optimis bahwa masih banyak politisi yang 'setia' mengusung politik nilai dalam perjuangan mereka. Tugas publik adalah 'mendorong' politisi yang berintegritas itu untuk menjadi pemimpin politik.

Bagaimana pun juga harus diakui bahwa politik adalah 'jalan' menuju kebahagiaan di dunia ini. Hanya dalam dan melalui politik, impian akan 'kebaikan bersama', bisa termanifestasi. Politik, meminjam bahasa teologi Katolik, merupakan 'sakramen', tanda penyaluran rahmat Allah kepada manusia.

Para politisi,  dengan demikian menjadi 'bentara rahmat Allah' itu melalui rupa-rupa proyek yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan publik. Politik tidak boleh dimaknai sebagai kesempatan untuk berenang dalam 'lumpur kenikmatan' yang bersifat sesaat.

Kenikmatan yang orisinal dan paripurna itu, tidak dikecap pada medan politik yang kotor, tetapi di panggung politik yang diterangi oleh 'cahaya nilai etis-religius'. Karena itu, politik mesti digerakan dan bergerak di atas basis nilai moral sehingga 'dimensi' kebaikan publik bisa terwujud. Egoisme dan oportunisme dalam politik, bisa diminimalisasi.

Penulis adalah warga Mabar, tinggal di Labuan Bajo
×
Berita Terbaru Update