-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Puisi-Puisi Romantis Indah Patmawati: Manifestasi Cinta dan Kerinduan

Selasa, 10 Maret 2020 | 23:16 WIB Last Updated 2020-03-11T04:59:59Z
Puisi-Puisi Romantis Indah Patmawati:  Manifestasi Cinta dan Kerinduan
Ilustrasi; google

Oleh: Agung Pranoto

"Hidup tanpa cinta laksana sebuah pohon tanpa bunga dan buah. 
Cinta tanpa keindahan laksana bunga tanpa keharuman dan laksana buah tanpa biji.
Hidup, cinta, dan keindahan adalah tiga perkara dalam satu inti, 
yang berdiri sendiri, mutlak dan tidak bisa dipindahkan atau diubah".
   Kahlil Gibran 

Kahlil Gibran merupakan sastrawan dunia yang karya-karyanya mendapatkan tempat tersendiri bagi pencinta romantisme dan keindahan. Semua karya yang ia tulis puitis.

Kutipan yang mengawali tulisan ini sungguh betapa hebatnya seorang Kahlil Gibran di dalam membangun kata menjadi rangkaian kalimat yang indah dan puitis.

Bagaimana ia memaknai hidup? Bagi Kahlil Gibran, “hidup tanpa cinta laksana sebuah pohon tanpa bunga dan buah; cinta tanpa keindahan laksana bunga tanpa keharuman”, dan seterusnya.

Hal ini berarti di dalam diri Kahlil Gibran terpancar jiwa yang romantis. Atau bisa dikatakan bahwa Kahlil Gibran di dalam karya-karyanya beraliran romantisme. 

Romantisme adalah aliran kesusasteraan (kesenian) yang menurut H.B. Jassin sebagai reaksi terhadap rasionalisme (Rampan, 1999:7).

Romantisme mementingkan curahan perasaan yang indah dan menggetarkan yang diungkapkan melalui diksi dan gaya bahasa indah, puitis, dan kadang mendayu-dayu.

Aliran romantisme muncul dari Eropa Barat pada abad ke-18. Salah seorang tokoh aliran Romantisme ialah Victor Marie Hugo.

Ia adalah penyair Romantisme yang sangat terkenal di Perancis pada abad ke-19; dan  karya puisinya yang dianggap sangat menonjol di Perancis adalah “Les Contemplations” dan “La Légende Dessiècles”. Aliran romantisme lalu berkembang di dunia, termasuk di Indonesia.

Di Indonesia misalnya, puisi-puisi romantisme era 1935-1939 dalam majalah Poedjangga Baroe sarat dengan pengungkapan yang romantic dan mendayu-dayu.

Peneliti Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Sastri Sunarti (2016) menyatakan bahwa

Romantisisme dalam puisi-puisi tahun 1935--1939 ini dipelopori oleh sekelompok pengarang tahun 20-an yang menyebut diri mereka sebagai penyair pra romantik seperti M. Yamin, Rustam Effendi, Am.Dg. Mijala, dan dilanjutkan oleh Amir Hamzah, J.E. Tatengkeng, Armijn Pane, Sanusi Pane, Yogi, Selasih Selaguri, dan beberapa penyair lainnya.

Penyair dari kelompok kedua ini termasuk penyair yang produktif dalam menghasilkan karya-karyanya pada tahun 30-an.

Mereka semuanya dikenal juga dengan nama Angkatan Pujangga Baru Indonesia. Penyair-penyair yang menulis puisi pada tahun-tahun tersebut hanyalah segelintir golongan intelektual Indonesia yang beruntung dapat mengecap pendidikan Belanda.

Dalam buku-buku antologi tersebut, terdapat pula karya penyair Belanda dari Angkatan 80 yang merupakan pelopor aliran romantik dalam sastra Belanda, khususnya dalam bidang puisi.

Melalui buku-buku tersebut, para siswa mulai mengenal dan bahkan mempengaruhi pikiran, serta kekaguman mereka terhadap Angkatan 80 dan karyanya.

Dari sinilah kemudian berkembang kesadaran romantik dalam diri penyair Indonesia yang memang sesuai dengan gejolak jiwa muda para penyair Indonesia pada saat itu.

Terkait aliran romantisme ini, Teeuw (1980:34-43) menyatakan bahwa angkatan Pujangga Baru Indonesia menjadikan Angkatan 80 ini sebagai sumber inspirasi dalam menciptakan karya-karya mereka.

Tokoh-tokoh romantik dari Belanda seperti, Perk, Kloos, Van Deyssel, dan Van Eeden adalah dewa revolusioner yang semangat dan jiwanya dihidupkan kembali oleh penulis dari Angkatan Pujangga Baru Indonesia.

Selain itu, Teeuw (1980:43) juga memberikan contoh yang lebih nyata tentang bagaimana romantisisme dari Belanda ini telah mempengaruhi salah seorang penyair Angkatan Pujangga Baru Indonesia, yaitu J.E. Tatengkeng.

Contoh yang sangat baik tentang pengaruh itu dapat dilihat di dalam sebuah soneta yang dipersembahkannya kepada Willem Kloos (1938).

Kepekaan khas romantik adalah persepsi yang tajam tentang keindahan alami yang terwujud dalam pengalaman emosional dan imajinatif makna pribadi dirinya (Oemarjati,1990:2; Sunarti, 2016).

Dalam dunia seni, kepekaan khas romantik tersebut dinyatakan oleh Coleridge (1800) dengan semboyannya sebagai berikut: “poetry as the spontaneous overflow of powerfur feelings” dan kemudian menjadi semacam manifesto kaum romantik Inggris.

Bagi penganut aliran romantik, hal yang bersifat pribadi, individu, dan subjektif bukan lagi menjadi norma untuk suatu kepujanggaan yang otentik dan perintis kemurnian dalam berkarya.

Indah Patmawati adalah salah satu penyair yang karyanya bertebaran di grup-grup sastra maya (facebook).

Sebagai penulis puisi yang karyanya layak diperhitungkan dari sisi kualitas, ia selalu rendah hati dan  sering berlindung di balik “#edisinggombal” yang dicantumkan di mayoritas puisi-puisi ciptaannya.

Sebagai wanita penyair (beda artinya jika saya sebut ‘penyair wanita’) nada dan suasana puisinya cenderung lembut, romantic-melankolis. Mari kita awali menikmati puisi Indah Patmawati di bawah ini.

BALADA KARMO SALINEM

Malam purnama
Aku ingin memanggilmu kanda, kang
biar kita seperti ratu dan raja
lalu bercengkrama di singgasana
jika aku minta sesuatu
kau tinggal tepuk tiga kali
lalu datang para abdi 
membawa nampan 
tunduk dengan takzim
uhuiiii betapa indahnya

Aku ingin memanggilmu kanda, kang
seperti permaisuri aku bisa sedikit jumawa
membuat garis dengan rakyat jelata 
aku bisa tersenyum, jemarimu yang tambun
begitu sakti dan punya daya magis 
ahaiiii kanda, kita jadi penguasa

Aku juga ingin memanggilmu dinda, Nem
seperti ratu dan raja yang kau pinta
biar sekat istanaku semakin banyak
tempat selirku menyimpan cinta
benar kau bilang banyak mulut
menempel di sekujur tubuh
tak perlu berkata-kata 
semua telah maklum
ahaiii, Nem betapa nikmatnya

Madiun, 10.5.17

Puisi tersebut merupakan salah satu yang termuat dalam buku puisi tunggalnya berjudul Salinem di Lubang Sejarah (Sembilan Mutiara Publishing, 2016).

Romantisme puisi tersebut tercermin melalui dialog antara kanda (“kang”) dan dinda (“Nem”).

Dari dialog tersebut, begitu indahnya romantisme kanda dan dinda yang dikhayalkan/diimajinasikan Indah Patmawati. Di dalam puisi tersebut, romantisme dipusatkan melalui si “aku”. 

Dalam pandangan dunia romantik, “aku” selalu menjadi pusat; sehingga yang diutamakan  adalah perasaan, reaksi, dan persepsi.

Si aku (khusus bagi seniman), memberikan gambaran baru tentang dunia; ia menciptakan kembali dunia berdasarkan daya khayalnya.

Peniruan kenyataan diganti dengan pengungkapan pandangan diri sendiri. I describe what I imagine (aku menggambarkan apa yang aku khayalkan), demikian pernyataan penyair Inggris Keats (Luxemburg, 1989:166; Sunarti, 2016).

Menurut Noyes (dalam Mahayana, 1976; Sunarti, 2016), sedikitnya ada lima ciri yang muncul dari karya-karya romantisisme yakni: (1) kembali ke alam; (2) melankolisme; (3) primitivisme (4) sentimentalism; (5) individualisme dan eksotisme.

Sastra romantis ditandai dengan ciri ungkapan perasaan cinta, kasih, dan sayang. Ungkapan perasaan cinta, kasih, dan sayang sangat kita rasakan dalam puisi “Balada Karmo Salinem” tersebut; bahkan romantisme yang hadir begitu eksotis-melankolis dan kadang berasa sentimentil.

Tema cinta yang ia hadirkan dalam puisinya tidak tergelincir pada sifat puisi sentimentil yang mengabaikan konvensi puisi, melainkan ia mampu mengontrol diri dengan menghadirkan puisi-puisi yang kaya metafora, puisi-puisi yang kaya citraan.

Zick Rubin (1970) menjelaskan bahwa cinta yang romantis terdiri atas tiga unsur, yakni  keterikatan (attachment), kepedulian (caring), dan keintiman (intimacy).

Keterikatan itu merupakan kebutuhan untuk menerima perhatian dan kontak fisik dengan orang lain.

Kepedulian merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk menghargai dan memberikan kebahagiaan untuk orang lain.

Keintiman merupakan kebutuhan untuk berbagi pemikiran, keinginan dan perasaan dengan orang lain. 

Manifestasi cinta dan perasaan kerinduan dalam puisi-puisi Indah Patmawati dapat dikelompokkan menjadi (a) ungkapan jarak rindu yang menjurus pada kesepian; (b) kekuatan dan kekekalan rindu; (c) rindu adalah tindakan nyata; (d) rindu adalah pengejawantahan cinta yang memerlukan kerelaan (keikhlasan); dan (e) rindu itu mungkin saja sepihak.  Pemilahan tersebut mari kita deskripsikan satu persatu.

Pertama, persoalan jarak akan menyebabkan kerinduan yang bisa mengarah pada kesepian. Kerinduan seseorang yang disebabkan oleh jarak  dan konsekuensinya dapat menjurus pada kesepian.

Melalui puisi berjudul “Mendulang Rindu” Indah melukiskan kerinduan yang disebabkan oleh jarak antara si aku lirik dengan seseorang yang disapa “Mas”.

Bukti tentang adanya kedua belah pihak dipisahkan oleh jarak, yakni tersirat pada bait ke-5 baris ke-2: “penantian yang indah”.

Penghadiran diksi “penantian” dalam konteks keutuhan makna baris puisi itu secara implisit  kedua belah pihak tidak serumah (tidak berada di satu tempat); berarti keduanya dipisahkan oleh jarak dan terasa begitu lama tidak bertemu.

Hubungan cinta kasih yang dipisahkan oleh jarak dan jarang bertemu akan berdampak pada hadirnya kesepian.

Kesepian yang dimaksud adalah efek dari kerinduan yang berkepanjangan. Bukti tentang hadirnya kesepian ada pada bait ke-2: “//Mas,/Lihatlah aku di sini, /sekuat aku mencoba /menahan getirnya hati, sendiri//”. 

Kedua, hubungan cinta-kasih akan menumbuhkan kekuatan dan kekekalan rindu.

Cinta yang romantis salah satu cirinya menurut Zick Rubin (1970) yaitu keintiman (intimacy), keinginan dan perasaan terhadap orang lain, akan menumbuhkan kekuatan rindu.

Dalam puisi “Mendulang Rindu”, kekuatan rindu terlukiskan melalui bait ke-2 seperti kutipan berikut: “//Mas,/Lihatlah aku di sini, /…./rindu bukannya menjauh. /Tapi kian mendekat di sela dada. /Tidakkah engkau percaya?//”.

Baris “rindu bukannya menjauh / Tapi kian mendekat di sela dada” merupakan bukti kuat tentang kekuatan rindu.

Sedangkan kekekalan rindu termaktub dalam bait ke-5 kutipan: “rindu yang gundah /penantian yang indah /itu kau...”. 

Bukan kekasih namanya jika hatinya tidak pernah merasakan rindu. Ungkapan tersebut maknanya bisa dipersandingkan dengan mayoritas puisi Indah Patmawati.

Melalui puisi di atas, dari sisi judul secara eksplisit menyoal kerinduan. Kerinduan terhadap seseorang, yang disapa “Mas” dalam puisi tersebut dihadirkan secara mesra (romantic) penyair.

Ketiga, kerinduan itu memerlukan tindakan nyata. Tindakan nyata tersebut merupakan salah satu cara mengatasi rindu.

Pada puisi “Sunset Senja Impian”, Indah Patmawati di bait ke-2 menulis: “//Duhai kau bernama senja, bunga-bunga tak kan mekar tanpa sentuhanmu. /Kuntum hanyalah isyarat atas tiupan angin, jarak, dan hitungan waktu. /Kita sepasang mata yang mabuk keindahan. Lupa di mana jejak mengatakan//”.

Tindakan nyata yang diharapkan dalam puisi tersebut diwakili oleh “bunga-bunga tak kan mekar tanpa sentuhanmu”.

Penghadiran kata “sentuhan” tersebut cermin harapan adanya tindakan nyata untuk mengatasi rindu; dan sentuhan tersebut merupakan manifestasi indahnya cinta, manifestasi romantisme suatu hubungan.

Keempat, rindu adalah pengejawantahan cinta yang memerlukan kerelaan (keikhlasan). Kerelaan atau keikhlasan dalam cinta itu merupakan suatu “pengorbanan”.

Pengorbanan di sini bukan merupakan keterpaksaan yang mengarah pada kalkulasi untung-rugi tetapi karena didasari oleh rasa ikhlas tersebut.

Pada puisi “Sunset Senja Impian”, Indah Patmawati di bait ke-3 menulis: “//Andai benar, kau memilih tembaga pada senja ini, /aku rela menjadi api yang membakarmu berkali-kali. /Kemudian lebur mengabu, untuk kembali tumbuh menjadi tunas/ yang gemulai dengan cumbuan lebah berkali-kali. /Sengatan berkali-kali. Menetes menjelma madu.//”.

Kelima, kerinduan (mungkin) hadir sepihak. Dalam hubungan kedekatan antar manusia, kerinduan bisa jadi muncul sepihak. Perhatikan puisi Indah Patmawati berikut.

DIAM-DIAM

Din,
Aku jatuh cinta pada senyummu
senyum yang kucuri diam-diam 
dari tempatku berpijak 
membuatku damai sesaat
tak mengapa jika ini kukatakan
biar kau tahu 
aku tak lelah memikirkanmu 
sebab demikianlah adanya
aku tak bosan memikirkanmu

Din,
kau diam, aku pun paham
sebab kau memang tak pernah tahu
debar yang menggila menguasaiku
saat dekik pipimu menenggelamkan 
rindu yang tak tahu waktu

Biarkan saja aku begini
merinduimu diam-diam 
mencintaimu diam-diam 
bahkan 
mencemburuimu diam-diam 
hingga aku patah hati 
dan menulis ribuan puisi
berkali-kali

Aku tetap tak berhenti
meski kau tak pernah mengerti

Puisi berjudul “Diam-Diam” tersebut menyiratkan kerinduan yang terjadi sepihak. Kerinduan sepihak tersebut jika lama tidak mendapatkan respon dari pihak yang dirindukan bisa mengakibatkan fatal; atau bisa menyebabkan terjadinya patah hati.

Dalam konteks puisi tersebut, tampaknya pihak yang dirindukan tidak merasakan jika sedang dirindukan. Mengapa hal itu bisa terjadi? Kemungkinan disebabkan oleh (1) ketidakpekaan seseorang yang dirindukan, dan (2) tidak merasa kalau ada pihak yang merindukan. 

Imajinasi yang begitu mendera tentang kerinduan tersebut, hingga Indah Patmawati membayangkan seakan-akan bertemu dengan yang dirindukan seperti terlahir dalam puisi “Analogi” dengan kutipan berikut” “//Sungguh, aku melihat kau datang /bersama gerimis senja yang kelam/Senyummu menetes jatuh di ujung daun/Tatapanmu merintik menguliti paving//” (bait 1).

Pada bait ini tampaknya ada yang mengganggu asosiasi kita tentang penghadiran frase “menguliti paving”. Kata benda “paving” itu menggambarkan sesuatu yang keras, tegar; namun jika dihubungan dengan “kerinduan” yang menunjuk pada kelembutan seakan terjadi kontras.

Menciptakan puisi yang indah, romantic, dengan bahasa yang berbunga-bunga, kiranya perlu kehati-hatian.

Sebab sebagaimana yang dikhawatirkan oleh Indra Intisa bahwa yang dikedepankan soal penggunaan diksi yang puitis, mendayu-dayu, namun lupa pada aspek muatan yang berupa pesan (amanat) untuk pembaca. 

DAFTAR RUJUKAN

Luxemburg, Jan Van. Mieke Bal, dan Willem G. Westeijn. 1984. Pengantar Ilmu Sastra. Diterjemahkan  oleh Dick Hartoko. Jakarta: Gramedia.

Mahayana, Maman S. 1994. “Aliran Romantik”, Jakarta: Horison N0.6 th.XXVIII

Oemarjati, Boen S. 1990. “Romantisisme Dalam Sastra Indonesia”, Seminar Sastra Romantik;  Perkembangan dan Pengaruh Aliran Romantik di Berbagai Negara. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Patmawati, Indah. 2016. Salinem di Lubang Sejarah. Trenggalek: Sembilan Mutiara Publishing.

Rampan, Korie Layun. 1999. Aliran dan Jenis-Jenis Cerita Pendek. Jakarta: Balai Pustaka.

Rubin, Zick. 1970. Measurement of romantic love. Journal of Personality and Social Psychology

Sunarti, Sastri. 2016. “Romantisme Puisi-Puisi Indonesia dalam Majalah Pujangga Baru”. Dalam http://horison-online.com/kritik/32-romantisisme-puisi-puisi-indonesia-tahun-1935-1939-dalam-majalah-pujangga-baru.html. Diakses 22 Juli 2016.

Teeuw, A. 1980. Sastra Baru Indonesia. Ende –Flores:Nusa Indah.
×
Berita Terbaru Update